RADAR KUDUS - Tren konsumsi frozen food mengalami peningkatan signifikan sejak pandemi COVID-19.
Perubahan gaya hidup, pembatasan aktivitas, serta tuntutan kepraktisan membuat makanan beku menjadi solusi instan bagi banyak keluarga, terutama keluarga muda yang memiliki anak kecil.
Meski konsumsi makanan segar sempat kembali naik pada 2022, kenyataannya frozen food masih menjadi pilihan utama dalam keseharian.
Produk seperti nugget, sosis, bakso, dan olahan daging lainnya kini mudah dijumpai di berbagai tempat, mulai dari supermarket, toko kelontong, restoran cepat saji, hingga e-commerce.
Proses penyajian yang cepat, rasa yang gurih, serta bentuk yang menarik membuat anak-anak cenderung menyukainya.
Inilah yang kerap membuat orang tua, khususnya ibu bekerja, menjadikan frozen food sebagai solusi praktis.
Di sisi lain, beredarnya frozen food tanpa label yang jelas di pasar tradisional menjadi persoalan serius.
Beberapa produk dijual dalam kondisi curah, tanpa informasi produsen, tanggal kedaluwarsa, dan komposisi bahan.
Tak sedikit pula yang meniru merek terkenal. Kondisi ini membuat konsumen tidak dapat mengetahui apakah produk tersebut aman dikonsumsi, terutama oleh anak-anak.
Para ahli gizi mengingatkan bahwa makanan beku olahan umumnya mengandung lemak jenuh, natrium, serta bahan tambahan pangan seperti MSG, sodium nitrat, dan sodium nitrit dalam kadar tinggi.
Jika dikonsumsi secara berlebihan, kandungan ini dapat meningkatkan risiko hipertensi, gangguan kardiovaskular, obesitas, hingga penyakit metabolik sejak usia dini.
Kurangnya serat dalam frozen food juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti sembelit, diare, dan kembung berkepanjangan.
Dalam jangka panjang, pola makan yang tinggi garam, gula, dan lemak berpotensi memicu diabetes, penyakit jantung, bahkan meningkatkan risiko kanker apabila terdapat bahan berbahaya seperti formalin atau boraks.
Oleh karena itu, orang tua perlu lebih waspada dan teliti sebelum membeli.
Membaca label gizi, mengecek tanggal kedaluwarsa, memastikan adanya izin edar BPOM dengan kode MD (produk dalam negeri) atau ML (produk impor), serta memperhatikan takaran saji menjadi langkah penting demi menjaga kesehatan anak.
Batas konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) juga perlu diingat, yakni maksimal 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam (sekitar 2.300 mg natrium), dan 5 sendok makan lemak per hari untuk orang dewasa, dengan batas yang lebih kecil untuk anak-anak.
Tanpa kontrol yang tepat, satu kemasan frozen food bisa dengan mudah melebihi asupan harian anak.
Sebagai alternatif yang lebih sehat, pembuatan frozen food rumahan dapat menjadi solusi.
Nugget ayam, bakso, dimsum, hingga pancake dapat dibuat sendiri menggunakan bahan segar tanpa pengawet dan pewarna sintetis.
Selain lebih aman, orang tua juga dapat mengontrol kualitas, kebersihan, dan nilai gizi makanan tersebut.
Pada akhirnya, pilihan memberikan frozen food pada anak memang tak bisa dihindari sepenuhnya di tengah kesibukan orang tua.
Namun, keputusan tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan, kehati-hatian, dan kontrol yang ketat.
Kepraktisan seharusnya tidak mengorbankan kesehatan anak dalam jangka panjang.
Frozen food tetap bisa menjadi bagian dari konsumsi, asalkan diberikan secara bijak, tidak berlebihan, dan disertai pola makan seimbang dengan asupan sayur, buah, protein segar, serta air putih yang cukup.
Kepraktisan frozen food memang menggoda, terutama bagi orang tua sibuk. Namun, di balik kemudahannya tersimpan potensi risiko yang tidak bisa diabaikan.
Dengan lebih teliti membaca label, memilih produk yang aman, serta menyeimbangkannya dengan makanan segar dan bergizi, orang tua dapat melindungi anak dari dampak buruk di masa depan tanpa harus sepenuhnya meninggalkan kemudahan yang ditawarkan makanan beku. (rani)
Editor : Ali Mustofa