RADAR KUDUS - Nama Dracula sering kali identik dengan sosok vampir haus darah yang hidup dalam berbagai film dan novel horor.
Padahal, di balik legenda tersebut terdapat tokoh sejarah nyata bernama Vlad III, atau lebih dikenal sebagai Vlad Tepes (Vlad sang Penyula).
Menariknya, perjalanan hidup Vlad memiliki hubungan erat dengan salah satu tokoh Islam paling berpengaruh dalam sejarah, yaitu Sultan Mehmed II Al-Fatih, penakluk Konstantinopel pada tahun 1453.
Hubungan keduanya bukanlah hubungan persahabatan, melainkan perseteruan yang penuh intrik, pengkhianatan, dan peperangan.
Vlad lahir sekitar tahun 1431 di wilayah Wallachia, sebuah kerajaan kecil yang kini menjadi bagian dari Rumania.
Ayahnya, Vlad II Dracul, merupakan anggota Ordo Naga (Order of the Dragon), sebuah perkumpulan ksatria Kristen yang dibentuk untuk mempertahankan Eropa dari ekspansi Kesultanan Utsmaniyah.
Dari gelar "Dracul" yang berarti "Naga", lahirlah julukan "Dracula", yang berarti "anak Dracul" atau "anak sang naga".
Dalam bahasa Rumania modern, kata dracul juga dapat diartikan sebagai "iblis", sehingga citra Vlad semakin menyeramkan di mata masyarakat.
Ironisnya, Vlad justru menghabiskan sebagian masa remajanya di lingkungan Kesultanan Utsmaniyah.
Demi menjamin kesetiaan ayahnya kepada Sultan Murad II, Vlad bersama adiknya, Radu, dikirim sebagai sandera politik ke istana Utsmaniyah.
Di sana, Vlad mempelajari bahasa, strategi perang, pemerintahan, hingga budaya Utsmaniyah.
Sementara adiknya memilih tetap setia kepada Utsmaniyah, Vlad justru menyimpan kebencian yang kelak membentuk karakter kerasnya sebagai penguasa Wallachia.
Baca Juga: Fajar Santosa Hadirkan Hantu Legendaris Rapi Films di “Sebelum Dijemput Nenek”
Setelah Mehmed II berhasil menaklukkan Konstantinopel pada 1453, Kesultanan Utsmaniyah semakin memperluas wilayah kekuasaannya di Balkan.
Wallachia menjadi salah satu daerah penting yang diharapkan tetap membayar upeti kepada Utsmaniyah.
Namun, Vlad menolak tunduk.
Ketika Sultan Mehmed II meminta pembayaran upeti dan pengiriman pasukan, Vlad justru membalas dengan tindakan brutal.
Ia menangkap para utusan Utsmaniyah dan, menurut berbagai catatan sejarah, memakukan sorban mereka ke kepala karena menolak melepasnya di hadapan sang penguasa Wallachia.
Tindakan itu menjadi sinyal terbukanya perang antara Vlad dan Kesultanan Utsmaniyah.
Julukan Tepes, yang berarti "Penyula", bukan tanpa alasan. Vlad dikenal menggunakan penyulaan sebagai metode hukuman bagi musuh-musuhnya.
Ribuan tawanan ditusuk menggunakan batang kayu panjang hingga meninggal perlahan.
Puncak kekejamannya terjadi pada tahun 1462 ketika Mehmed II memimpin ekspedisi militer ke Wallachia.
Saat pasukan Utsmaniyah mendekati ibu kota Targoviste, mereka disambut pemandangan yang mengerikan: ribuan mayat tentara dan tawanan disula memenuhi ladang di luar kota.
Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai "Hutan Pasak" (Forest of the Impaled).
Beberapa sumber sejarah memperkirakan jumlah korban mencapai puluhan ribu orang, meskipun angka pastinya masih menjadi perdebatan para sejarawan.
Yang jelas, pemandangan tersebut merupakan bentuk perang psikologis yang bertujuan mengguncang mental pasukan Al-Fatih.
Meskipun Vlad berhasil menebarkan teror, kekuatan militernya jauh lebih kecil dibanding Kesultanan Utsmaniyah. Mehmed II tetap melanjutkan kampanyenya dan akhirnya berhasil melemahkan posisi Vlad.
Utsmaniyah kemudian mengangkat adik Vlad, Radu, sebagai penguasa Wallachia karena dinilai lebih loyal kepada Istanbul.
Vlad melarikan diri ke Hongaria dan sempat dipenjara selama bertahun-tahun sebelum akhirnya kembali memerintah dalam waktu yang singkat.
Pada tahun 1476, Vlad III tewas dalam pertempuran. Kepalanya dikirim kepada Sultan Mehmed II sebagai bukti bahwa musuh lamanya telah gugur.
Lebih dari empat abad setelah kematiannya, penulis Irlandia Bram Stoker menerbitkan novel Dracula pada tahun 1897.
Stoker meminjam nama "Dracula" dari tokoh sejarah Vlad III, tetapi mengubahnya menjadi sosok vampir abadi yang hidup dengan meminum darah manusia.
Sejak saat itu, nama Dracula lebih dikenal sebagai tokoh fiksi dibandingkan sebagai penguasa Wallachia yang pernah berperang melawan Sultan Mehmed II Al-Fatih. (nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa