Mengenal Puasa Weton dalam Tradisi Jawa, Manfaat, Risiko, dan Cara Menjalankannya

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 07:35 WIB
Ilustrasi puasa.
Ilustrasi puasa.

RADAR KUDUS - Puasa weton merupakan salah satu tradisi yang masih dikenal di kalangan masyarakat Jawa.

Praktik ini biasanya dilakukan pada hari kelahiran seseorang berdasarkan perhitungan kalender Jawa, yang berkaitan dengan kombinasi hari dan pasaran seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, puasa weton tidak sekadar berkaitan dengan menahan makan dan minum. Praktik tersebut juga memiliki dimensi spiritual.

Sebagian orang menjalaninya sebagai bentuk introspeksi, pengendalian diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, atau memanjatkan doa dengan harapan memperoleh ketenteraman dan keberkahan.

Keyakinan mengenai puasa weton sebagai sarana memperoleh keberuntungan, kelancaran rezeki, atau terhindar dari kesialan merupakan bagian dari kepercayaan dan tradisi.

Klaim tersebut tidak dapat disamakan dengan manfaat medis yang telah dibuktikan melalui penelitian.

Meski demikian, aktivitas berpuasa memang telah banyak diteliti dalam dunia kesehatan.

Pola intermittent fasting atau puasa berkala menunjukkan sejumlah potensi manfaat, terutama berkaitan dengan berat badan dan beberapa indikator metabolik. 

Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus membuktikan manfaat kesehatan dari puasa weton sebagai tradisi Jawa.

Karena itu, penting membedakan antara manfaat spiritual yang diyakini dalam tradisi dan dampak fisiologis yang diteliti dalam ilmu kedokteran.

Saat seseorang tidak mengonsumsi makanan selama beberapa waktu, tubuh akan mengalami perubahan dalam penggunaan sumber energi.

Setelah energi dari makanan mulai berkurang, tubuh secara bertahap menggunakan cadangan energi yang tersimpan. 

Proses metabolik ini merupakan bagian normal dari respons tubuh terhadap kondisi puasa.

Penelitian mengenai intermittent fasting pada manusia menunjukkan bahwa pola makan dengan pembatasan waktu atau periode puasa tertentu berpotensi membantu menurunkan berat badan dan memperbaiki sejumlah indikator metabolik pada sebagian orang.

Beberapa penelitian juga menemukan perubahan pada kadar insulin, lemak darah, dan ukuran lingkar pinggang. 

Namun, hasil penelitian tidak selalu seragam dan kualitas bukti untuk sejumlah manfaat masih bervariasi.

Dengan demikian, puasa weton tidak tepat jika langsung disebut sebagai metode untuk mengobati penyakit.

Jika seseorang memperoleh manfaat kesehatan dari praktik tersebut, manfaatnya lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan dampak dari pola pembatasan asupan makanan, bukan karena adanya bukti medis khusus mengenai ritual puasa weton.

Salah satu kemungkinan dampak puasa adalah perubahan metabolisme energi. Ketika asupan makanan dihentikan dalam periode tertentu, kadar insulin dan ketersediaan glukosa dapat berubah.

Tubuh kemudian meningkatkan pemanfaatan cadangan energi, termasuk lemak.

Perubahan tersebut menjadi salah satu alasan intermittent fasting banyak diteliti dalam kaitannya dengan pengelolaan berat badan dan kesehatan metabolik.

Sebuah umbrella review terhadap berbagai meta-analisis uji terkontrol secara acak menemukan bahwa intermittent fasting pada orang dewasa dengan kelebihan berat badan atau obesitas dapat memberikan penurunan pada beberapa parameter seperti lingkar pinggang, massa lemak, insulin puasa, kolesterol LDL, kolesterol total, dan trigliserida dibandingkan pola tanpa intervensi.

Namun, hasil tersebut tidak berarti semakin lama seseorang berpuasa maka semakin besar manfaat kesehatannya.

Pola, durasi, asupan makanan setelah berpuasa, kondisi tubuh, serta tujuan seseorang menjalankan puasa turut menentukan dampaknya.

Puasa juga sering dikaitkan dengan autofagi, yaitu proses biologis ketika sel memecah dan mendaur ulang komponen tertentu yang sudah tidak diperlukan atau mengalami kerusakan.

Penelitian menunjukkan bahwa pembatasan kalori dan intermittent fasting dapat memengaruhi jalur biologis yang berhubungan dengan autofagi.

Meski demikian, klaim bahwa puasa weton selama 16 atau 24 jam secara otomatis mengaktifkan autofagi pada tingkat tertentu lalu "membersihkan racun" atau mencegah kanker masih terlalu sederhana.

Bukti mengenai waktu dan tingkat aktivasi autofagi pada manusia belum cukup untuk digunakan sebagai dasar membuat klaim tersebut secara pasti. 

Sejumlah penelitian bahkan menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan antara pola puasa, autofagi, dan jaringan tubuh yang berbeda.

Hal serupa berlaku pada klaim mengenai kesehatan otak dan ketenangan mental. Penelitian mengenai intermittent fasting dan fungsi kognitif masih berkembang.

Salah satu tinjauan sistematis telah meneliti hubungan pembatasan kalori dan intermittent fasting dengan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor atau BDNF pada manusia, tetapi bukti yang ada belum cukup untuk menyimpulkan bahwa puasa weton pasti meningkatkan BDNF dan secara langsung mencegah depresi atau gangguan kecemasan.

Meski begitu, ada alasan mengapa sebagian orang merasa lebih tenang ketika menjalankan puasa.

Aktivitas spiritual yang dilakukan dengan kesadaran, rutinitas refleksi diri, serta kemampuan mengendalikan keinginan makan dapat memberikan pengalaman psikologis tertentu. 

Dalam konteks tradisi, makna spiritual dan kedisiplinan tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman batin seseorang.

Pengalaman tersebut tentu bersifat individual dan tidak dapat dijadikan pengganti diagnosis atau penanganan gangguan kesehatan mental.

Selain potensi manfaat, aspek keamanan juga perlu menjadi perhatian. Puasa dapat menimbulkan rasa lapar, lemas, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, atau dehidrasi, terutama jika seseorang tidak mencukupi kebutuhan cairan ketika masih diperbolehkan minum.

Risikonya dapat menjadi lebih serius pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Pada penderita diabetes, misalnya, perubahan pola makan dan puasa dapat meningkatkan risiko hipoglikemia atau gula darah terlalu rendah. 

Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah hiperglikemia dan dehidrasi, terutama pada orang yang menggunakan obat tertentu.

Orang dengan diabetes, khususnya yang menggunakan insulin atau obat yang dapat menurunkan gula darah, sebaiknya tidak mengubah pola makan atau menjalankan puasa panjang tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.

Kelompok lain yang perlu berhati-hati adalah ibu hamil. Penelitian intermittent fasting pada kehamilan masih terbatas, sehingga pola puasa seperti ini tidak sebaiknya dilakukan tanpa pertimbangan medis.

Orang dengan riwayat gangguan makan juga perlu mendapatkan pertimbangan khusus sebelum menjalankan pola pembatasan makan.

Bagi orang yang sehat dan ingin menjalankan puasa weton sebagai bagian dari tradisi, persiapan tetap penting.

Ketika memasuki waktu makan, pilih makanan dengan kandungan gizi yang seimbang dan jangan menjadikan waktu berbuka sebagai kesempatan untuk makan berlebihan.

Karbohidrat, protein, sayuran, buah, dan sumber lemak sehat dapat dikombinasikan dalam menu sehari-hari. Asupan cairan juga perlu diperhatikan agar tubuh tidak mengalami kekurangan cairan.

Tidak kalah penting, jangan memaksakan diri jika kondisi tubuh menunjukkan tanda bahaya.

Pusing berat, hampir pingsan, kebingungan, tubuh sangat lemah, jantung berdebar tidak biasa, muntah terus-menerus, atau gejala lain yang mengkhawatirkan merupakan alasan untuk menghentikan puasa dan mencari pertolongan medis.

Pada penderita diabetes, gejala seperti gemetar, berkeringat, lemas, kebingungan, atau gangguan penglihatan juga perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan kadar gula darah yang terlalu rendah.

Jika seseorang mengalami keluhan kesehatan setelah menjalankan puasa, konsultasi dengan dokter menjadi langkah yang lebih tepat daripada melanjutkan puasa dengan harapan tubuh akan beradaptasi sendiri.

Pada akhirnya, puasa weton dapat dipahami dari dua sisi yang berbeda. Dari sisi budaya, tradisi ini memiliki nilai spiritual dan menjadi bagian dari warisan masyarakat Jawa.

Dari sisi kesehatan, aktivitas berpuasa memang dapat menimbulkan perubahan fisiologis yang sedang banyak diteliti dalam ilmu kedokteran.

Namun, keduanya tidak boleh dicampuradukkan. Keyakinan bahwa puasa weton membawa keberuntungan, ketenangan batin, atau kelancaran rezeki berada dalam ranah kepercayaan dan pengalaman spiritual.

Sementara itu, manfaat kesehatan harus dinilai berdasarkan bukti ilmiah mengenai pola puasa dan kondisi individu.

Penelitian sejauh ini menunjukkan intermittent fasting berpotensi memberikan sejumlah manfaat metabolik, tetapi belum ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa puasa weton secara khusus dapat menyembuhkan penyakit, mencegah kanker, meningkatkan hormon tertentu secara pasti, atau menjamin kesehatan seseorang.

Karena itu, jika ingin menjalankan puasa weton, jadikan aspek spiritual dan pengendalian diri sebagai bagian utama dari tradisi tersebut.

Sementara dari sisi kesehatan, lakukan dengan memperhatikan kondisi tubuh, kebutuhan nutrisi, kecukupan cairan, serta kondisi medis yang dimiliki.

Dengan pendekatan tersebut, tradisi dapat tetap dijalankan tanpa mengabaikan prinsip keselamatan dan bukti medis yang tersedia.

Editor : Mahendra Aditya
puasa weton manfaat puasa weton puasa tradisi Jawa puasa dan kesehatan Intermittent fasting