Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Self-Diagnosis: Tren Gen Z yang Bisa Menjerumuskan

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 30 September 2025 | 22:06 WIB

Self Diagnosa : orang yang berkaca merasa insecure, introvert
Self Diagnosa : orang yang berkaca merasa insecure, introvert

RADAR KUDUS - Fenomena self-diagnosis kian marak di kalangan generasi Z, terutama terkait dengan kepribadian dan kesehatan mental.

Istilah seperti introvert, ekstrovert, bipolar, hingga antisosial sering digunakan tanpa pemahaman yang benar.

Banyak remaja menyebut diri introvert hanya karena nyaman sendiri, padahal introversi melibatkan aspek psikologis yang lebih kompleks.

Baca Juga: Mengapa Gen Z Lebih Rentan Terhadap Gangguan Kesehatan Mental?

Begitu pula dengan ekstroversi yang tidak semata soal senang bersosialisasi, melainkan bagaimana energi seseorang diperoleh dari interaksi sosial.

Kesalahpahaman semakin besar ketika Gen Z menganggap bipolar hanya sekadar perubahan mood cepat.

Padahal, kondisi ini melibatkan episode mania dan depresi yang rumit dan harus didiagnosis tenaga medis.

Begitu juga dengan istilah “antisosial” yang sering disalahartikan sebagai tidak suka bergaul, padahal gangguan kepribadian ini mencakup perilaku manipulatif, impulsif, hingga tidak bertanggung jawab.

Maraknya Tren Self-Diagnosis di Media Sosial

Kalkulator kesehatan mental yang banyak beredar di platform digital semakin memicu tren ini.

Alat tersebut menawarkan tes instan dan anonim, namun akurasi dan keandalannya sangat diragukan (Cramer & Inkster, 2017).

Alih-alih membantu, hasil tes sering membuat anak muda salah menilai kondisi mereka, bahkan memperburuk keadaan jika tidak dibarengi konsultasi dengan profesional.

Memang, akses informasi tentang kesehatan mental di internet mendorong kesadaran Gen Z.

Menurut Naslund et al. (2020), sekitar 81% generasi ini mencari informasi medis, termasuk kesehatan jiwa, lewat internet.

Namun, derasnya arus informasi juga rentan menimbulkan misinformasi dan salah kaprah.

Karena itu, penting bagi Gen Z untuk mengandalkan sumber tepercaya serta berani mencari bantuan tenaga ahli.

Dampak Psikologis dari Self-Diagnosis

Studi Ahmed (2017) menunjukkan bahwa self-diagnosis bisa membawa dampak ganda. Di satu sisi, meningkatkan kewaspadaan.

Namun di sisi lain, memicu kebingungan kognitif yang membuat individu tidak yakin dengan kondisinya sendiri.

Baca Juga: Indonesia dalam Krisis Kesehatan Mental, Rawan Stres Berat, Mengapa Bisa Terjadi?

Banyak anak muda yang menggunakan tes online lalu merasa memiliki gejala tertentu.

Mereka mencoba menghindari perilaku yang dianggap “abnormal”, tetapi justru semakin cemas dan kehilangan fokus.

Saat keyakinan bahwa dirinya “tidak normal” menguat, muncul rasa putus asa dan anggapan bahwa kondisi mentalnya sulit disembuhkan.

Fenomena ini menggambarkan bagaimana self-diagnosis di media sosial justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis Gen Z, alih-alih membantu.

Edukasi publik dan bimbingan profesional menjadi kunci agar kesadaran kesehatan mental tidak berubah menjadi jebakan yang membutakan.

Editor : Ali Mustofa
#Kesehatan Mental Gen Z #Introvert ekstrovert #Pengaruh media sosial #Bipolar antisocial #Self Diagnosis