RADAR KUDUS - Penanggalan Jawa masih menjadi pedoman bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dalam menentukan hari baik untuk berbagai kegiatan penting. Mulai dari pernikahan, pindah rumah, membuka usaha, hingga prosesi lamaran, kalender Jawa dipercaya menyimpan filosofi dan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Berdasarkan kalender Jawa, Senin, 27 Juli 2026, bertepatan dengan 11 Sapar 1960 Tahun Be, berada dalam Windu Sancaya dan masuk Wuku Kuruwelut. Hari tersebut juga memiliki pasaran Kliwon, sehingga membentuk weton Senin Kliwon yang dalam tradisi Jawa mempunyai neptu berjumlah 12, hasil penjumlahan nilai hari Senin (4) dan pasaran Kliwon (8).
Dalam Primbon Jawa, weton Senin Kliwon dikenal memiliki karakter yang lembut, santun, dan mudah bergaul. Sosok dengan weton ini umumnya memiliki kemampuan komunikasi yang baik, pandai menyampaikan pendapat, serta mampu menciptakan suasana yang harmonis dalam lingkungan keluarga maupun pekerjaan.
Selain dikenal ramah dan murah hati, pemilik weton Senin Kliwon juga diyakini memiliki rasa empati yang tinggi terhadap orang lain. Mereka cenderung menghormati orang tua, menjaga hubungan baik dengan keluarga besar, serta mudah mendapatkan simpati dari lingkungan sekitar.
Namun di balik sifat positif tersebut, mereka juga dikenal memiliki hati yang sensitif sehingga mudah merasa tersinggung. Kendati demikian, mereka tidak menyimpan dendam dalam waktu lama dan relatif mudah memaafkan kesalahan orang lain.
Dalam perhitungan pangarasan, Senin Kliwon berada pada Aras Kembang. Makna filosofisnya menggambarkan seseorang yang mudah memperoleh perhatian, dukungan, dan kepercayaan dari orang-orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi, baik atasan, pemimpin, maupun tokoh masyarakat. Hal tersebut dipercaya berasal dari sikap santun dan pembawaan yang menenangkan sehingga membuat orang lain merasa nyaman.
Sementara itu, dari sisi Pancasuda, weton ini termasuk kategori Satriya Wirang. Dalam Primbon Jawa, istilah tersebut menggambarkan pribadi yang memiliki budi pekerti baik, tetapi dalam perjalanan hidupnya berpotensi mengalami situasi yang mengurangi wibawa atau menghadapi rasa malu akibat keadaan tertentu.
Makna tersebut lebih dipahami sebagai pengingat agar seseorang senantiasa menjaga sikap rendah hati, berhati-hati dalam bertindak, serta tidak mudah terpancing emosi.
Senin Kliwon kali ini juga berada dalam Wuku Kuruwelut, yang secara simbolis berada di bawah naungan Bathara Wisnu. Dalam filosofi pewayangan Jawa, Bathara Wisnu melambangkan pemeliharaan, kebijaksanaan, ketekunan, dan tanggung jawab.
Orang yang dipengaruhi Wuku Kuruwelut dipercaya memiliki semangat bekerja tinggi, mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan, serta memiliki naluri yang kuat dalam mengambil keputusan.
Meski demikian, Wuku Kuruwelut juga mengandung sejumlah pitutur atau nasihat. Salah satunya adalah agar seseorang mengendalikan sifat pamer, menjaga keikhlasan dalam berbagi, serta menghindari keputusan yang diambil karena dorongan emosi sesaat. Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebaiknya selalu disertai sikap rendah hati.
Dalam tradisi Primbon Jawa, terdapat pula anjuran yang berkaitan dengan aktivitas selama Wuku Kuruwelut. Disebutkan bahwa selama tujuh hari dalam wuku ini sebaiknya menghindari pekerjaan yang berisiko tinggi di tempat yang tinggi, seperti memanjat pohon, memperbaiki atap rumah, atau aktivitas serupa.
Anjuran tersebut merupakan bagian dari kearifan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Hal yang paling menarik perhatian masyarakat adalah keyakinan bahwa Senin Kliwon pada Wuku Kuruwelut dianggap sebagai hari yang baik untuk meminang atau melamar pasangan. Dalam kepercayaan Primbon Jawa, lamaran yang dilakukan pada hari ini dipercaya memiliki peluang memperoleh restu dan diterima dengan baik oleh keluarga calon pasangan.
Meski demikian, perlu dipahami bahwa penanggalan Jawa merupakan bagian dari tradisi dan warisan budaya Nusantara. Penentuan hari baik berdasarkan weton dan primbon bersifat kepercayaan budaya, bukan kepastian yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Keberhasilan sebuah hubungan maupun rumah tangga tetap ditentukan oleh komitmen, komunikasi yang sehat, saling menghormati, serta kesiapan kedua belah pihak dalam membangun kehidupan bersama.
Bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi Jawa, kalender weton menjadi sarana untuk menjaga kesinambungan budaya sekaligus menghormati nilai-nilai leluhur.
Sementara bagi masyarakat umum, informasi mengenai weton, wuku, dan penanggalan Jawa dapat menjadi wawasan budaya yang memperkaya pemahaman terhadap salah satu warisan budaya Indonesia yang masih lestari hingga kini.
Editor : Mahendra Aditya