KUDUS - Bagi Generasi Z (Gen Z), Instagram bukan sekadar tempat berbagi foto dan video.
Media sosial ini juga menjadi ruang untuk membangun citra diri, berinteraksi dengan teman, hingga mengekspresikan perasaan.
Menariknya, tidak sedikit anak muda yang memilih memiliki lebih dari satu akun Instagram dengan fungsi yang berbeda.
Akun utama atau first account biasanya digunakan untuk menampilkan aktivitas sehari-hari yang lebih tertata.
Sementara itu, akun kedua atau second account cenderung dimanfaatkan untuk membagikan cerita yang lebih personal, mulai dari keluh kesah, foto acak, hingga momen sederhana bersama teman dekat.
Fenomena ini muncul seiring keinginan pengguna untuk memiliki ruang berekspresi yang lebih nyaman di tengah tuntutan menjaga citra diri di media sosial.
Sejumlah penelitian tentang penggunaan second account di kalangan Gen Z juga menunjukkan bahwa akun kedua dapat menjadi ruang untuk mengungkapkan diri secara lebih terbuka sekaligus mengatur batasan privasi.
Lantas, apa saja alasan Gen Z memiliki second account Instagram?
1. Lebih Bebas Berekspresi Tanpa Takut Diadili
Salah satu alasan Gen Z membuat second account adalah keinginan untuk mengekspresikan diri tanpa terlalu memikirkan penilaian orang lain.
Pada akun utama, penggunanya mungkin merasa perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum mengunggah sesuatu.
Apalagi jika pengikutnya terdiri dari keluarga, teman sekolah atau kuliah, rekan kerja, hingga kenalan yang tidak terlalu dekat.
Kondisi tersebut membuat sebagian orang lebih berhati-hati dalam memilih foto, menulis keterangan, atau membagikan cerita pribadi.
Berbeda dengan akun utama, second account biasanya memiliki lingkaran pengikut yang lebih terbatas.
Pengguna dapat membagikan sisi dirinya yang jarang terlihat di akun utama, termasuk humor receh, foto spontan, hingga pendapat tentang keseharian.
Dengan audiens yang lebih akrab, mereka bisa merasa lebih leluasa menjadi diri sendiri tanpa harus selalu menjaga tampilan akun agar terlihat sempurna.
2. Menjadi Tempat Curhat dan Berbagi Cerita Sehari-hari
Bagi sebagian Gen Z, second account juga berfungsi sebagai tempat mencurahkan perasaan.
Akun ini digunakan untuk membagikan pengalaman sehari-hari, menceritakan kejadian lucu, hingga mengungkapkan kekecewaan yang tidak ingin disampaikan secara terbuka kepada banyak orang.
Unggahan yang dibagikan pun tidak selalu harus menarik secara visual.
Foto makanan, potongan percakapan, suasana kamar, atau kumpulan gambar acak yang dikenal sebagai photo dump bisa menjadi bagian dari cerita keseharian.
Melalui akun kedua, pengguna dapat membagikan pengalaman yang terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka yang sebenarnya.
Meski begitu, berbagi cerita di media sosial tidak selalu bisa menggantikan komunikasi secara langsung.
Untuk persoalan yang cukup berat, berbicara dengan orang tepercaya tetap dapat membantu seseorang memperoleh dukungan yang lebih personal.
3. Menciptakan Ruang Aman di Media Sosial
Istilah safe space atau ruang aman kerap dikaitkan dengan penggunaan second account.
Dalam konteks ini, ruang aman berarti lingkungan sosial yang membuat seseorang merasa lebih nyaman untuk berbagi pikiran dan pengalaman tanpa terlalu khawatir terhadap tanggapan negatif.
Akun kedua biasanya diikuti oleh teman-teman yang sudah dikenal dekat.
Pemilik akun juga dapat memilih siapa saja yang diperbolehkan mengikuti akun tersebut.
Penelitian dalam Jurnal Ilmu Komunikasi yang terbit pada 2025, berjudul Penggunaan Second Account Instagram sebagai Ruang Aman untuk Presentasi Diri Gen Z,
menemukan bahwa akun kedua dapat memberikan kenyamanan psikologis dan memungkinkan penggunanya mengekspresikan diri secara lebih terbuka.
Namun, ruang aman tersebut tidak terbentuk hanya karena seseorang memiliki akun kedua.
Rasa nyaman juga bergantung pada kepercayaan, sikap para pengikut, dan kemampuan pengguna dalam menjaga batasan informasi pribadi.
4. Memisahkan Kehidupan Personal dan Citra di Ruang Publik
Alasan lain yang membuat second account diminati adalah keinginan memisahkan kehidupan personal dari citra yang ditampilkan kepada khalayak luas.
Akun utama sering dimanfaatkan untuk mengunggah foto terbaik, momen penting, kegiatan organisasi, perjalanan, atau pencapaian tertentu.
Bagi sebagian pengguna, akun ini bahkan berfungsi sebagai portofolio digital yang dapat dilihat oleh orang-orang dari berbagai lingkungan.
Sementara itu, akun kedua digunakan untuk berbagi hal-hal yang lebih santai dan tidak selalu sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan di akun utama.
Perbedaan tersebut bukan berarti seseorang bersikap palsu di salah satu akunnya.
Setiap orang dapat menunjukkan sisi diri yang berbeda sesuai dengan lingkungan dan hubungan sosial yang sedang dihadapi.
Dengan demikian, penggunaan dua akun menjadi salah satu cara untuk mengatur bagaimana seseorang ingin dikenal di ruang digital.
5. Mengikuti Minat dan Hobi yang Berbeda
Tidak semua second account digunakan untuk curhat atau membagikan kehidupan pribadi.
Sebagian pengguna justru membuat akun tambahan untuk mengikuti minat dan hobi tertentu.
Misalnya, akun utama digunakan untuk berinteraksi dengan teman-teman, sedangkan akun kedua dikhususkan untuk mengikuti perkembangan musik, film, mode, kuliner, olahraga, atau komunitas penggemar.
Ada pula pengguna yang memisahkan akun berdasarkan jenis konten yang ingin mereka unggah.
Dengan cara ini, mereka dapat mengelola unggahan sesuai dengan tujuan masing-masing akun.
Pemisahan tersebut juga membantu pengguna mengatur pengalaman menjelajah media sosial agar lebih sesuai dengan ketertarikan mereka.
6. Membatasi Audiens agar Lebih Nyaman Berbagi
Jumlah pengikut dan siapa saja yang dapat melihat unggahan menjadi pertimbangan tersendiri bagi pengguna second account.
Jika akun utama memiliki banyak pengikut dari berbagai lingkungan, akun kedua biasanya dibuat dengan audiens yang lebih selektif.
Sebagian pengguna bahkan mengaktifkan pengaturan akun privat agar permintaan mengikuti dapat ditinjau terlebih dahulu.
Dengan membatasi audiens, pengguna dapat menentukan kepada siapa cerita atau aktivitas tertentu ingin dibagikan.
Meski demikian, akun privat bukan jaminan bahwa semua unggahan akan tetap rahasia.
Pengikut masih dapat mengambil tangkapan layar atau meneruskan konten kepada orang lain.
Karena itu, informasi sensitif tetap perlu dijaga, termasuk ketika diunggah di akun yang hanya diikuti teman dekat.
7. Apakah Second Account Benar-Benar Aman untuk Privasi?
Di balik manfaatnya sebagai ruang ekspresi, penggunaan second account juga memiliki sejumlah hal yang perlu diperhatikan.
Pengguna terkadang merasa lebih aman membagikan informasi pribadi karena jumlah pengikutnya terbatas.
Padahal, unggahan di media sosial tetap berpotensi tersebar di luar lingkaran pertemanan yang diharapkan.
Selain itu, akun kedua tidak selalu membuat seseorang sepenuhnya anonim.
Nama pengguna, foto profil, daftar pengikut, maupun informasi lain yang dibagikan dapat memberikan petunjuk mengenai identitas pemilik akun.
Karena itu, penting untuk tetap mempertimbangkan isi unggahan sebelum membagikannya.
Hindari mengunggah data pribadi, lokasi secara langsung, atau cerita orang lain tanpa izin.
Pengguna juga dapat memanfaatkan pengaturan privasi yang tersedia di Instagram, meninjau daftar pengikut secara berkala, serta membatasi siapa saja yang dapat melihat Stories atau berinteraksi dengan akun.
Pada akhirnya, kenyamanan menggunakan akun kedua tetap perlu diimbangi dengan kesadaran terhadap jejak digital.
Second Account, Cara Gen Z Menemukan Ruang Ekspresi
Fenomena second account Instagram menunjukkan bahwa kebutuhan setiap orang dalam menggunakan media sosial tidak selalu sama.
Ada yang menjadikan akun utama sebagai tempat membangun citra diri, ada pula yang menggunakan akun kedua untuk berbagi cerita dengan lingkaran pertemanan yang lebih dekat.
Selama digunakan secara bijak, akun kedua dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, mengikuti minat, dan menjaga batasan sosial di dunia digital.
Namun, memiliki lebih dari satu akun bukan berarti seseorang harus membagi dirinya menjadi dua sosok yang berbeda.
Baik di akun utama maupun akun kedua, pengguna tetap dapat menjadi dirinya sendiri sambil menyesuaikan informasi yang ingin dibagikan kepada setiap audiens.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah berapa banyak akun yang dimiliki, melainkan bagaimana media sosial digunakan secara sehat, nyaman, dan bertanggung jawab.
Editor : Ali Mustofa