RADAR KUDUS - “Panggil aku kak aja, jangan Mbak.”
Kalimat seperti ini mungkin pernah kita dengar. Sekilas terdengar seperti persoalan sapaan biasa.
Namun, kalau dipikir lebih jauh, mengapa seseorang bisa merasa tidak nyaman hanya karena dipanggil “Mbak”?
Di Indonesia, terutama di Jawa, “Mbak” merupakan panggilan yang sangat umum untuk perempuan yang lebih tua atau sebaya.
Sapaan ini terdengar sopan dan akrab. Tetapi bagi sebagian orang, kata “Mbak” memiliki asosiasi lain.
Pekerja rumah tangga.
Kita sering mendengar seseorang menyebut perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan panggilan “Mbak”.
Akibatnya, dalam konteks tertentu, kata tersebut tidak lagi sekadar menunjukkan usia atau kesopanan, tetapi juga bisa membawa bayangan tentang pekerjaan dan posisi sosial seseorang.
Di sinilah sebuah sapaan sederhana menjadi menarik.
Bahasa ternyata tidak pernah sepenuhnya netral.
Sebuah kata dapat memiliki makna yang berbeda tergantung siapa yang mengucapkannya, kepada siapa kata itu ditujukan, dan dalam situasi apa kata tersebut digunakan.
Bagi seseorang yang sejak kecil terbiasa menggunakan “Mbak” kepada kakak perempuan atau perempuan yang lebih tua, sapaan tersebut mungkin terasa sangat biasa.
Namun bagi orang lain, terutama yang tumbuh dalam lingkungan dengan penggunaan “Mbak” yang kuat sebagai panggilan kepada pekerja domestik, kata tersebut dapat memiliki konotasi berbeda.
Masalahnya bukan pada kata “Mbak” itu sendiri.
Masalahnya ada pada makna sosial yang menempel di belakangnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa juga dapat merefleksikan struktur sosial.
Panggilan seperti “Mbak”, “Mas”, “Pak”, “Bu”, “Kak”, bahkan “Dek” bukan hanya persoalan usia.
Dalam praktiknya, sapaan dapat menjadi cara kita menempatkan seseorang dalam hubungan sosial tertentu.
Menariknya, makna tersebut bisa berubah seiring tempat dan lingkungan.
Di Yogyakarta atau Jawa Tengah, “Mbak” bisa terdengar sangat natural dan justru menunjukkan kesopanan.
Sementara di lingkungan lain, seseorang mungkin lebih nyaman dipanggil “Kak” karena merasa sapaan tersebut lebih netral atau tidak membawa asosiasi pekerjaan tertentu.
Jadi, ketika seseorang berkata, “Jangan panggil aku Mbak,” mungkin ia bukan sedang membenci sebuah kata.
Ia sedang menunjukkan bahwa sebuah panggilan memiliki makna yang berbeda baginya.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu lebih berhati-hati dalam menggunakan sapaan.
Bukan karena kata “Mbak” itu salah, tetapi karena orang yang kita panggil memiliki pengalaman dan cara sendiri dalam memaknai sebuah kata.
Sebab terkadang, satu kata yang bagi kita terdengar biasa, bagi orang lain bisa membawa cerita sosial yang jauh lebih panjang.
Editor : Ali Mustofa