Mengapa Bahasa Jawa Punya Banyak Tingkatan Kesopanan?

uinbroadcasting • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:05 WIB
kenapa ada tingkatan  bahasa jawa (pexel)
kenapa ada tingkatan bahasa jawa (pexel)

RADAR KUDUS - Bagi orang yang tidak terbiasa dengan bahasa Jawa, satu hal yang mungkin paling membingungkan adalah ketika satu kata bisa memiliki beberapa bentuk berbeda hanya karena siapa yang diajak bicara.

Misalnya, kata “makan”.

Kepada teman sebaya, seseorang bisa mengatakan:

“Kowe wis mangan?”

Kepada orang yang lebih tua, bentuknya bisa berubah:

“Sampeyan sampun nedha?”

Kepada orang yang dianggap sangat dihormati, pilihan katanya bisa menjadi lebih halus lagi.

Bagi penutur bahasa Jawa, perbedaan tersebut bukan sekadar persoalan kosakata.

Cara berbicara menunjukkan bagaimana seseorang menempatkan dirinya terhadap lawan bicara.

Lalu, mengapa bahasa Jawa berkembang dengan sistem kesopanan yang begitu kompleks?

Bahasa yang Tidak Hanya Menyampaikan Pesan Bahasa pada dasarnya digunakan untuk menyampaikan informasi.

Namun dalam masyarakat Jawa, bahasa juga berfungsi untuk mengatur hubungan sosial.

Ketika berbicara dengan teman sebaya, kita tidak perlu terlalu memikirkan jarak sosial. Bahasa yang digunakan bisa lebih santai dan spontan.

Tetapi ketika berbicara dengan orang tua, guru, atau seseorang yang memiliki kedudukan tertentu, pilihan kata berubah.

Kita tidak hanya mempertimbangkan apa yang ingin dikatakan, tetapi juga bagaimana cara mengatakannya.

Karena itu, dalam bahasa Jawa terdapat tingkatan seperti ngoko, madya, dan krama, dengan variasi penggunaan yang berkembang dalam praktik sehari-hari.

Secara sederhana, ngoko lebih dekat dengan percakapan informal, sedangkan krama digunakan untuk menunjukkan penghormatan.

Sementara madya berada di antara keduanya, meskipun penggunaannya dalam kehidupan modern semakin beragam.

Kenapa Harus Ada Tingkatan?

Salah satu jawabannya berkaitan dengan cara masyarakat Jawa memandang hubungan sosial.

Dalam budaya Jawa, usia, kedekatan, status, dan situasi percakapan dapat memengaruhi cara seseorang berbicara.

Bayangkan seorang mahasiswa berbicara kepada dosennya.

Secara isi, ia mungkin ingin mengatakan hal sederhana:

“Besok kelasnya jadi, Pak?”

Namun, cara menyampaikannya tidak akan sama seperti ketika bertanya kepada teman:

“Besok jadi kelas nggak?”

Keduanya memiliki maksud yang sama.

Yang berbeda adalah hubungan antara orang yang berbicara.

Bahasa kemudian menjadi semacam penanda jarak sosial.

Pilihan kata menunjukkan bahwa seseorang memahami posisi lawan bicaranya dan berusaha menunjukkan rasa hormat.

Bukan Berarti Orang Jawa Selalu Formal

Menariknya, keberadaan tingkatan bahasa bukan berarti orang Jawa selalu berbicara menggunakan bahasa yang sangat halus.

Justru kemampuan berbahasa terletak pada kemampuan menyesuaikan diri.

Dengan teman dekat, penggunaan ngoko bisa menunjukkan keakraban.

Misalnya:

“Kowe arep neng endi?”

Kalimat tersebut bukan berarti kasar dalam konteks pertemanan.

Namun jika kalimat yang sama ditujukan kepada orang yang lebih tua dan tidak dekat, penggunaannya bisa dianggap kurang sopan.

Artinya, kata yang sama dapat memiliki nilai sosial berbeda tergantung siapa yang mengucapkannya kepada siapa.

Bahasa sebagai Cara Menjaga Perasaan

Tingkatan bahasa juga berkaitan dengan kecenderungan masyarakat Jawa untuk menjaga hubungan sosial.

Daripada berbicara terlalu langsung, seseorang dapat memilih bentuk bahasa yang lebih halus agar tidak terdengar kasar.

Hal ini sejalan dengan konsep kesopanan dalam budaya Jawa yang sering dikaitkan dengan upaya menjaga keharmonisan hubungan.

Misalnya, seseorang tidak hanya belajar bahwa “makan” adalah mangan.

Ia juga belajar bahwa kepada siapa kata itu diucapkan akan menentukan apakah mangan, nedha, atau bentuk lainnya terasa tepat.

Dengan begitu, anak-anak sebenarnya tidak hanya belajar bahasa.

Mereka juga belajar membaca situasi sosial.

Tetapi Generasi Sekarang Mulai Berubah

Persoalannya, apakah sistem seperti ini masih bertahan?

Jawabannya: iya, tetapi penggunaannya mengalami perubahan.

Generasi muda Jawa sekarang tumbuh dalam lingkungan yang jauh lebih beragam. Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama di sekolah, media sosial, pendidikan, dan dunia profesional.

Di sisi lain, penggunaan bahasa Jawa juga semakin sering bercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing.

Percakapan yang dahulu mungkin menggunakan krama secara penuh kini bisa berubah menjadi campuran:

“Pak, nanti njenengan jadi datang nggak?”

Atau:

“Mbak, njenengan udah makan belum?”

Bentuk seperti ini menunjukkan bahwa bahasa terus beradaptasi.

Anak muda mungkin tidak lagi menguasai seluruh kosakata krama seperti generasi sebelumnya, tetapi mereka masih mempertahankan sebagian bentuk sapaan dan ungkapan yang dianggap penting untuk menunjukkan rasa hormat.

Ketika Bahasa Menjadi Identitas

Menariknya, semakin banyak anak muda yang mulai melihat bahasa daerah bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas.

Menggunakan bahasa Jawa dapat menjadi cara menunjukkan asal daerah, kedekatan dengan keluarga, atau hubungan dengan budaya tertentu.

Di media sosial pun, bahasa Jawa sering muncul dalam bentuk yang lebih santai dan kreatif. Kata-kata Jawa bercampur dengan bahasa Indonesia, slang, bahkan istilah internet.

Ini menunjukkan bahwa bahasa tidak harus tetap persis seperti bentuk masa lalu agar bisa bertahan.

Bahasa bisa berubah.

Yang penting adalah nilai yang dibawanya tetap dipahami.

Jadi, Apakah Tingkatan Bahasa Jawa Akan Hilang?

Belum tentu.

Mungkin yang akan berubah bukan keberadaannya, melainkan cara penggunaannya.

Generasi sebelumnya mungkin terbiasa menggunakan krama dalam percakapan sehari-hari.

Generasi sekarang mungkin hanya menggunakannya ketika berbicara dengan orang yang sangat dihormati, sementara dalam situasi lain mereka memilih bahasa Indonesia atau bahasa Jawa yang lebih sederhana.

Bahkan mungkin suatu saat anak muda tidak lagi menguasai seluruh tingkatan bahasa Jawa, tetapi masih memahami satu prinsip dasarnya:

cara kita berbicara harus disesuaikan dengan siapa yang sedang kita ajak bicara.

Dan mungkin itulah hal paling menarik dari bahasa Jawa.

Ia mengajarkan bahwa berbicara bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang siapa kita di hadapan orang lain.

Satu kalimat bisa memiliki arti yang sama, tetapi pilihan katanya dapat menunjukkan apakah kita sedang berbicara kepada teman, orang tua, guru, atau seseorang yang kita hormati.

Editor : Ali Mustofa
tingkatan bahasa krama jawa bahasa jawa