RADAR KUDUS - Di tengah tekanan sosial, tuntutan karier, dan derasnya arus digitalisasi, kesehatan mental menjadi perhatian serius bagi generasi muda.
Namun, berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung meluapkan perasaan lewat cerita kepada teman atau keluarga.
Gen Z memilih jalannya sendiri, yaitu self-reward, dengan memberi penghargaan kepada diri sendiri sebagai bentuk perawatan mental.
Budaya Baru dalam Mengelola Stres
Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Generasi Z hidup dalam era serba cepat, di mana ekspektasi sosial, tekanan akademik, hingga citra diri di media sosial kerap menumpuk menjadi beban mental.
Alih-alih bercerita, banyak dari mereka lebih memilih cara instan untuk memulihkan diri, seperti berbelanja, menikmati kopi favorit, menonton film, atau bepergian ke tempat yang sedang viral.
Survei global McKinsey tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari separuh Gen Z di dunia memilih aktivitas self-care dan self-reward sebagai bentuk pengelolaan stres dibandingkan membicarakan masalah dengan orang lain.
Artinya, bagi banyak anak muda, menyenangkan diri sendiri adalah bentuk penyembuhan yang paling efektif.
Baca Juga: Dari Playlist Sedih sampai Jalan Tengah Malam, Inilah Cara Gen Z Menikmati Hidup
Mengapa Self-Reward Lebih Dipilih?
Ada beberapa alasan mengapa self-reward menjadi pilihan utama Gen Z.
Pertama, rasa takut dihakimi sering kali membuat mereka enggan terbuka tentang masalah pribadi.
Di media sosial, di mana citra positif sangat dijaga, menampilkan sisi lemah bisa dianggap tabu.
Kedua, kemandirian emosional menjadi nilai yang dijunjung tinggi. Mereka ingin menunjukkan bahwa kebahagiaan bisa diciptakan tanpa bergantung pada orang lain.
Ketiga, self-reward dianggap lebih konkret. Membeli sesuatu atau melakukan aktivitas menyenangkan memberi efek cepat untuk memperbaiki suasana hati.
Contohnya, setelah minggu yang melelahkan, seorang mahasiswa mungkin memilih membeli sepatu baru atau sekadar menikmati waktu sendiri di kafe favorit sebagai bentuk penghargaan terhadap usahanya.
Pandangan Psikologi: Antara Efektif dan Perlu Dibatasi
Dari perspektif psikologis, kebiasaan memberi penghargaan kepada diri sendiri memang memiliki sisi positif.
Aktivitas ini dapat meningkatkan kadar dopamin, hormon yang berperan dalam rasa bahagia dan motivasi.
Dengan begitu, seseorang merasa lebih puas, bersemangat, dan memiliki dorongan untuk terus berusaha.
Selain itu, self-reward juga membantu meningkatkan harga diri dan rasa percaya diri.
Mengakui kerja keras pribadi, sekecil apa pun, dapat menciptakan perasaan berharga yang penting untuk kesehatan mental.
Namun, di sisi lain, kebiasaan ini juga perlu dijalankan dengan kendali dan kesadaran.
Jika self-reward dijadikan pelarian dari masalah atau dilakukan secara berlebihan—misalnya, belanja impulsif yang melampaui kemampuan finansial—justru bisa menimbulkan stres baru.
Baca Juga: Main Character Energy: Saat Gen Z Jadi Tokoh Utama dalam Cerita Hidupnya Sendiri
Cara Bijak Melakukan Self-Reward
Agar kebiasaan ini tetap sehat dan bermanfaat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
-
Tetapkan batasan. Pastikan penghargaan yang diberikan sebanding dengan usaha dan tidak merugikan diri sendiri.
-
Gabungkan dengan refleksi. Setelah memberi hadiah pada diri sendiri, luangkan waktu untuk merenungkan pencapaian yang telah diraih.
-
Jangan lupakan dukungan sosial. Meski self-reward efektif, berbagi cerita dengan orang tepercaya tetap penting untuk menjaga keseimbangan emosi.
Merayakan Diri dengan Kesadaran
Self-reward mencerminkan perubahan cara berpikir Gen Z terhadap kesehatan mental: bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari orang lain, melainkan bisa dibangun dari diri sendiri.
Namun, kebiasaan ini akan lebih bermakna jika dilakukan dengan kesadaran, keseimbangan, dan tidak berlebihan.
Menghargai diri bukanlah bentuk egoisme, melainkan langkah kecil menuju kesejahteraan mental yang lebih baik.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, self-reward bisa menjadi jeda kecil yang menyelamatkan. (rani)
Editor : Ali Mustofa