Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dilema Ibu Bekerja: Di Antara Tuntutan Karier, Kecemasan, dan Rasa Bersalah Meninggalkan Bayi

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 4 Desember 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi Ibu dan Anak
Ilustrasi Ibu dan Anak

RADAR KUDUS - Bagi banyak perempuan, momen kelahiran anak seharusnya menjadi fase penuh kebahagiaan dan kedekatan emosional yang kuat.

Namun, kenyataannya tak selalu demikian.

Di berbagai belahan dunia, para ibu baru justru diliputi kecemasan dan rasa bersalah ketika harus kembali bekerja dan meninggalkan bayinya di usia yang masih sangat kecil.

Situasi ini mencerminkan dilema besar yang dihadapi perempuan modern: antara tuntutan profesional dan naluri keibuan.

Dalam wawancara yang dilakukan menjelang Hari Perempuan Sedunia, para ibu dari Amerika Serikat, Uruguay, Afrika Selatan, Singapura, hingga negara-negara Eropa, mengungkapkan kegelisahan yang serupa.

Mereka merasa seolah masyarakat lebih mengutamakan produktivitas kerja dibandingkan kesejahteraan keluarga dan tumbuh kembang anak.

Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara maju yang tidak memiliki kebijakan cuti melahirkan berbayar secara nasional.

Hal ini membuat banyak ibu terpaksa kembali bekerja lebih cepat demi menghindari kehilangan pendapatan dan posisi di tempat kerja.

Berbeda dengan AS, beberapa negara seperti Inggris dan Rusia memberikan cuti melahirkan yang jauh lebih panjang — bahkan bisa mencapai hitungan tahun.

Di Belarusia, misalnya, seorang ibu memiliki hak cuti untuk merawat anak hingga tiga tahun.

Selama periode tersebut, mereka tetap menerima tunjangan tertentu dari negara.

Kebijakan ini dinilai sangat membantu pertumbuhan anak sekaligus kesehatan mental sang ibu.

Namun di banyak negara lainnya, waktu cuti melahirkan masih sangat terbatas.

Data dari Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menunjukkan bahwa rata-rata cuti melahirkan di negara-negara anggotanya hanya sekitar 18 minggu.

Angka itu masih jauh dari kebutuhan emosional dan biologis seorang ibu dan bayinya.

Tidak semua ibu memiliki sistem dukungan keluarga yang kuat. Akibatnya, banyak perempuan terpaksa menghadapi tekanan psikologis sendirian.

Mereka tidak hanya memikirkan nasib anaknya di rumah, tetapi juga harus membuktikan kompetensi mereka di tempat kerja agar tidak dianggap terbebani peran sebagai ibu.

Di sisi lain, kesenjangan gender dalam dunia kerja masih menjadi persoalan besar.

Perempuan umumnya tetap menerima upah lebih rendah daripada laki-laki untuk pekerjaan yang sama.

Hal ini semakin mempertegas dilema: perempuan harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga, namun di saat yang sama mereka dinilai bersalah karena meninggalkan peran utamanya sebagai ibu.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: siapakah yang seharusnya menanggung beban utama pengasuhan anak? Mengapa peran ini hampir selalu ditempatkan di pundak perempuan?

Dilema ibu bekerja pada akhirnya bukan hanya persoalan individu, melainkan cerminan sistem sosial dan kebijakan nasional yang belum sepenuhnya berpihak pada keluarga.

Selama dunia masih menilai produktivitas lebih tinggi dibandingkan relasi keluarga, para ibu akan terus hidup di antara kecemasan dan rasa bersalah — sekalipun mereka hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk anak dan masa depannya. (rani)

Editor : Ali Mustofa
#anak #keluarga #ibu dan anak #Ibu Bekerja #working mom #perempuan #ibu