RADAR KUDUS - Kebiasaan langsung berbaring atau tidur setelah makan malam sebaiknya dihindari. Dokter menyarankan agar seseorang memberikan jeda sekitar tiga jam antara waktu makan dan tidur, terutama bagi mereka yang sering mengalami kenaikan asam lambung atau gangguan pencernaan pada malam hari.
Kebiasaan tersebut bukan berarti secara langsung menyebabkan serangan jantung. Namun, waktu makan yang terlalu dekat dengan jam tidur dapat memicu refluks asam lambung, mengganggu kenyamanan saat beristirahat, serta berkaitan dengan pola hidup yang berpengaruh terhadap kesehatan metabolisme dan jantung dalam jangka panjang.
Spesialis jantung di Narayana Hospital, Jaipur, India, dr. Devendra Kr Shrimal, menjelaskan bahwa tidur segera setelah makan malam umumnya tidak secara langsung menimbulkan masalah jantung. Meski demikian, kebiasaan makan larut malam yang disertai pola tidur tidak teratur perlu diperhatikan.
Baca Juga: Kurang Tidur Bikin Susah Mengingat? Studi Ungkap Manfaat Olahraga 20 Menit
Menurutnya, pengaruh terhadap kesehatan tidak hanya ditentukan oleh satu kali makan malam yang terlambat. Pola makan, kualitas tidur, aktivitas fisik, dan keteraturan rutinitas sehari-hari juga berperan dalam menjaga kesehatan tubuh.
Salah satu masalah yang paling mudah muncul ketika seseorang langsung berbaring setelah makan adalah refluks asam lambung. Kondisi ini terjadi ketika isi lambung, termasuk asam lambung, mengalir kembali ke kerongkongan.
Saat tubuh berada dalam posisi tegak, gravitasi membantu menjaga isi lambung tetap berada di bawah. Namun, ketika seseorang berbaring tidak lama setelah makan, mekanisme tersebut tidak lagi bekerja dengan cara yang sama sehingga isi lambung lebih mudah naik ke kerongkongan.
Baca Juga: 5 Makanan yang Bikin Kenyang dan Cocok untuk Menu Diet di Malam Hari
Risiko ketidaknyamanan ini dapat meningkat setelah mengonsumsi makanan dalam porsi besar atau makanan yang tinggi lemak. Makanan pedas juga dapat memicu gejala pada sebagian orang.
Gejala refluks dapat berupa sensasi panas di dada atau mulas, rasa asam di mulut, batuk, hingga gangguan tidur. Keluhan tersebut lebih mungkin dialami oleh orang yang sebelumnya sudah memiliki masalah asam lambung atau penyakit refluks gastroesofageal (GERD).
Karena itu, mengatur jarak antara makan malam dan waktu tidur menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi keluhan tersebut.
Kebiasaan Makan Larut Malam Juga Perlu Diperhatikan
Selain berkaitan dengan pencernaan, waktu makan dan pola tidur juga menjadi perhatian dalam pembahasan kesehatan kardiovaskular.
Dr. Shrimal menjelaskan bahwa jadwal makan yang terlalu larut, tidur yang tidak berkualitas, dan rutinitas harian yang berantakan dapat berkaitan dengan sejumlah faktor risiko metabolik apabila berlangsung terus-menerus.
Faktor tersebut antara lain obesitas, gangguan sensitivitas insulin, dan tekanan darah tinggi. Kondisi-kondisi tersebut diketahui berhubungan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah.
American Heart Association juga menyoroti hubungan antara keteraturan pola tidur dan makan dengan kesehatan kardiometabolik. Meski demikian, hubungan tersebut tidak berarti waktu makan larut malam dengan sendirinya pasti menyebabkan penyakit jantung. Para peneliti masih mengkaji seberapa besar pengaruh waktu makan terhadap risiko kardiovaskular dalam jangka panjang.
Dengan demikian, menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya dengan menghindari tidur setelah makan. Kebiasaan makan seimbang, olahraga teratur, tidur yang memadai, serta jadwal aktivitas yang konsisten tetap menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat.
Baca Juga: Sering Susah BAB di Pagi Hari? Coba 6 Rutinitas Ini Sebelum Tidur
Makan Berat Menjelang Tidur Bisa Mengganggu Kualitas Istirahat
Hubungan antara makan dan tidur juga berlangsung dua arah. Makanan yang dikonsumsi menjelang tidur dapat memengaruhi kenyamanan tubuh selama beristirahat. Sebaliknya, tidur yang tidak cukup dapat memengaruhi nafsu makan, pilihan makanan, dan kesehatan metabolisme.
Makan dalam porsi besar menjelang tidur dapat membuat perut terasa penuh dan meningkatkan kemungkinan munculnya keluhan pencernaan. Jika kondisi tersebut terjadi berulang kali, seseorang mungkin lebih sulit mendapatkan tidur yang nyaman.
Karena itu, memperhatikan porsi dan komposisi makanan saat makan malam juga penting. Makanan yang lebih ringan dapat menjadi pilihan bagi orang yang kerap mengalami gangguan pencernaan pada malam hari.
Bukan berarti setiap orang yang makan malam terlambat akan mengalami masalah kesehatan. Dampaknya dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi tubuh, jenis makanan, jumlah yang dikonsumsi, serta kebiasaan sehari-hari.
Namun, menjadikan makan malam berat sebagai kebiasaan tepat sebelum tidur bukan pilihan yang ideal, terutama bagi orang yang memiliki riwayat refluks asam lambung.
Berapa Lama Jeda Ideal antara Makan Malam dan Tidur?
Dr. Shrimal menyarankan agar makan malam dilakukan setidaknya tiga jam sebelum waktu tidur. Jeda ini terutama penting bagi orang yang rentan mengalami refluks asam lambung atau gangguan pencernaan.
Sebagai contoh, jika seseorang berencana tidur pukul 22.00, makan malam dapat dijadwalkan sekitar pukul 19.00 atau lebih awal. Dengan demikian, tubuh memiliki waktu sebelum berada dalam posisi berbaring.
Selain mengatur waktu, ada beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan untuk mendukung kenyamanan tidur:
-
Hindari makan dalam porsi besar menjelang tidur. Porsi yang lebih terkendali dapat membantu mengurangi rasa terlalu kenyang.
-
Perhatikan makanan pemicu refluks. Makanan tinggi lemak atau pedas dapat memicu keluhan pada sebagian orang.
-
Jaga jadwal makan dan tidur. Rutinitas yang lebih konsisten membantu membentuk pola hidup yang teratur.
-
Tetap aktif secara fisik. Olahraga teratur merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan metabolisme dan jantung.
-
Utamakan pola makan seimbang. Perhatikan variasi makanan dan kebutuhan nutrisi tubuh secara keseluruhan.
Bagi orang yang memiliki GERD atau keluhan refluks berulang, pengaturan waktu makan dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu mengurangi gejala. Jika keluhan terus muncul atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.
Waspadai Nyeri Dada yang Dikira Gangguan Pencernaan
Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah membedakan keluhan pencernaan dengan kemungkinan gejala serangan jantung.
Rasa tidak nyaman setelah makan besar memang dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan. Namun, nyeri dada tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat asam lambung, terlebih jika disertai gejala lain.
Tanda bahaya yang perlu diwaspadai meliputi nyeri atau tekanan di dada, keringat dingin, mual, serta rasa sakit yang menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang.
Jika gejala tersebut muncul, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunda pemeriksaan hanya karena keluhan terasa seperti mulas atau gangguan pencernaan.
Pada akhirnya, memberikan jeda sekitar tiga jam antara makan malam dan tidur merupakan langkah yang dapat membantu mengurangi refluks asam lambung, khususnya pada orang yang rentan mengalaminya. Sementara untuk menjaga kesehatan jantung, perhatian perlu diberikan pada pola hidup secara keseluruhan, mulai dari pilihan makanan dan aktivitas fisik hingga kualitas serta keteraturan tidur.
Editor : Mahendra Aditya