KUDUS – Selasa, 4 Agustus 2026, bertepatan dengan pasaran Pon dalam penanggalan Jawa. Hari ini tercatat sebagai weton Selasa Pon dengan neptu 10 dan berada pada 19 Sapar 1960 dalam kalender Jawa. Dalam kalender Hijriah, tanggal tersebut bertepatan dengan 20 Safar 1448 H.
Perhitungan kalender Jawa menempatkan 4 Agustus 2026 dalam Wuku Marakeh. Bagi masyarakat yang masih menggunakan petungan atau primbon Jawa sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan aktivitas, terdapat catatan khusus mengenai perjalanan pada Selasa Pon di wuku tersebut.
Dalam tradisi petungan Jawa, Selasa Pon pada Wuku Marakeh disebut kurang baik untuk melakukan perjalanan jauh. Larangan atau anjuran tersebut bukan berarti seseorang pasti mengalami kejadian buruk, melainkan bagian dari kepercayaan dan kearifan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Catatan yang paling menonjol adalah anjuran untuk berhati-hati apabila hendak bepergian jauh. Dalam tafsir Wuku Marakeh, perjalanan pada Selasa Pon dipercaya dapat membawa kondisi kurang baik, termasuk kemungkinan mengalami gangguan kesehatan setelah tiba di tempat tujuan.
Selain persoalan perjalanan, Wuku Marakeh juga memiliki sejumlah simbol dan watak yang dalam tradisi primbon digunakan untuk menggambarkan karakter serta peruntungan seseorang. Salah satu petunjuk yang disebut dalam petungan adalah keberadaan Kala di arah barat laut. Selama berlangsungnya Wuku Marakeh, arah tersebut secara tradisional dianggap perlu dihindari untuk perjalanan penting selama tujuh hari.
Karena itu, masyarakat yang masih memegang perhitungan hari dan arah dalam tradisi Jawa biasanya lebih berhati-hati ketika merencanakan perjalanan pada periode tersebut. Aktivitas yang dianggap tidak terlalu mendesak dapat ditunda, sedangkan perjalanan yang memang harus dilakukan tetap dapat dipersiapkan dengan lebih matang.
Dari sisi weton, Selasa Pon merupakan gabungan nilai neptu hari Selasa sebesar 3 dan pasaran Pon sebesar 7. Jika dijumlahkan, nilai neptunya menjadi 10. Perhitungan tersebut juga dikonfirmasi dalam referensi kalender Jawa yang mencatat 4 Agustus 2026 sebagai Selasa Pon dengan neptu 10.
Dalam gambaran watak weton, Selasa Pon kerap dikaitkan dengan pribadi yang ramah, memiliki tutur kata yang baik, berhati-hati dan waspada. Sosok dengan weton ini juga dipercaya memiliki pengaruh sehingga cukup disegani oleh orang di sekitarnya.
Namun, tafsir primbon juga menggambarkan adanya sisi lain. Selasa Pon disebut dapat memiliki kecenderungan menyukai kemewahan, berpendirian keras dan mudah merasa cemburu. Karakter tersebut merupakan bagian dari penafsiran tradisional berdasarkan weton, sehingga tidak dapat dijadikan ukuran mutlak untuk menilai kepribadian seseorang.
Selasa Pon juga dikaitkan dengan pangarasan Aras Pepet. Dalam petungan Jawa, istilah tersebut menggambarkan seseorang yang cenderung sering menghadapi keprihatinan atau kesulitan dalam mencapai apa yang diinginkannya. Sejumlah keinginan dipercaya tidak selalu dapat diraih dengan mudah.
Di sisi lain, terdapat Pancasuda Satriya Wibawa. Maknanya justru memberikan gambaran positif, yakni seseorang berpotensi mendapatkan penghormatan karena kemuliaan, kewibawaan, atau keluhuran sikapnya.
Wuku Marakeh sendiri memiliki berbagai simbol yang masing-masing mempunyai makna dalam tradisi pawukon. Lambangnya dikaitkan dengan Bathara Surènggana, sedangkan gambaran wataknya lebih menekankan sikap menerima sesuatu yang dianggap telah menjadi bagian dari takdir.
Simbol gedhong yang dipanggul menggambarkan karunia yang diterima seseorang. Sementara itu, pohon trengguli dikaitkan dengan karakter yang kurang menyukai keramaian kota serta memiliki pola pikir yang berbeda dari kebanyakan orang.
Ada pula simbol umbul-umbul terbalik yang dalam tafsir tradisional dikaitkan dengan keberuntungan yang berada cukup dekat. Namun, simbol tersebut juga mempunyai sisi negatif, seperti kecenderungan menyimpan sesuatu untuk diri sendiri dan tidak terlalu mudah menerima masukan.
Sementara lambang bunga layu menjadi salah satu simbol yang dianggap kurang baik. Dalam tafsir Wuku Marakeh, simbol ini dikaitkan dengan kesialan atau kemungkinan mengalami celaka. Karena itu, masyarakat yang mengikuti petungan biasanya menjadikan periode ini sebagai waktu untuk lebih berhati-hati.
Khusus mengenai perjalanan, pesan yang paling kuat pada Selasa Pon 4 Agustus 2026 adalah kehati-hatian. Dalam petungan Wuku Marakeh, perjalanan jauh pada hari tersebut disebut kurang baik karena dipercaya dapat membuat seseorang mengalami gangguan kesehatan setelah sampai di tempat tujuan.
Kendati demikian, penting memahami konteksnya. Kalender Jawa merupakan bagian dari warisan budaya yang menggabungkan berbagai siklus waktu, termasuk tujuh hari dalam sepekan, lima pasaran, siklus wetonan 35 hari, serta pawukon yang berulang setiap 210 hari. Kajian mengenai kalender Jawa juga mencatat bahwa sistem tersebut mempunyai struktur perhitungan yang kompleks dan telah digunakan dalam berbagai kebutuhan budaya masyarakat Jawa.
Dengan demikian, anjuran tidak bepergian jauh pada Selasa Pon 4 Agustus 2026 sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kepercayaan dan tradisi petungan Jawa, bukan sebagai prediksi pasti mengenai kejadian yang akan dialami seseorang.
Bagi masyarakat yang menjadikan primbon sebagai pedoman budaya, peringatan tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk meningkatkan kewaspadaan. Jika perjalanan memang tidak dapat ditunda, persiapan seperti memastikan kondisi kendaraan, kesehatan pengemudi, rute perjalanan, waktu keberangkatan, serta kebutuhan selama perjalanan tetap menjadi hal yang jauh lebih konkret untuk diperhatikan.
Pada akhirnya, kalender Jawa tidak hanya berfungsi untuk menentukan weton. Sistem ini juga menjadi bagian dari warisan budaya yang menyimpan simbol, filosofi, dan cara pandang masyarakat Jawa dalam membaca waktu. Selasa Pon 4 Agustus 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah tanggal tidak sekadar memiliki nama hari dan tanggal, tetapi juga mempunyai rangkaian tafsir dalam tradisi pawukon dan primbon.
Bagi yang mengikuti petungan, pesan utama hari ini cukup jelas: hindari perjalanan jauh yang tidak mendesak, terutama ke arah yang secara tradisional dianggap kurang baik, dan utamakan kehati-hatian dalam setiap aktivitas. Sementara bagi masyarakat yang tidak menggunakan primbon sebagai pedoman, informasi tersebut dapat dipandang sebagai pengetahuan budaya mengenai cara masyarakat Jawa memaknai sebuah hari.
Editor : Mahendra Aditya