RADAR KUDUS – Memberikan ponsel kepada anak saat menangis kerap menjadi cara praktis bagi orang tua untuk menenangkan suasana.
Video kartun, permainan, atau tontonan menarik memang dapat mengalihkan perhatian anak dalam waktu singkat.
Namun, jika terus dilakukan, kebiasaan ini perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi cara anak belajar mengelola emosi dan membentuk kebiasaan penggunaan gawai.
Pada masa pertumbuhan, anak masih belajar mengenali perasaan seperti sedih, kecewa, marah, dan bosan.
Mereka juga membutuhkan pendampingan untuk memahami cara mengekspresikan emosi dengan tepat.
Ketika ponsel selalu diberikan setiap kali anak menangis, anak berpotensi terbiasa mengandalkan layar untuk menenangkan diri.
Baca Juga: NCT WISH Siap Gelar Konser Solo Pertama di Gocheok Sky Dome, Jakarta Masuk Tur World Tour
Dampak yang Perlu Diwaspadai
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua ketika anak terlalu sering diberi ponsel untuk menghentikan tangisan.
-
Kesulitan mengelola emosi: Anak bisa terbiasa mencari hiburan dari layar ketika merasa tidak nyaman, sehingga kesempatan berlatih menenangkan diri dengan bantuan orang tua menjadi berkurang.
-
Waktu bermain dan bergerak berkurang: Penggunaan ponsel yang berlebihan dapat mengambil waktu untuk bermain aktif, berinteraksi dengan keluarga, dan mengeksplorasi lingkungan.
-
Kesempatan belajar bahasa berkurang: Anak membutuhkan interaksi dua arah, seperti mengobrol, bertanya, dan mendengarkan respons orang lain. Jika waktu tersebut banyak tergantikan oleh layar, kesempatan berlatih komunikasi bisa berkurang.
-
Pola tidur terganggu: Penggunaan ponsel menjelang waktu tidur, terutama jika berlangsung lama atau melibatkan tontonan yang merangsang, dapat membuat rutinitas tidur anak menjadi kurang teratur.
Meski demikian, dampaknya tidak selalu sama pada setiap anak.
Usia, durasi penggunaan, jenis konten, serta pendampingan orang tua turut memengaruhi pengalaman anak saat menggunakan gawai.
Cara Menenangkan Anak Tanpa Selalu Memberikan HP
Orang tua tidak harus langsung melarang seluruh penggunaan ponsel.
Hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan yang sehat dan membantu anak memahami emosinya.
-
Kenali penyebab tangisan: Periksa apakah anak merasa lapar, mengantuk, lelah, kesakitan, atau sedang menginginkan sesuatu.
-
Dampingi dan tenangkan anak: Berbicara dengan suara lembut, memeluk jika anak nyaman, atau berada di dekatnya dapat membantu anak merasa aman.
-
Ajak melakukan kegiatan lain: Tawarkan buku bergambar, mainan, menggambar, bernyanyi, atau permainan sederhana sesuai usianya.
-
Buat aturan penggunaan layar: Tentukan waktu dan situasi yang diperbolehkan untuk menggunakan ponsel. Hindari menjadikan gawai sebagai satu-satunya cara untuk menghentikan tangisan.
-
Berikan contoh yang baik: Orang tua juga perlu menunjukkan kebiasaan menggunakan ponsel secara bijak, terutama ketika sedang berinteraksi dengan anak.
Untuk anak usia di bawah dua tahun, penggunaan layar sebaiknya sangat dibatasi dan mengutamakan interaksi langsung, dengan pengecualian seperti panggilan video bersama pendampingan orang dewasa.
Pada anak yang lebih besar, waktu layar perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan, dan keseimbangan aktivitas sehari-hari.
Memberikan ponsel sesekali bukan berarti orang tua melakukan kesalahan.
Namun, jika gawai selalu menjadi pilihan pertama setiap kali anak menangis, kebiasaan tersebut sebaiknya mulai dievaluasi.
Pendampingan, komunikasi, dan rutinitas yang konsisten membantu anak belajar menghadapi emosi sekaligus membangun hubungan yang lebih baik dengan orang tua.
Editor : Ali Mustofa