Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

FOMO dan Trend Velocity: Dampak TikTok pada Remaja di Era Digital

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 3 Oktober 2025 | 22:52 WIB
Gen Z dengan barang sederhananya yang membuat rumahnya terlihat rapi dan nyaman
Gen Z dengan barang sederhananya yang membuat rumahnya terlihat rapi dan nyaman

RADAR KUDUS - Di era digital yang bergerak serba cepat, TikTok menjadi salah satu platform dengan pengaruh paling besar dalam membentuk gaya hidup, pola pikir, dan kebiasaan remaja.

Aplikasi ini telah diunduh ratusan juta kali, dengan Indonesia menempati posisi teratas sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna terbanyak.

Kehadiran TikTok membuat arus tren bergulir dalam kecepatan yang nyaris tanpa jeda.

Fenomena ini dikenal sebagai trend velocity, yaitu percepatan penyebaran tren atau informasi di dunia maya yang dapat mengubah pola konsumsi konten masyarakat hanya dalam hitungan jam, bahkan menit.

Remaja adalah kelompok yang paling sering terpapar kecepatan ini. Hampir seluruh remaja saat ini mengakses media sosial setiap hari, dengan mayoritas menggunakan lebih dari satu platform sekaligus.

TikTok, Instagram, dan media sosial lain saling bersaing menampilkan tren terbaru, mulai dari tantangan viral, gaya busana, musik, hingga opini politik.

Kondisi ini tidak hanya menciptakan hiburan, tetapi juga melahirkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO)—perasaan takut ketinggalan informasi, tren, atau aktivitas yang sedang ramai diperbincangkan orang lain.

FOMO muncul karena kebutuhan dasar manusia untuk diakui dan merasa terhubung dengan lingkungannya.

Remaja, yang sedang dalam proses pencarian jati diri, menjadi lebih rentan terhadap tekanan sosial ini.

Melihat teman sebaya aktif mengikuti tren tertentu sering kali menimbulkan perasaan cemas, iri, atau bahkan dorongan untuk segera ikut terlibat agar tidak dianggap “terlambat” atau “terpinggirkan.”

Ironisnya, semakin mereka berusaha selalu online, semakin besar pula risiko merasa tertinggal, sebab arus tren digital bergerak terlalu cepat untuk diikuti sepenuhnya.

Dampak psikologis dari kondisi ini nyata terlihat. Kecemasan, penurunan rasa percaya diri, dan sikap mudah membandingkan diri dengan orang lain kerap menjadi konsekuensi yang dialami.

Banyak remaja akhirnya terjebak pada pola penggunaan media sosial yang kompulsif, hanya untuk memastikan dirinya selalu berada “on trend.”

Namun, perlu diingat bahwa trend velocity tidak selalu berwajah negatif. Di sisi lain, kecepatan arus informasi juga bisa membuka peluang positif.

Remaja bisa memanfaatkannya untuk mengasah kreativitas, memperluas wawasan, bahkan menciptakan peluang ekonomi melalui konten digital.

Banyak anak muda yang berhasil membangun usaha, meningkatkan keterampilan, atau menyalurkan hobi berkat tren yang berkembang cepat di media sosial.

Karena itu, tantangan utama bukanlah menghentikan teknologi, melainkan bagaimana mengelolanya dengan bijak.

Literasi digital dan kesehatan mental harus menjadi fokus utama. Remaja perlu dibekali kemampuan untuk menyaring informasi, menetapkan batasan dalam penggunaan media sosial, serta mengembangkan identitas diri yang tidak bergantung pada validasi dunia maya.

Praktik sederhana seperti melakukan digital detox, menulis jurnal syukur, atau melatih kesadaran diri (mindfulness) terbukti dapat membantu mengurangi dampak negatif FOMO.

Selain itu, dukungan lingkungan sosial juga sangat penting. Peran keluarga, pendidik, serta pembuat kebijakan dibutuhkan untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat.

Dengan pendekatan yang tepat, arus informasi yang deras bukan hanya menjadi sumber kecemasan, tetapi juga wadah pembentukan remaja yang lebih tangguh, kritis, dan adaptif.

Akhirnya, fenomena trend velocity di era TikTok ini memberi kita pelajaran penting: yang paling menentukan bukan seberapa cepat kita mengikuti tren, melainkan seberapa sadar dan kuat kita dalam menjaga jati diri di tengah arus tren yang tak pernah berhenti.

Remaja perlu diarahkan untuk tidak sekadar menjadi “pengikut” tren, melainkan individu yang mampu memaknai, memilih, dan memanfaatkan tren secara bijak.

Dengan begitu, kehidupan digital bukan hanya sebatas ikut-ikutan, melainkan jalan menuju perkembangan diri yang lebih sehat dan bermakna. (rani)

 

Editor : Ali Mustofa
#fomo #Velocity #tik tok #Gen Z #media sosial