Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hidup Terjebak Gengsi, Sukses di Mata Orang Lain tapi Sengsara di Diri Sendiri

Ali Mustofa • Jumat, 5 September 2025 | 15:56 WIB

Ilustrasi orang yang berpura-pura kaya demi gengsi.
Ilustrasi orang yang berpura-pura kaya demi gengsi.

 

RADAR KUDUS - Gengsi selama ini kerap dianggap persoalan sepele. Namun, kenyataannya fenomena ini semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya di kota besar, bahkan hingga ke pelosok desa, perilaku menjaga citra diri demi pandangan orang lain makin kuat terasa.

Sebagian orang menganggap gengsi sebagai simbol kehormatan. Ada yang percaya, tanpa gengsi seseorang tidak memiliki eksistensi.

Baca Juga: Berhenti Mengejar Sukses Semu! Inilah Jalan Menuju Keberhasilan Sejati, Berikut Rahasianya

Karenanya, banyak yang rela melakukan berbagai cara agar terlihat berkelas, meski faktanya harus menekan diri sendiri.

Padahal, gengsi berbeda dengan harga diri. Harga diri lahir dari kesadaran dan sikap jujur pada realitas, sementara gengsi berakar dari haus pengakuan dan mabuk popularitas.

Jika harga diri kokoh, maka wibawa akan muncul dengan sendirinya, tanpa perlu dibungkus gengsi. Sayangnya, banyak orang justru menukar harga diri demi gengsi.

Gaya Hidup Semu

Demi gengsi, gaya hidup pun ikut dipaksakan. Ada ibu rumah tangga yang rela membeli telepon genggam mewah dengan kartu kredit, padahal suami hanya berpenghasilan pas-pasan.

Akibatnya, tunggakan sekolah anak terbengkalai, sementara cicilan menumpuk. Kasus seperti ini bukan satu-dua, melainkan banyak terjadi.

Fenomena serupa juga terlihat saat pesta pernikahan. Pasangan muda rela menggelar resepsi besar-besaran dengan dekorasi mewah dan busana mahal, meski harus berutang.

Setelah pesta usai, kehidupan rumah tangga justru diawali dengan beban finansial.

Dalam dunia pendidikan, orang tua pun sering terjebak. Demi gengsi, anak disekolahkan di lembaga ternama yang biayanya selangit, meski tidak sesuai kemampuan.

Baca Juga: 7 Lapisan Diri Manusia yang Mengungkap Jalan Mengenal Allah SWT

Alasannya sederhana, malu jika anak tidak menempuh pendidikan di sekolah “elit”.

Tak hanya soal konsumsi, dunia kerja pun ikut terdampak. Tidak sedikit sarjana menolak pekerjaan halal hanya karena dianggap tidak sesuai status sosial.

Mereka lebih memilih menganggur daripada bekerja kasar, padahal pekerjaan itu bisa mencukupi kebutuhan.

Padahal Rasulullah SAW telah memberikan teladan. Beliau memuji tangan seorang sahabat yang kasar karena bekerja keras menebang kayu.

Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa pekerjaan halal, meskipun sederhana, lebih mulia daripada bermalas-malasan atau hidup dari belas kasihan orang lain.

Baca Juga: Persahabatan Sejati Kian Langka, Waspada! Tidak Semua Teman Bisa Dipercaya

Pekerjaan mencari kayu di hutan lebih baik nilainya di mata Allah SWT, ketimbang menganggur dan menjadi beban orang lain. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:

“Yang sangat menakutkan atas umatku adalah banyak makan, lama tidur, serta malas bekerja. Pengangguran akan menjadikan seorang manusia keras hati.”(HR. At-Tirmidzi)

Sebaliknya Rasulullah menganjurkan kita untuk bekerja keras dan bersikap mandiri. Beliau SAW bersabda:

“Tidaklah seseorang makan-makanan yang lebih baik kecuali dari hasil kerja keras tangannya sendiri,” (HR. Bukhari)

Faktor Penyebab dan Dampak Negatif Gengsi

Fenomena gengsi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pertama, pola asuh orang tua. Sejak kecil anak sering ditanamkan rasa malu dengan kata-kata,

“Nak, pakai baju bagus biar tidak dipandang rendah orang.”

Kedua, lingkungan sosial yang menilai seseorang dari tampilan luar. Ketiga, paparan media dan budaya populer yang memamerkan gaya hidup selebriti.

Selain itu, kepribadian dan pengalaman hidup juga berperan. Rendahnya rasa percaya diri atau trauma masa lalu membuat seseorang lebih mudah terjebak dalam gengsi.

Baca Juga: Rahasia Sahabat Sejati Terungkap! Syekh Ibnu Athaillah Beberkan Kriteria yang Sering Dilupakan

Mereka takut dianggap rendah sehingga berusaha tampil lebih dari kemampuan.

Hidup dalam gengsi membawa dampak serius. Secara finansial, orang mudah terjerat utang demi menjaga citra.

Secara sosial, hubungan bisa retak karena persaingan gengsi. Secara psikologis, gengsi menimbulkan stres, rasa iri, bahkan depresi karena selalu merasa kurang.

Lebih jauh lagi, gengsi juga memicu tindakan menyimpang. Tak sedikit pejabat yang terjerumus korupsi demi memenuhi gaya hidup mewah.

Di tingkat masyarakat, gengsi memicu pertengkaran hanya karena soal status atau perbedaan simbol prestise.

Jalan Keluar

Islam menekankan pentingnya hidup sederhana dan bersyukur. Rasulullah SAW bersabda bahwa pekerjaan terbaik adalah dari hasil tangan sendiri.

Para nabi pun memberi teladan sebagai pekerja keras—Nabi Daud membuat baju besi, Nabi Nuh membangun kapal, Nabi Musa menggembala, hingga Nabi Muhammad SAW berdagang.

Dengan meneladani mereka, jelas bahwa kehormatan sejati bukan berasal dari gengsi, melainkan dari kerja keras, kejujuran, dan kemandirian.

Oleh karena itu, gengsi memang tampak indah di luar, tetapi sesungguhnya hanya menambah beban hidup.

Semakin tinggi gengsi yang dikejar, semakin berat tekanan yang dirasakan. Kehidupan pun menjadi rumit karena selalu dikendalikan oleh pandangan orang lain.

Hidup sederhana bukan berarti tidak sukses. Justru dengan kesederhanaan, seseorang bisa lebih tenang, bersyukur, dan fokus pada hal-hal yang lebih bernilai.

Karena sejatinya, manusia tidak hidup dari gengsi, melainkan dari ridha Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Ankabut ayat 68.

Artinya: "Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan".

Editor : Ali Mustofa
#bekerja keras #gaya hidup #Gengsi #percaya diri