RADARKUDUS - Ungkapan terkenal "Aku berpikir, maka aku ada" yang merupakan terjemahan dari frasa Latin "Cogito, ergo sum" adalah pernyataan filosofis kunci dari René Descartes, bapak filsafat modern.
Makna utama dari ungkapan ini adalah bahwa aktivitas berpikir adalah satu-satunya hal yang tidak dapat diragukan.
Dan dengan demikian, menjadi bukti paling dasar dan tak terbantahkan dari keberadaan diri (eksistensi) seseorang.
Descartes memulai pencariannya akan kebenaran mutlak dengan meragukan segala sesuatu segala pengetahuan yang didapat dari indra, bahkan keberadaan dunia luar atau tubuhnya sendiri.
Namun, Descartes menyadari bahwa tindakan meragukan itu sendiri adalah suatu bentuk berpikir. Jika ia meragukan, maka pasti ada sesuatu yang meragukan.
Oleh karena itu, bahkan ketika dirinya ragu akan segalanya, itu tidak dapat meragukan bahwa dirinya ada sebagai suatu entitas yang berpikir, yang dalam hal ini adalah dirinya sendiri.
Inti dari "Aku berpikir, maka aku ada" adalah menetapkan fondasi yang kokoh bagi pengetahuan.
Bagi Descartes, kesadaran diri sebagai makhluk yang berpikir adalah kepastian pertama (primum philosophicum) yang menjadi titik tolak bagi semua pengetahuan lainnya.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa esensi atau jati diri manusia pada dasarnya adalah sebagai res cogitans (sesuatu yang berpikir).
Keberadaan fisik dan segala pengalaman eksternal dapat dipertanyakan, tetapi realitas batin dari proses berpikir keraguan, pemahaman, penegasan, penyangkalan, keinginan, dan perasaan adalah bukti eksistensi yang tidak dapat dihapus.
Dengan demikian, ungkapan ini tidak hanya sekadar penegasan tentang keberadaan,
tetapi juga sebuah deklarasi tentang pentingnya rasio atau akal sebagai inti dari kemanusiaan.
Editor : Ali Mustofa