Kenapa Orang Indonesia Suka Basa-Basi?

uinbroadcasting • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:31 WIB
orang indonesia suka basa basi (pexel)
orang indonesia suka basa basi (pexel)

RADAR KUDUS - Pernah mendengar percakapan seperti, “Jadi datang, kan?”, lalu dijawab “Lihat nanti, ya,” atau bahkan “Kalau nggak datang juga nggak apa-apa”?

Percakapan seperti ini sangat akrab bagi orang Indonesia. Kita sering kali tidak mengatakan sesuatu secara langsung.

Ketika menolak ajakan, misalnya, kita memilih mengatakan “kayaknya nggak bisa” daripada “saya tidak mau”.

Saat ingin meminta bantuan, kita bisa bertanya, “Lagi sibuk nggak?” sebelum menyampaikan maksud sebenarnya.

Bagi sebagian orang, cara komunikasi seperti ini mungkin terasa berbelit-belit. Namun, di baliknya terdapat kebiasaan budaya yang membuat kita terbiasa membaca makna di balik kata-kata.

Antropolog Edward T. Hall memperkenalkan konsep high-context dan low-context communication.

Dalam komunikasi low-context, pesan cenderung disampaikan secara langsung dan eksplisit. Apa yang ingin dikatakan sebisa mungkin dijelaskan melalui kata-kata.

Sementara dalam komunikasi high-context, makna tidak selalu disampaikan secara langsung. Pendengar diharapkan memahami situasi, hubungan, ekspresi, dan konteks percakapan.

Indonesia sering ditempatkan dalam kelompok budaya yang cenderung lebih high-context, meskipun tentu tidak semua orang Indonesia berkomunikasi dengan cara yang sama.

Baca Juga: Amplop Hajatan Bukan Sekadar Hadiah: Mengapa Nama Pemberi Selalu Dicatat?

Basa-basi kemudian menjadi bagian dari cara menjaga hubungan sosial.

Mengatakan “mampir kapan-kapan” tidak selalu berarti kita sedang membuat janji. Bertanya “sudah makan?” juga tidak selalu berarti kita ingin mengetahui menu makan seseorang. 

Kalimat-kalimat tersebut dapat menjadi bentuk keramahan dan perhatian.

Namun, kebiasaan ini juga memiliki sisi lain. Ketika terlalu banyak hal harus “dibaca” dari konteks, komunikasi dapat menjadi ambigu.

“Terserah” bisa berarti benar-benar bebas memilih, tetapi bisa juga berarti “saya kecewa, tetapi tidak ingin mengatakannya”.

Karena itu, basa-basi sebenarnya bukan sekadar kebiasaan berbicara berputar-putar.

Ia menunjukkan bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga hubungan.

Mungkin kita tidak perlu meninggalkan basa-basi. Kita hanya perlu tahu kapan harus membaca konteks dan kapan harus mengatakan sesuatu dengan lebih jelas.

 

Editor : Ali Mustofa
basa basi orang indonesia high-context komunikasi