RADAR KUDUS - Gunung Kawi kembali menjadi sorotan publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial.
Kawasan wisata di Kabupaten Malang ini kembali dikaitkan dengan mitos pesugihan, meski pengelola menegaskan bahwa tempat tersebut merupakan destinasi ziarah dan wisata budaya yang telah ada sejak puluhan tahun lalu.
Belakangan ini nama Gunung Kawi di Kabupaten Malang kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Berbagai video dan unggahan mengenai kawasan tersebut ramai bermunculan, terutama setelah konten yang membahas dugaan praktik pesugihan di Gunung Kawi kembali viral.
Hal itu membuat banyak warganet penasaran dengan sejarah tempat tersebut sekaligus mempertanyakan apakah anggapan yang selama ini beredar benar adanya.
Padahal, di balik citranya yang lekat dengan kisah mistis, Gunung Kawi merupakan salah satu destinasi wisata religi dan budaya yang telah dikenal sejak puluhan tahun lalu.
Ribuan orang datang setiap tahun, terutama menjelang malam 1 Suro atau 1 Muharram, untuk berziarah, mengikuti tradisi budaya, maupun sekadar menikmati suasana pegunungan yang sejuk.
Dari Mana Mitos Pesugihan Gunung Kawi Berasal?
Stigma Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan tidak muncul begitu saja.
Cerita tersebut berkembang secara turun-temurun melalui kisah masyarakat, pengalaman pribadi yang sulit dibuktikan, hingga cerita yang kemudian menyebar dari mulut ke mulut.
Banyak orang datang ke Gunung Kawi dengan harapan memperoleh kelancaran usaha, rezeki, karier, maupun kehidupan yang lebih baik.
Karena sebagian peziarah merasa doa mereka terkabul setelah berziarah, muncul anggapan bahwa Gunung Kawi memiliki kekuatan gaib yang mampu mendatangkan kekayaan.
Lama-kelamaan, cerita tersebut berkembang menjadi berbagai versi. Sebagian menyebut adanya ritual tertentu, sementara lainnya mengaitkan kawasan itu dengan praktik pesugihan.
Namun hingga kini, cerita tersebut lebih banyak berupa mitos yang hidup di tengah masyarakat dan belum pernah dapat dibuktikan secara nyata.
Pengelola Tegaskan Gunung Kawi Bukan Tempat Pesugihan
Di tengah berbagai cerita yang berkembang, pengelola Keraton Gunung Kawi memiliki pandangan berbeda.
Salah satu penjaga sekaligus pemandu wisata, Jono, menegaskan bahwa kawasan tersebut sejak dahulu merupakan tempat ziarah dan doa, bukan lokasi untuk mencari kekayaan secara instan.
Menurutnya, para pengunjung datang untuk bertawasul kepada leluhur, khususnya Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati, yang dimakamkan di kompleks tersebut.
Mereka memanjatkan doa agar diberikan kesehatan, kelancaran usaha, keselamatan, hingga ketenangan hidup.
Bahkan banyak peziarah yang kembali datang setelah merasa keinginannya tercapai.
Kedatangan mereka bukan untuk menjalankan ritual tertentu, melainkan sebagai bentuk rasa syukur dan mendoakan para leluhur.
Siapa Eyang Tunggul Manik?
Berdasarkan cerita yang disampaikan pengelola, Eyang Tunggul Manik dan istrinya, Eyang Tunggul Wati, dipercaya berasal dari wilayah Kediri.
Keduanya memilih menetap di kawasan Gunung Kawi untuk menjalani kehidupan yang lebih tenang dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di lokasi tersebut.
Semasa hidupnya, banyak masyarakat datang untuk meminta nasihat, petunjuk hidup, maupun doa.
Setelah beliau wafat, tradisi berziarah tetap berlangsung hingga sekarang dan menjadi salah satu alasan utama banyak orang mengunjungi Gunung Kawi.
Bukan Hanya Makam, Gunung Kawi Juga Memiliki Simbol Toleransi
Salah satu fakta yang jarang diketahui masyarakat adalah kawasan Gunung Kawi memiliki nilai toleransi yang tinggi.
Di area kompleks wisata berdiri berbagai rumah ibadah dari agama yang berbeda, mulai dari masjid, gereja, pura, hingga klenteng.
Keberadaan rumah-rumah ibadah tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini sejak lama menjadi ruang yang terbuka bagi berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang agama maupun kepercayaan.
Selain itu terdapat Pohon Dewandaru, yang oleh sebagian masyarakat dipercaya sebagai simbol keberuntungan.
Pohon ini sering menjadi perhatian para pengunjung karena memiliki cerita tersendiri dalam tradisi masyarakat setempat.
Meski demikian, pengelola mengingatkan agar masyarakat menyikapinya sebagai bagian dari warisan budaya dan cerita rakyat yang berkembang.
Kini Gunung Kawi Tak Lagi Hanya Mengandalkan Wisata Religi
Pemerintah Kabupaten Malang kini berupaya mengubah citra Gunung Kawi agar tidak hanya dikenal karena kisah mistisnya.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mulai mendorong penyelenggaraan berbagai festival budaya, kirab tradisional, pertunjukan seni, hingga event tahunan yang melibatkan masyarakat lokal.
Kirab budaya dalam rangka menyambut 1 Muharram beberapa waktu lalu berhasil menarik ribuan pengunjung.
Selain menjadi tontonan menarik, kegiatan tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Hotel, penginapan, rumah makan, pedagang kaki lima, hingga pelaku UMKM ikut merasakan peningkatan pendapatan selama acara berlangsung.
Pemerintah berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin sehingga Gunung Kawi semakin dikenal sebagai destinasi wisata budaya sekaligus wisata religi yang kaya sejarah.
Mengapa Gunung Kawi Selalu Ramai Dibicarakan?
Popularitas Gunung Kawi tidak lepas dari perpaduan antara sejarah, budaya, religi, dan cerita rakyat yang berkembang selama bertahun-tahun.
Kombinasi inilah yang membuat kawasan tersebut selalu menarik perhatian, terutama ketika muncul pembahasan di media sosial.
Meski cerita mengenai pesugihan terus beredar, pengelola maupun pemerintah daerah mengajak masyarakat untuk melihat Gunung Kawi dari sudut pandang yang lebih luas.
Kawasan ini menyimpan banyak nilai sejarah, tradisi budaya, hingga toleransi antarumat beragama yang justru menjadi daya tarik utamanya.
Dengan semakin banyaknya agenda budaya yang digelar, Gunung Kawi diharapkan tidak lagi hanya dikenal karena mitos yang berkembang, tetapi juga sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Malang yang menawarkan pengalaman religi, budaya, sejarah, dan keindahan alam dalam satu kawasan. (Muthia)
Editor : Ali Mustofa