Dilansir dari Reuters (5/10), tiga sumber yang mengetahui kesepakatan tersebut mengatakan bahwa Grab telah membeli saham konglomerat Indonesia, yakni Lippo, yang mana telah meluncurkan OVO, dan platform e-commerce Tokopedia.
Menurut pengajuan peraturan yang diserahkan kepada pihak berwenang di Indonesia, dalam tahap pertama adalah melakukan restrukturisasinya, maka saham Grab yang berbasis di Singapura akan berkembang dari yang sebelumnya adalah 39% naik menjadi 90%.
“Kami menyambut baik komitmen yang lebih besar dari Grab di OVO. Kami bekerja dalam konsultasi yang erat dengan regulator untuk menyelesaikan proses restrukturisasi kepemilikan,” ungkap pihak OVO dalam sebuah pernyataan.
Sebelumnya, OVO merupakan salah satu e-wallet terbesar yang ada di Indonesia. Pada 2019 lalu, OVO bernilai US$ 2,9 miliar (setara dengan Rp 41,35 triliun, Rp14.262 per dolar AS). Aplikasi OVO juga telah diunduh sebanyak lebih dari 100 juta kali unduhan.
Sebuah penelitian Google, Termasek Ho;dings dan Bain & Company yang dilakukan pada tahun 2020, mendapatkan fakta bahwa ekonomi digital Indonesia yang sedang booming diperkirakan akan tumbuh menjadi US$ 124 miliar pada tahun 2025. Di sisi lain, setengah dari 270 juta penduduk negara Indonesia juga tidak memiliki rekening bank, tetapi sebagian besar sudah memiliki ponsel.
Tokopedia sedang menyelesaikan mergernya sendiri dengan saingan Grab, yakni Gojek, yakni dengan membentuk GoTo. Gojek pun mengoperasikan dompet digital mereka sendiri yang bernama GoPay.
Karena peraturan mengharuskan perusahaan Indonesia untuk memiliki saham hanya dalam satu dompet elektronik pada satu waktu, kesepakatan itu diharapkan membuka jalan bagi penggabungan GoTo.
"Transaksi ini telah direncanakan sejak beberapa waktu dan akan memungkinkan kami untuk terus fokus dalam memperdalam lebih jauh strategi market-leading dari GoPay," kata GoTo dalam sebuah pernyataan. Sementara itu, Grab dan Lippo sendiri menolak untuk memberikan komentar. (Reuters/des) Editor : Ali Mustofa