Begitu pula dengan ekstroversi yang tidak semata soal senang bersosialisasi, melainkan bagaimana energi seseorang diperoleh dari interaksi sosial.
Kesalahpahaman semakin besar ketika Gen Z menganggap bipolar hanya sekadar perubahan mood cepat.
Padahal, kondisi ini melibatkan episode mania dan depresi yang rumit dan harus didiagnosis tenaga medis.
Begitu juga dengan istilah “antisosial” yang sering disalahartikan sebagai tidak suka bergaul, padahal gangguan kepribadian ini mencakup perilaku manipulatif, impulsif, hingga tidak bertanggung jawab.
Maraknya Tren Self-Diagnosis di Media Sosial
Kalkulator kesehatan mental yang banyak beredar di platform digital semakin memicu tren ini.
Alat tersebut menawarkan tes instan dan anonim, namun akurasi dan keandalannya sangat diragukan (Cramer & Inkster, 2017).
Alih-alih membantu, hasil tes sering membuat anak muda salah menilai kondisi mereka, bahkan memperburuk keadaan jika tidak dibarengi konsultasi dengan profesional.
Memang, akses informasi tentang kesehatan mental di internet mendorong kesadaran Gen Z.
Menurut Naslund et al. (2020), sekitar 81% generasi ini mencari informasi medis, termasuk kesehatan jiwa, lewat internet.
Namun, derasnya arus informasi juga rentan menimbulkan misinformasi dan salah kaprah.
Karena itu, penting bagi Gen Z untuk mengandalkan sumber tepercaya serta berani mencari bantuan tenaga ahli.
Dampak Psikologis dari Self-Diagnosis
Studi Ahmed (2017) menunjukkan bahwa self-diagnosis bisa membawa dampak ganda. Di satu sisi, meningkatkan kewaspadaan.
Namun di sisi lain, memicu kebingungan kognitif yang membuat individu tidak yakin dengan kondisinya sendiri.