Ngelawang Kedas sendiri merupakan upaya penyadaran akan cinta tanah air khususnya dalam mencintai lingkungan. Apalagi selama ini sampah plastik masih menjadi momok yang menakutkan. Ditambahkan lagi kesadaran masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan yang masih perlu ditingkatkan lagi. Maka dari itu, kegiatan Ngelawang Kedas ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.
“Seperti namanya Ngelawang Kedas, Ngelawang itu akan dilakukan dengan berkeliling mengarak barong, kemudian masyarakat ‘Ngupah’ dengan memberikan uang. Kalau kami disini menggunakan barong yang hampir 100 persen terbuat dari bahan daur ulang berupa koran dan kardus. Kemudian masyarakat bisa ‘Ngupah’ dengan sampah plastik,” terang Ketut Gede Agus Adi Saputra selaku penggagas kegiatan Ngelawang Kedas tersebut.
Sampah plastik yang terkumpul akan didaur ulang menjadi berbagai macam bentuk kerajinan. Dan ada pula yang ditabung ke Bank Sampah. Disamping itu, Ngelawang Kedas dilakukan sebagai upaya menjaga tradisi Ngelawang dengan memberi dampak positif serta nilai edukasi kepada anak-anak.
“Karena ide ini juga muncul berdasarkan keresahan atas fenomena sampah yang kian hari kian mengkhawatirkan sehingga munculah kegiatan Ngelawang Kedas ini,” lanjut seniman muda yang akrab disapa Adi Siput tersebut.
Barong yang terbuat dari koran dan kardus itu merupakan ide yang muncul sejak tahun 2014 dan pertama kali dibentuk di Rumah Budaya Penggak Men Mersi Kesiman Denpasar. Diwujudkan oleh I Komang Marjana dan dimentori oleh I Kadek Wahyudita yang merupakan tokoh seniman asal Kesiman Denpasar serta merupakan mentor dari Adi Siput sendiri.
Dan untuk menyebarluaskan kesadaran masyarakat, pihaknya pun diberikan ruang untuk Ngelawang Kedas di daerah Tampaksiring sejak tahun 2020 lalu. Dimana daerah tersebut tidak lain merupakan daerah kelahiran Adi Siput.
Melalui Ngelawang Kedas ini, masyarakat dapat semakin sadar akan bahaya sampah plastik dan mulai merubah kebiasaan dalam menangani sampah. Tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi menggunaan sampah plastik.
Terakhir pihaknya melakukan Ngelawang Kedas pada Galungan bulan Juni lalu dengan melibatkan sekitar 20 orang anak-anak anggota sanggar dengan rute dimulai dari Banjar Mantring Tampaksiring, Banjar Kawan, Banjar Tengah, Banjar Tegal Suci, Banjar Griya, dan kembali ke titik awal. Adapun sampah yang terkumpul ada 2 kresek besar dan 2 karung sampah botol plastik. “Sampah-sampah itu merupakan hasil Ngupah di 6 rumah dan sisanya merupakan sampah plastik yang kita pungut dijalan disepanjang rute,” tandasnya. (BALI EXPRESS)