RADAR KUDUS - Mengajarkan toilet training merupakan salah satu fase penting dalam tumbuh kembang anak sekaligus menjadi tantangan bagi banyak orang tua. Tidak sedikit anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk terbiasa buang air di toilet karena proses ini berkaitan dengan kesiapan fisik, emosional, hingga kemampuan berkomunikasi.
Para ahli menyebut toilet training sebaiknya dimulai ketika anak menunjukkan tanda-tanda kesiapan, bukan semata berdasarkan usia. Umumnya, kesiapan mulai terlihat pada rentang usia 18 bulan hingga 3 tahun, meski setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda.
Berdasarkan rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP), Mayo Clinic, Raising Children Network, dan NHS, keberhasilan toilet training lebih ditentukan oleh pendekatan yang positif, penuh kesabaran, serta konsisten dibandingkan dengan paksaan atau hukuman.
Berikut lima cara yang dapat diterapkan orang tua agar proses toilet training berjalan lebih mudah dan menyenangkan.
1. Kenalkan Kosakata Sederhana yang Berhubungan dengan Toilet
Langkah pertama adalah membantu anak mengenal istilah-istilah dasar mengenai aktivitas di kamar mandi. Gunakan kata yang sederhana seperti "pipis", "BAB", "toilet", atau "kamar mandi" dalam percakapan sehari-hari.
Anak akan lebih mudah memahami kapan ia harus memberi tahu orang tua jika ingin buang air kecil maupun buang air besar.
Orang tua juga dapat menjelaskan bahwa urine dan feses merupakan sisa metabolisme tubuh yang memang harus dibuang melalui toilet. Hindari menggunakan kata-kata seperti "jorok", "menjijikkan", atau "memalukan" karena dapat memunculkan rasa takut maupun malu pada anak.
2. Kenali Tanda-Tanda Anak Ingin Buang Air
Salah satu kunci keberhasilan toilet training adalah mengenali sinyal yang diberikan anak sebelum buang air.
Beberapa tanda yang umum muncul antara lain:
-
Menyilangkan kaki.
-
Mondar-mandir.
-
Berjongkok.
-
Menari-nari kecil.
-
Memegang area celana.
-
Berhenti bermain secara tiba-tiba.
-
Wajah terlihat lebih serius atau diam.
Ketika melihat tanda tersebut, ajak anak menuju toilet sambil mengucapkan kalimat sederhana seperti, "Yuk, sekarang waktunya pipis," atau "Ayo kita ke kamar mandi."
Cara ini membantu anak menghubungkan sensasi ingin buang air dengan kebiasaan menggunakan toilet.
3. Ajarkan Fungsi Peralatan di Kamar Mandi Secara Bertahap
Anak perlu memahami bahwa toilet bukanlah tempat yang menakutkan.
Perkenalkan satu per satu fungsi peralatan di kamar mandi, mulai dari kloset duduk atau jongkok, flush, tisu, gayung, hingga sabun cuci tangan.
Bila menggunakan potty chair atau kursi toilet khusus anak, biarkan anak mencoba duduk beberapa menit tanpa tekanan.
Metode bermain juga sangat efektif. Orang tua dapat menggunakan boneka atau mainan favorit untuk berpura-pura melakukan aktivitas buang air di toilet sehingga anak merasa proses tersebut adalah sesuatu yang normal.
Setelah selesai, ajarkan pula cara membersihkan diri, menyiram toilet, dan mencuci tangan menggunakan sabun selama minimal 20 detik sebagai bagian dari pembentukan kebiasaan hidup bersih.
4. Jangan Abaikan Ketakutan Anak
Tidak semua anak langsung merasa nyaman saat menggunakan toilet.
Sebagian anak takut mendengar suara siraman air, khawatir terjatuh ke dalam kloset, atau bahkan menganggap urine dan feses adalah bagian dari tubuhnya sehingga enggan membuangnya.
Kondisi tersebut merupakan hal yang wajar menurut para dokter anak.
Karena itu, jangan memaksa anak atau memarahinya ketika menolak menggunakan toilet.
Biarkan anak memiliki kendali, misalnya dengan membiarkannya menekan tombol flush sendiri atau memilih kapan ingin mencoba duduk di toilet.
Pendekatan yang tenang dan penuh empati jauh lebih efektif dibandingkan memaksa atau memberi ancaman.
5. Dampingi, Beri Apresiasi, dan Hindari Hukuman
Toilet training adalah proses belajar, sehingga anak membutuhkan dukungan, bukan tekanan.
Setiap keberhasilan, sekecil apa pun, layak mendapatkan apresiasi. Orang tua dapat memberikan pujian sederhana seperti:
-
"Hebat, kamu sudah bilang kalau ingin pipis."
-
"Ayah bangga kamu berhasil ke toilet sendiri."
Bentuk penghargaan lain seperti stiker, kalender bintang, atau poin hadiah juga dapat meningkatkan motivasi anak.
Sebaliknya, hindari menghukum anak ketika mengompol atau gagal mencapai toilet tepat waktu. Hukuman justru dapat membuat anak cemas sehingga proses toilet training berlangsung lebih lama.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua
Selain menerapkan langkah-langkah di atas, ada beberapa kesalahan yang sering menyebabkan toilet training tidak berjalan optimal, antara lain:
-
Memulai toilet training saat anak belum siap secara fisik maupun emosional.
-
Memaksa anak duduk terlalu lama di toilet.
-
Memarahi anak ketika mengompol.
-
Membandingkan perkembangan anak dengan saudara atau teman sebayanya.
-
Tidak konsisten antara latihan di rumah dan di luar rumah.
Bagaimana dengan Toilet Training pada Malam Hari?
Mengajarkan anak tetap kering saat tidur malam umumnya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan toilet training di siang hari.
Sebagian besar anak baru mampu mengontrol kandung kemih saat malam hari beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah berhasil toilet training di siang hari.
Untuk membantu proses tersebut, orang tua dapat mengurangi konsumsi minuman sekitar satu hingga dua jam sebelum tidur, mengajak anak buang air kecil sebelum naik ke tempat tidur, serta menggunakan pelindung kasur apabila sewaktu-waktu masih terjadi mengompol.
Yang terpenting, jangan menyalahkan anak apabila masih mengompol saat malam karena kondisi tersebut merupakan bagian normal dari proses perkembangan.
Dengan kesabaran, konsistensi, dan pendekatan yang positif, sebagian besar anak pada akhirnya mampu menggunakan toilet secara mandiri sesuai tahapan usianya.
Editor : Mahendra Aditya