RADAR KUDUS - Di media sosial, tak sedikit Gen Z yang mengungkapkan keresahan mereka soal merasa "menua" lebih cepat dari usia sebenarnya.
Fenomena psikologis ini rupanya punya akar yang cukup dalam, terutama di era digital yang bergerak begitu cepat.
Di tengah dinamika antar-generasi, muncul kecenderungan yang cukup menarik: Generasi Z merasa lebih dewasa secara mental, sedangkan generasi Milenial justru mempertahankan semangat muda mereka.
Baca Juga: Waduh! Ramai Dugaan Praktik PSK di Sekitar IKN, Tarif Capai Rp400 Ribu Sekali Kencan
Kondisi ini tak lepas dari gaya hidup, kemajuan teknologi, serta pergeseran persepsi tentang makna kedewasaan.
Gen Z yang tumbuh di era serba online, cenderung ingin terlihat dewasa agar dianggap keren dan tak “ketinggalan zaman” di media sosial.
Hal ini membuat mereka berusaha menampilkan citra matang, meski usia mereka masih muda.
Sebaliknya, banyak Milenial yang memilih untuk tetap hidup dengan jiwa muda, menikmati tren kekinian, dan menolak untuk terburu-buru menjalani peran konvensional orang dewasa.
Dalam artikel “The Age Paradox of Gen Z” yang dimuat di sinardaliy.my(2025), disebutkan bahwa Gen Z mengalami fenomena “digital duality” – hidup di antara dunia profesional yang dewasa dan budaya digital remaja.
Ketegangan ini menjadikan mereka merasa lebih tua secara emosional dibandingkan generasi sebelumnya.
Mengapa Gen Z Merasa Lebih Dewasa dari Usianya
Sebagai generasi termuda yang kini aktif di dunia kerja, Gen Z menghadapi tekanan besar untuk tetap up-to-date.
Perubahan tren yang begitu cepat – mulai dari gaya busana, istilah gaul, hingga platform digital – menuntut mereka untuk selalu menyesuaikan diri.
Perasaan “kalau nggak update berarti tua” menjadi keresahan nyata.
Kehadiran Gen Alpha yang lebih muda dan lebih mahir teknologi turut memperkuat perasaan itu. Gen Z tak lagi jadi "adik bungsu" dalam silsilah generasi.
Selain itu, sejak usia remaja mereka sudah terbiasa menjalani kehidupan multitugas: mulai dari belajar daring, menjalani pekerjaan sampingan, menciptakan konten, hingga membangun personal branding.
Semua ini menumbuhkan kesan bahwa mereka cepat matang, meski secara mental belum sepenuhnya siap.
Milenial: Usia Bertambah, Jiwa Tetap Muda
Berbeda dengan Gen Z, para Milenial justru menunjukkan kecenderungan untuk mempertahankan semangat muda.
Banyak di antara mereka memilih menunda hal-hal konvensional seperti menikah, punya anak, atau membeli rumah.
Bagi Milenial, kedewasaan bukan lagi ditentukan oleh pencapaian tradisional, melainkan dari cara hidup yang mereka pilih.
Gaya hidup mereka mencerminkan semangat itu: masih senang traveling, ngopi di kafe trendi, mengoleksi barang hobi, hingga aktif mengikuti tren di media sosial.
Lihat saja figur-figur publik seperti Raisa, Tatjana Saphira, atau Dian Sastro, yang tetap tampil modis dan energik, seolah tak terpengaruh usia.
Tak hanya itu, Milenial juga aktif mengejar hal-hal kekinian, mulai dari menonton drama Korea, membuat konten lucu, hingga menari di TikTok.
Semua ini membuat mereka merasa tetap muda meski usia sudah masuk kepala tiga atau empat.
Saat Gen Z Terlihat Lebih Tua dari Milenial di Dunia Maya
Fenomena ini semakin mencuat di media sosial. Banyak meme memperlihatkan perbandingan antara Gen Z usia 15 tahun dengan Milenial di usia yang sama.
Publik kerap terkejut melihat penampilan Gen Z yang sudah tampil dewasa – dari makeup lengkap, gaya berpakaian matang, hingga perawatan kecantikan seperti eyelash extension, nail art, hingga skincare rutin.
Tren ini menciptakan semacam kesenjangan persepsi, di mana Gen Z kerap dinilai lebih dewasa dari sisi tampilan maupun cara berpikir, padahal mereka tumbuh dalam konteks budaya yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa makna usia dan kedewasaan terus bergeser dari waktu ke waktu. Bagi Gen Z, rasa “menua” bukan lagi soal umur di KTP, tetapi tentang betapa cepatnya dunia bergerak di sekitar mereka.
Sementara bagi Milenial, "muda" adalah soal pilihan hidup dan cara mereka menatap dunia. (Octa Afriana A)
Editor : Ali Mustofa