Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Coba Lakukan Tiga Cara Ini untuk Membedakan Sahabat Sejati dan Teman Palsu 

Ali Mustofa • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 16:05 WIB

Ilustrasi teman palsu
Ilustrasi teman palsu

RADAR KUDUS – Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak bisa lepas dari hubungan sosial. Setiap individu saling membutuhkan dan tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain.

Oleh karena itu, memiliki teman sangat penting, bahkan dianjurkan untuk memperbanyak sahabat yang baik.

Hakikat pertemanan adalah menjaga hubungan harmonis dengan sesama, yang dalam Islam disebut hablum minannas.

Baca Juga: Bijak Memilih Teman: Hindari Lima Tipe Orang Ini agar Hidupmu Lebih Tenang dan Bahagia

Melalui persahabatan, seseorang diharapkan saling menolong, mengingatkan, dan menasihati dalam kebaikan yang berlandaskan kejujuran.

Nilai utama dalam berteman adalah menjaga kerukunan, menjauhi pertengkaran, serta menghindari permusuhan.

Dalam pergaulan, adab harus selalu diperhatikan. Misalnya tidak boleh menyakiti, mengganggu, atau merugikan teman.

Ketika berbicara pun sebaiknya menggunakan kata-kata yang baik, santun, penuh kasih sayang, serta beretika.

Komunikasi yang sopan bukan hanya ditentukan oleh pilihan kata, tetapi juga oleh nada suara, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intonasi.

Sebaiknya hindari perdebatan yang tidak penting, apalagi yang hanya memicu permusuhan.

Baca Juga: Rahasia Menemukan Hidup Bahagia dan Bermakna dengan 10 Prinsip Kehidupan 

Belajar menempatkan diri di posisi orang lain akan menumbuhkan empati, karena setiap orang pada dasarnya ingin dihargai dan dijaga perasaannya.

Namun, dalam menjalin persahabatan, manusia perlu selektif memilih lingkaran pertemanan.

Teman yang baik akan memberi pengaruh positif, sebaliknya teman yang buruk bisa menjerumuskan.

Lingkungan yang salah bisa menyeret pada keburukan, sedangkan lingkungan yang baik membawa keberkahan. Rasulullah SAW bahkan mengajarkan doa agar terhindar dari teman yang menipu dan berkhianat.

Membedakan sahabat sejati dengan sahabat palsu memang tidak mudah. Ada beberapa cara untuk mengujinya.

Baca Juga: Menata Visi Hidup dengan Cerdik Jadi Kunci Utama Sukses dan Bahagia Sejati

Pertama, lakukan perjalanan bersama. Saat itulah akan terlihat sifat asli seseorang, apakah ia setia, rela berkorban, atau justru egois.

Kedua, perhatikan sikapnya dalam urusan muamalah. Dalam perkara yang menyangkut keuntungan duniawi, karakter seseorang biasanya lebih jelas terlihat.

Ketiga, uji dengan amanah. Jika ia mampu menjaga titipan dengan baik, berarti ia memiliki integritas.

Sayangnya, ada orang yang gemar berjanji namun tidak menepati, suka meminjam tetapi tidak mengembalikan, bahkan cenderung memanfaatkan temannya.

Tipe teman seperti ini sebaiknya tidak dijadikan sahabat dekat karena hanya menguras energi, waktu, dan kesabaran.

Persahabatan sejati adalah hubungan yang dilandasi ketulusan, saling menguatkan, dan siap berkorban demi kebaikan bersama.

Bila dalam prosesnya muncul perbedaan atau pertengkaran, namun tetap ada keinginan untuk menjaga hubungan, itulah tanda adanya ketulusan.

Sebaliknya, jika hubungan berakhir hanya karena keinginan sesaat tidak terpenuhi, berarti persahabatan itu tidak berlandaskan kejujuran.

Editor : Ali Mustofa
#pertemanan #persahabatan #teman palsu #sahabat sejati