Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Kenapa Gaya Jadul Kembali Digandrungi Gen Z? Ternyata Ada Penjelasan Sosiologisnya

uinbroadcasting • Jumat, 17 Juli 2026 | 11:23 WIB
orang menggunakan digicam (PEXEL)
orang menggunakan digicam (PEXEL)

RADAR KUDUS - Pernahkah kalian memperhatikan apa yang dipakai anak muda saat ini terutama gen z di pusat perbelanjaan atau area kuliner belakangan ini?

Celana cutbray, jaket jins longgar (oversized), kacamata hitam berbingkai tebal, hingga kamera saku digital jadul  atau yang saat ini kita sebut digicam kembali berseliweran.

Gaya yang beberapa dekade lalu sempat dilempar ke gudang karena dianggap kuno dan ketinggalan zaman, tiba-tiba menjelma menjadi kiblat estetika baru generasi masa kini. 

Di dunia mode dan gaya hidup, kita seperti sedang mengalami deja vu massal yang terus berulang. 

​Secara sosiologis, perputaran ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari hukum alam kebudayaan yang disebut sebagai siklus nostalgia.

Para sosiolog mencatat bahwa tren budaya populer biasanya berputar dalam siklus waktu 20 hingga 30 tahun.

Mengapa angka ini begitu konsisten? Karena rentang waktu tersebut adalah momen di mana anak-anak yang dulu tumbuh melihat sebuah tren, kini telah dewasa, memiliki daya beli sendiri, dan menduduki posisi sebagai kreator atau pembuat kebijakan di industri kreatif.

Mereka memproduksi ulang memori masa kecil mereka karena ada rasa aman dan kehangatan emosional di dalamnya. ​

Namun, pengulangan tren di era modern tidak mentah-mentah menjiplak masa lalu. Generasi hari ini melakukan apa yang disebut sebagai retro-fitting atau modifikasi kultural. 

Celana era 90-an misalnya, hari ini dipadukan dengan sepatu kets modern dan teknologi smartwatch.

Proses kawin silang ini melahirkan gaya baru yang terasa familier sekaligus segar di saat yang bersamaan.

Masa lalu tidak pernah benar-benar kembali dalam wujud aslinya, melainkan lahir kembali dengan versi yang kekinian. ​

Di sisi lain, media sosial bertindak sebagai akselerator yang membuat roda siklus ini berputar jauh lebih cepat.

Melalui platform seperti TikTok atau Instagram, estetika masa lalu bisa viral hanya dalam hitungan hari.

Saat algoritma mulai mendeteksi kejenuhan audiens terhadap produk-produk modern yang serbapraktis dan minimalis, konten-konten bertema vintage langsung naik daun sebagai alternatif yang dianggap lebih otentik dan memiliki "jiwa". (nuril baiti amiliah)

 

 

Editor : Ali Mustofa
dejavu vintage Gen Z tren