RADAR KUDUS - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kuliner Indonesia terus diguncang oleh fenomena makanan viral—sebuah tren yang lahir dari kekuatan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube.
Hanya dengan satu video pendek, makanan yang sebelumnya tak dikenal bisa mendadak menjadi pusat perhatian publik.
Tren ini begitu cepat menyebar, terutama di kalangan generasi muda, yang dikenal memiliki rasa ingin tahu tinggi dan cenderung mengikuti perkembangan digital dengan cepat.
Daya tarik makanan viral biasanya tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada tampilan dan konsepnya yang unik.
Makanan seperti cromboloni, milk bun, dan cokelat Dubai menjadi contoh bagaimana estetika visual mampu menggerakkan selera publik.
Dalam sekejap, foto atau video seseorang yang menggigit roti berlapis krim lembut atau cokelat cair bisa memicu gelombang keinginan untuk ikut mencoba.
Namun, di balik popularitasnya yang menggoda, tren ini menyimpan persoalan serius terkait pola konsumsi dan kesehatan masyarakat—terutama Generasi Z.
Banyak dari produk makanan viral tersebut ternyata mengandung kadar gula, lemak, dan kalori yang cukup tinggi.
Kandungan semacam itu, bila dikonsumsi secara berlebihan, dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, hingga gangguan metabolisme.
Fenomena ini tidak terlepas dari fear of missing out (FOMO) yang melekat pada perilaku konsumtif Gen Z.
Demi tidak ketinggalan tren, banyak dari mereka rela antre panjang, membeli makanan mahal, bahkan mencicipi produk yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh mereka.
Kepuasan yang diperoleh sering kali bersifat sesaat—sekadar untuk diabadikan di media sosial, bukan untuk dinikmati secara sadar.
Selain faktor sosial, budaya global juga berperan besar dalam membentuk tren makanan viral.
Pengaruh kuliner dari Jepang, Korea Selatan, Prancis, hingga China begitu kuat, menghadirkan inovasi rasa yang semakin beragam.
Namun, adaptasi tanpa kesadaran nutrisi sering membuat masyarakat terlena oleh tampilan menarik tanpa memperhatikan nilai gizi yang sebenarnya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pakar kesehatan.
Menurut sejumlah penelitian, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak dapat menurunkan tingkat kebugaran dan produktivitas jangka panjang.
Dalam jangka waktu tertentu, pola makan tidak seimbang bisa memicu gangguan hormonal dan mental, seperti fatigue atau kecanduan makanan manis.
Meski begitu, bukan berarti tren makanan viral harus dihindari sepenuhnya. Mencicipi hal baru sesekali bukanlah masalah selama dilakukan dengan bijak.
Keseimbangan menjadi kata kunci: menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, dan memahami batas konsumsi diri sendiri.
Generasi Z sebagai penerus bangsa memiliki tanggung jawab besar untuk membangun kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat.
Menikmati tren kuliner bisa menjadi bagian dari gaya hidup modern, tetapi tidak boleh mengorbankan kesehatan fisik dan mental.
Tren makanan viral akan terus datang silih berganti, mengikuti arus kreativitas dan algoritma media sosial.
Namun, di tengah hiruk pikuk tren tersebut, satu hal yang tidak boleh dilupakan: kesehatan tetap menjadi modal utama untuk menikmati hidup.
Sebelum tergoda untuk mencoba makanan viral berikutnya, ada baiknya bertanya pada diri sendiri — apakah makanan ini sekadar tren, atau benar-benar bermanfaat bagi tubuh?
Karena di balik rasa manis dan tampilan estetiknya, tidak ada yang lebih berharga daripada tubuh yang sehat dan seimbang. (rani)
Editor : Ali Mustofa