RADAR KUDUS - Media sosial kini tak cuma memengaruhi tren fashion atau gaya hidup, tapi juga cara Gen Z memandang dan memilih makanan.
Fenomena “makan demi konten” yang banyak beredar di TikTok dan Instagram menunjukkan bagaimana citra dan tampilan kini lebih diprioritaskan dibandingkan nilai gizi.
Menurut ahli gizi Kylie Sakaida, baik generasi Milenial maupun Gen Z tumbuh di era clean eating dan tren video #WhatIEatInADay, yang sering kali membuat persepsi “makan sehat” jadi salah kaprah.
“Kedua generasi ini sebenarnya peduli dengan kesehatan, tapi arus informasi di media sosial sering membuat mereka bingung,” ujar Kylie.
Penelitian juga menunjukkan bahwa lebih dari 70% Gen Z mencari tips makan sehat lewat media sosial padahal belum tentu semua konten yang mereka lihat benar secara ilmiah.
Berikut enam kesalahan pola makan yang sering dilakukan generasi muda menurut Kylie Sakaida:
1. Fokus pada Tampilan, Bukan Kandungan
Banyak anak muda menilai makanan sehat dari tampilannya harus estetik, penuh warna, dan cocok untuk difoto.
Padahal, kata Kylie, nutrisi sejati justru datang dari makanan sederhana yang memberi energi dan menjaga suasana hati.
“Makanan sehat tidak selalu terlihat cantik di kamera, tapi membuat tubuh terasa kuat dan seimbang,” jelasnya.
2. Terlalu Percaya Tren Makanan Viral
Hampir tiga perempat Gen Z mencari inspirasi makan dari TikTok dan Instagram.
Sayangnya, banyak yang terlalu mengandalkan tren seperti “girl dinner” atau “cottage cheese craze” tanpa memahami dasar gizi.
Kylie menyarankan fokus pada kebiasaan dasar seperti cukup protein, serat, air, dan sayuran ketimbang ikut-ikutan tren singkat.
3. Menjalani Pola Makan Terlalu Ekstrem
Detoks dan diet ketat sering dianggap jalan cepat menuju sehat. Namun, Kylie menilai pola seperti itu justru membuat tubuh lelah dan sulit bertahan lama.
“Kesehatan adalah perjalanan jangka panjang, bukan lomba kilat,” katanya.
4. Sering Melewatkan Waktu Makan
Tren intermittent fasting dan gaya hidup sibuk membuat banyak anak muda menahan lapar. Padahal, otak dan tubuh butuh bahan bakar untuk berfungsi optimal.
“Makan tepat waktu membantu stabilkan hormon dan emosi,” ujar Kylie.
5. Merasa Bersalah Saat Makan Cepat Saji
Kylie menilai bahwa merasa bersalah karena makan makanan instan atau siap saji tidak perlu terjadi.
Selama pilihan tetap seimbang, makanan praktis bisa jadi bagian dari gaya hidup sehat.
“Kesehatan itu realistis, bukan perfeksionis,” tegasnya.
Baca Juga: Gen Z dan Tren Junk Food: Gaya Hidup Praktis yang Berisiko
6. Menjadikan Makanan sebagai Ajang Pencitraan
Bagi sebagian Gen Z, makanan kini jadi alat sosial — menunjukkan gaya hidup sehat, mencoba restoran viral, hingga memamerkan menu estetik.
Kylie mengingatkan, kesehatan sejati tidak diukur dari unggahan media sosial, melainkan dari perasaan tubuh dan pikiran yang seimbang.
“Kita tak perlu terlihat sehat di layar untuk benar-benar hidup sehat,” tutupnya.(laura)
Editor : Ali Mustofa