Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Fenomena ‘Brain Rot’: Antara Kelelahan Digital dan Fakta Ilmiah

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 10 Oktober 2025 | 22:01 WIB
Ilustrasi Brain Rot
Ilustrasi Brain Rot

RADAR KUDUS - Istilah brain rot kini sering muncul di media sosial sebagai sebutan bagi kondisi ketika seseorang merasa otaknya “lelah” akibat terlalu lama bermain ponsel.

Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan menurunnya fokus dan kejenuhan berpikir setelah terus-menerus mengonsumsi konten ringan.

Meski demikian, istilah ini bukanlah istilah medis atau ilmiah yang diakui.

Fenomena ini semakin populer setelah beredar klaim bahwa kebiasaan menggulir layar selama berjam-jam dapat menyebabkan penyusutan jaringan abu-abu (gray matter) di otak, yakni bagian yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengaturan emosi.

Klaim tersebut memicu kekhawatiran bahwa penggunaan ponsel berlebihan dapat merusak fungsi otak.

Beberapa penelitian memang menemukan adanya hubungan antara penggunaan ponsel secara intens dan perubahan aktivitas di bagian otak yang berkaitan dengan fokus, motivasi, dan pengendalian diri.

Namun, penelitian semacam ini masih bersifat awal, dengan jumlah partisipan terbatas dan durasi yang relatif singkat.

Para ahli menilai, belum ada cukup bukti kuat untuk menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel menyebabkan kerusakan permanen pada otak manusia.

Selain itu, istilah seperti kecanduan ponsel masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Banyak orang menganggap dirinya “kecanduan” hanya karena sulit melepaskan diri dari perangkat, padahal belum tentu memenuhi kriteria gangguan adiksi.

Kebiasaan menggunakan ponsel secara berulang bukan berarti seseorang mengalami kecanduan klinis, melainkan bisa jadi bentuk perilaku kompulsif ringan yang masih bisa dikendalikan.

Meski begitu, penggunaan ponsel yang berlebihan tetap dapat menimbulkan dampak negatif, seperti penurunan konsentrasi, gangguan tidur, hingga stres.

Faktor-faktor ini muncul bukan karena otak “membusuk”, melainkan karena otak mengalami kelelahan akibat paparan rangsangan cepat dan terus-menerus.

Para peneliti juga mengingatkan bahwa otak manusia memiliki sifat neuroplastisitas, yaitu kemampuan untuk beradaptasi terhadap pengalaman baru.

Artinya, perubahan struktur otak karena aktivitas digital tidak selalu bersifat merusak.

Jika penggunaan teknologi dilakukan secara sadar dan produktif—misalnya untuk belajar, bekerja, atau berinteraksi positif—maka efeknya justru bisa memperkuat kemampuan kognitif tertentu.

Kesimpulannya, belum ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa ponsel dapat “membusukkan” otak. Yang terjadi lebih mungkin adalah penyesuaian otak terhadap pola hidup digital yang serba cepat.

Kunci utamanya terletak pada keseimbangan: menggunakan teknologi secukupnya, disertai aktivitas nyata yang melibatkan interaksi sosial, olahraga, dan istirahat mental yang cukup. (rani)

Editor : Ali Mustofa
#smartphone #Brain Rot #fakta ilmiah #kelelahan digital #kesehatan otak