Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Terpinggirkan Modernisasi, Daun Pacar Kuku Warisan Leluhur Makin Sulit Ditemui

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 9 Januari 2026 | 14:35 WIB
Daun pacar atau inai yang sering digunakan untuk mewarnai kuku dan rambut, ternyata memiliki manfaat yang beragam bagi kesehatan tubuh.
Daun pacar atau inai yang sering digunakan untuk mewarnai kuku dan rambut, ternyata memiliki manfaat yang beragam bagi kesehatan tubuh.

RADAR KUDUS - Daun pacar kuku atau inai (Lawsonia inermis) yang dulu banyak ditemukan di halaman rumah, kini semakin langka.

Tanaman yang diakui sebagai pewarna alami untuk kuku dan rambut ini perlahan-lahan tergantikan oleh produk pewarna sintetis terkini, meskipun pacar kuku menyimpan banyak manfaat bagi kesehatan dan kecantikan.

Pewarna alami yang aman telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat dari pacar kuku.

Daunnya memiliki senyawa lawsone yang memberikan warna merah kecoklatan khas pada kulit, rambut, hingga kuku.

Tidak hanya berkaitan dengan estetika, tumbuhan ini juga mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid yang memiliki berbagai manfaat farmakologis.

Secara tradisional, daun pacar kuku dimanfaatkan untuk mencegah infeksi jamur pada kuku, mengatasi ketombe, gatal di kulit kepala, serta mengurangi kerontokan rambut.

Dalam pengobatan tradisional, inai juga dianggap dapat menyembuhkan luka, kurap, kudis, mengurangi peradangan, sakit kepala akibat panas, nyeri sendi, dan gangguan pencernaan seperti diare serta disentri.

Tidak banyak yang menyadari, pacar kuku berasal dari wilayah Afrika Timur Laut dan Asia Barat Daya, tetapi sudah lama ditanam di Indonesia sebagai tanaman hias.

Bunganya kecil, beraroma, berwarna kuning lembut hingga merah muda, tumbuh di ujung dahan.

Tanaman ini memiliki bentuk perdu dengan batang yang tegak dan buah yang berbentuk kotak kecil yang berisi biji.

Selain keuntungan medis, pacar kuku juga terkait dengan tradisi dan iman setempat.

Di sejumlah wilayah, penggunaan inai dilakukan setelah matahari tenggelam, bahkan terdapat larangan agar hasil pewarnaannya tidak terlihat oleh ayam sebuah kepercayaan yang diwariskan dan masih diyakini oleh sebagian masyarakat.

Saat ini, kelangkaan pacar kuku mengingatkan kita akan betapa pentingnya menjaga kelestarian tanaman herbal lokal.

Di tengah kecenderungan kembali ke produk alami dan ramah lingkungan, pacar kuku sebenarnya memiliki potensi besar sebagai pewarna alami sekaligus tanaman obat untuk keluarga. (Amelia NA)

Editor : Ali Mustofa
#tradisional #daun pacar #langka