RADAR KUDUS – Penanggalan Jawa masih menjadi pedoman bagi sebagian masyarakat, terutama di Jawa Tengah dan DIY, dalam menentukan hari baik maupun memahami karakter seseorang berdasarkan weton kelahirannya.
Senin, 29 Juni 2026, dalam kalender Jawa bertepatan dengan 13 Sura 1960, Tahun Be, Windu Sancaya, dan berada dalam Wuku Langkir dengan pasaran Pahing.
Berdasarkan perhitungan primbon Jawa, hari ini memiliki weton Senin Pahing dengan jumlah neptu 13, yakni gabungan nilai Senin (4) dan Pahing (9). Dalam tradisi Jawa, weton ini dipercaya memiliki sejumlah karakter positif sekaligus beberapa hal yang perlu diwaspadai.
Senin Pahing Dipercaya Membawa Rezeki
Menurut penanggalan Jawa, seseorang yang lahir pada weton Senin Pahing dikenal sebagai pribadi yang jujur, mudah membantu sesama, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Mereka juga dinilai mampu membangun kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya.
Di sisi lain, karakter tersebut juga disebut memiliki sifat tegas dan keras ketika menghadapi persoalan yang dianggap menyangkut prinsip hidupnya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, Senin Pahing di Wuku Langkir dipercaya sebagai hari yang membawa keberuntungan. Anak yang lahir pada kombinasi hari dan pasaran ini diyakini memiliki peluang memperoleh rezeki yang baik serta kemampuan berpikir yang cerdas.
Perlu dipahami bahwa keyakinan tersebut merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang diwariskan turun-temurun dan tidak dapat dijadikan ukuran ilmiah mengenai nasib seseorang.
Baca Juga: Link Resmi Cek Desil 2026 Pakai NIK, Begini Cara Pastikan Nama Masuk Penerima PKH dan BPNT Juli
Pangarasan Lakuning Lintang
Pangarasan Senin Pahing adalah Lakuning Lintang atau perjalanan bintang. Filosofi ini menggambarkan seseorang yang mampu menjadi penunjuk arah dan teladan bagi lingkungan sekitarnya.
Orang dengan pangarasan ini dipercaya memiliki wawasan luas dan mudah memahami berbagai persoalan. Namun, mereka juga cenderung mudah berubah dalam menentukan pilihan, baik terkait pekerjaan, tempat tinggal, maupun tujuan hidup.
Pancasuda Bumi Kapetak
Dalam Primbon Jawa, Senin Pahing memiliki Pancasuda Bumi Kapetak. Karakter ini melambangkan pribadi pekerja keras yang sanggup menghadapi berbagai kesulitan tanpa mudah menyerah.
Selain dikenal menyukai kebersihan dan keteraturan, pemilik weton ini dipercaya memiliki daya tahan mental yang kuat ketika menghadapi tekanan hidup.
Namun demikian, mereka juga disebut memiliki kelemahan berupa sifat pendendam. Ironisnya, berbagai kebaikan yang dilakukan sering kali tidak mendapat penghargaan atau pengakuan dari orang lain.
Makna Wuku Langkir
Hari ini juga berada dalam Wuku Langkir, yang dalam tradisi Jawa dilambangkan oleh Bathara Berawa atau Bathara Kala.
Wuku ini menggambarkan pribadi yang berani, tegas, serta memiliki kecerdasan dalam memahami ilmu baru. Orang-orang yang berada dalam pengaruh Wuku Langkir diyakini cepat menguasai pengetahuan apabila bersungguh-sungguh mempelajarinya.
Meski demikian, karakter tersebut juga diingatkan agar mampu mengendalikan emosi karena keberanian yang berlebihan dapat berubah menjadi sikap gegabah apabila tidak disertai pertimbangan matang.
Dalam kepercayaan Jawa, arah tenggara juga dianggap sebagai arah yang kurang baik selama berlangsungnya Wuku Langkir sehingga sebagian masyarakat menghindari perjalanan penting ke arah tersebut.
Baca Juga: Bareskrim Bongkar Jaringan Thailand-Aceh, 325 Kg Sabu Disita dan Dua Pengendali Diburu
Hari Baik, Tetapi Ada Pantangan
Walaupun Senin Pahing dipercaya membawa keberuntungan dan kelimpahan rezeki, hari ini juga termasuk kategori Samparwangke dalam penanggalan Jawa.
Artinya, menurut perhitungan primbon, hari ini kurang dianjurkan untuk melaksanakan sejumlah kegiatan penting seperti:
-
Pernikahan.
-
Mendirikan rumah atau bangunan.
-
Pindah tempat tinggal.
-
Memulai usaha besar.
-
Menggelar hajatan penting.
Kepercayaan tersebut hingga kini masih dipegang oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai bagian dari tradisi budaya dalam menentukan waktu pelaksanaan suatu kegiatan.
Terlepas dari berbagai makna filosofis tersebut, kalender Jawa tetap menjadi salah satu warisan budaya Nusantara yang mencerminkan perpaduan antara sistem penanggalan, nilai-nilai kehidupan, serta kearifan lokal yang telah berkembang selama ratusan tahun.
Editor : Mahendra Aditya