RADAR KUDUS - Di masa ketika hampir setiap ponsel dibekali kamera beresolusi ratusan megapiksel, logikanya orang tak lagi membutuhkan studio foto konvensional.
Namun, kenyataan di lapangan justru berkata sebaliknya. Setiap akhir pekan, antrean panjang terlihat di depan gerai photobooth di berbagai pusat perbelanjaan.
Anak muda, terutama Generasi Z, rela menunggu dan mengeluarkan uang demi masuk ke dalam sebuah kotak sempit berukuran tak lebih dari 2x2 meter.
Fenomena ini menjadi semacam anomali di era serba digital. Di tengah banjir foto berkualitas tinggi yang bisa diambil kapan saja, photobooth menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan kamera ponsel: pengalaman, sensasi, dan kenangan fisik yang bisa disentuh.
Kebangkitan photobooth bukan sekadar tren sesaat. Ia menjelma menjadi bagian dari gelombang budaya baru yang merayakan keunikan, spontanitas, dan bahkan ketidaksempurnaan.
Foto yang sedikit blur, pencahayaan tajam, atau pose yang kaku justru menjadi daya tarik tersendiri. Di situlah letak pesonanya.
Antusiasme warganet terhadap tren ini terlihat jelas di media sosial, khususnya TikTok. Konten bertema photobooth selama enam bulan terakhir menunjukkan lonjakan interaksi yang signifikan.
Bahkan, video bertema photobooth mampu meraih ratusan ribu likes, sementara tagar #photobooth terus dibanjiri unggahan dari berbagai kota di Indonesia.
Jika dahulu photobooth hanya menyajikan latar sederhana seperti tirai merah atau dinding polos, maka tahun 2025 menjadi era baru bertajuk thematic experience.
Pelaku usaha berlomba menghadirkan konsep imersif yang membuat pengunjung merasa sedang berada di dunia lain.
Tren ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga mulai menyebar ke wilayah Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Kudus.
Antusiasme anak muda terlihat di sejumlah kafe favorit anak muda yang belakangan mulai menghadirkan photobooth sebagai daya tarik tambahan.
Beberapa kafe di Kudus bahkan menghadirkan sudut khusus yang didesain menyerupai studio mini, lengkap dengan pencahayaan tematik dan dekorasi estetik.
Kehadiran photobooth di dalam area kafe ini membuat aktivitas nongkrong tak lagi sekadar soal kopi dan percakapan, tetapi juga tentang mengabadikan momen dalam bentuk foto cetak yang bisa langsung dibawa pulang.
Yang membuat tren ini semakin menarik adalah cara Gen Z memaknai setiap detailnya. Beberapa bingkai foto bahkan memuat teks dan simbol yang merujuk pada budaya populer, mulai dari musik independen, film, hingga era tertentu.
Tulisan tahun dan lokasi tertentu di dalam bingkai bukan sekadar dekorasi, melainkan penanda emosi dan memori yang hanya dipahami oleh mereka yang memiliki referensi yang sama.
Meski terkesan kuno, teknologi di balik photobooth modern justru sangat mutakhir. Pengguna bebas mengulang pengambilan gambar, mengatur pencahayaan, hingga menerima versi digital melalui pemindaian QR Code atau pengiriman email.
Artinya, kebutuhan era digital tetap terpenuhi, namun kini dilengkapi dengan pengalaman fisik yang lebih personal.
Bagi Generasi Z, berfoto di photobooth bukan hanya soal gaya. Ini adalah bentuk perlawanan halus terhadap dunia yang terlalu cepat dan terlalu virtual.
Di dalam boks kecil itu, mereka menemukan ruang untuk berhenti sejenak, tertawa bersama, dan menciptakan momen yang bisa benar-benar dipegang, bukan hanya disimpan di galeri ponsel.
Selembar foto yang mungkin akan ditempel di dinding kamar, diselipkan di dompet, atau dipajang di balik casing ponsel itu, perlahan berubah menjadi artefak kenangan. Sebuah bukti bahwa di tengah kecanggihan teknologi, manusia tetap membutuhkan sesuatu yang nyata. (rani)
Editor : Mahendra Aditya