RADAR KUDUS - Sebuah studi terbaru dari Intelligent, lembaga konsultan pendidikan dan pengembangan karier, menyingkap fenomena mengejutkan seputar karyawan muda dari generasi Z.
Berdasarkan temuan survei tersebut, sekitar enam dari sepuluh perusahaan mengaku terpaksa memutuskan hubungan kerja dengan lulusan baru yang direkrut tahun ini.
Hasil riset ini menyoroti sederet penyebab utama, antara lain semangat kerja dan inisiatif yang rendah, perilaku kurang profesional.
Keterampilan komunikasi yang belum matang, hingga ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan ritme dan budaya perusahaan.
Menurut Huy Nguyen, penasihat senior Intelligent, kesenjangan antara lingkungan pendidikan yang lebih terstruktur dan tuntutan dunia kerja yang serba dinamis membuat banyak fresh graduate kewalahan.
Dunia kerja, kata dia, mengharuskan karyawan muda untuk bekerja lebih mandiri, cepat beradaptasi, dan siap menerima tuntutan yang lebih tinggi dibandingkan saat mereka masih kuliah.
Fenomena ketergantungan pada orang tua juga terungkap dalam survei lain oleh ResumeTemplates pada April lalu.
Sekitar 70 persen responden generasi Z mengaku meminta bantuan orang tua dalam proses mencari pekerjaan.
Bahkan seperempat di antaranya hadir bersama orang tua saat wawancara kerja, dan sebagian lagi meminta orang tua membantu mengirimkan lamaran atau menyusun resume mereka.
Berikut sepuluh faktor yang paling sering menjadi alasan perusahaan memberhentikan karyawan Gen Z menurut survei Intelligent:
-
Motivasi dan inisiatif yang rendah
-
Kurang profesional dalam bekerja
-
Lemah dalam pengelolaan dan perencanaan
- Komunikasi kurang efektif
-
Sulit menerima kritik atau masukan
-
Tidak sesuai budaya dan nilai perusahaan
Masalah adaptasi ini juga tercermin dari tingginya angka pengunduran diri di awal masa kerja.
Contohnya di Malaysia, dua karyawan muda baru-baru ini menjadi perbincangan setelah memutuskan mundur hanya dua hari setelah mulai bekerja.
Mereka sempat mengambil cuti sakit dan kemudian menyerahkan surat pengunduran diri tulisan tangan yang berisi alasan pribadi seperti sulitnya beradaptasi dengan iklim serta biaya hidup.
Fenomena ini mengindikasikan perlunya persiapan lebih matang bagi generasi muda sebelum terjun ke dunia kerja, serta penyesuaian strategi rekrutmen bagi perusahaan agar lebih efektif mendukung karyawan baru.
Editor : Ali Mustofa