SIAPA sangka dari lari santai malam hari saat Ramadan, bisa tumbuh menjadi sebuah komunitas aktif yang digemari anak-anak muda. Itulah cerita di balik lahirnya Pleasure Running Club (PRC), komunitas lari asal Purwodadi yang resmi berdiri pada 29 Maret 2024.
Saat itu, Mahendra Rafli Putra Aztari dan teman-temannya ingin tetap bugar meski sedang berpuasa. Daripada hanya berkumpul tanpa aktivitas, mereka memilih untuk lari malam bersama.
Kegiatan spontan itu ternyata menarik minat banyak teman lain. Dari situlah lahir PRC, sebuah komunitas yang membawa semangat olahraga yang ringan, menyenangkan, dan terbuka untuk siapa saja.
“Motivasinya simpel, cuma pengen hidup lebih sehat lewat olahraga. Tapi ternyata dari lari bareng itu bisa jadi tempat buat banyak orang saling kenal, saling support, dan tumbuh bareng,” kata Rafli, pendiri sekaligus ketua PRC.
Meski namanya running club, PRC bukan komunitas yang menekankan kompetisi atau kejar podium. Mereka menyebut diri sebagai recreational runners—pelari yang berlari untuk menikmati proses, bukan mengejar waktu.
Kegiatan rutinnya mencakup Sunday Easy Run (SER) tiap Minggu pagi dan Easy Night Distance (END) yang digelar malam hari.
Selain lari, mereka juga rutin bermain badminton dan voli sebagai alternatif olahraga yang bisa dinikmati bersama.
Dalam waktu dekat ini, PRC juga akan memulai jadwal rutin lari malam yang dimulai pada 11 Juli 2025.
Nantinya akan dikemas lebih menarik lewat kolaborasi bersama 60 Kopi. Lewat kerja sama ini, PRC ingin membuat olahraga terasa lebih hangat dan akrab—larinya dapat, nongkrongnya juga jalan.
Tak hanya itu, PRC juga akan meramaikan event anniversary Café dan Resto Mitalogy pada 27 Juli 2025, sebagai bagian dari kegiatan lari komunitas yang dikemas dengan nuansa hangout kekinian.
Menurutnya, PRC hadir sebagai komunitas independen tanpa afiliasi dengan lembaga atau organisasi manapun.
Filosofinya sederhana: ingin memperkenalkan bahwa di Purwodadi ada komunitas lari yang santai, aktif, dan mewakili semangat anak muda.
“Yang penting, orang-orang tahu bahwa olahraga itu nggak harus berat atau mahal. Bisa kok mulai dari yang ringan dan bareng-bareng. Apalagi kalau rame-rame pasti lebih seru,” ujar Rafli.
Dengan jumlah anggota yang kini telah mencapai 100 orang lebih, PRC terbuka untuk umum, tanpa biaya. Siapa saja bisa bergabung, baik yang baru pertama kali mencoba lari, maupun yang sudah terbiasa berolahraga.
Sebagai mantan atlet lari tingkat kabupaten (2017–2020), Rafli membawa pengalaman dan semangat edukasi ke dalam komunitas. Ia ingin para anggota—terutama pemula—bisa belajar cara berlari yang aman, nyaman, dan bikin ketagihan.
“Kami juga inginbbantu mereka yang biasanya ikut-ikutan tren lari atau fomo, supaya tahu cara mulai lari dengan aman. Biar nggak gampang cedera, dan tetap enjoy,” katanya.
Lebih jauh lagi, PRC juga mulai menyusun kegiatan sosial. Salah satunya adalah charity run yang hasilnya akan disumbangkan ke panti asuhan. Bagi PRC, olahraga bukan hanya tentang fisik, tapi juga soal peduli dan berbagi.
Ke depan, PRC berharap bisa menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin hidup sehat, mulai dari langkah-langkah kecil. Tidak harus lari jauh, tidak harus kuat, yang penting mau mulai.
“Target kami bukan soal jumlah, tapi soal impact. Bisa ngajak orang yang tadinya takut olahraga jadi suka. Bisa bantu mereka yang ngerasa asing dengan olahraga jadi punya teman,” pungkas Rafli. (int)
Editor : Mahendra Aditya