Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengapa Kita Cenderung Menyalahkan Diri Sendiri Terlalu Berat? Ini Kata Ahli Psikologi

Redaksi Radar Kudus • Senin, 30 Juni 2025 | 22:12 WIB
Ilustrasi orang yang sedang menyalahkan dirinya sendiri
Ilustrasi orang yang sedang menyalahkan dirinya sendiri

RADAR KUDUS - Berbicara kepada diri sendiri, atau yang dikenal sebagai self-talk, baik secara batin maupun lisan, merupakan bagian dari proses berpikir manusia.

Namun, dalam beberapa situasi, self-talk ini bisa bersifat negatif, seperti saat kita mengkritik diri sendiri.

Umumnya, ketika seseorang menghakimi dirinya sendiri, nada kritiknya bisa jauh lebih keras dibandingkan saat mengkritik orang lain.

Baca Juga: Resmi! Lee Do Hyun Pilih 'Grand Galaxy Hotel' sebagai Drama Comeback Pasca Wajib Militer

Lantas, apa penyebabnya?

Kritik diri termasuk dalam bentuk self-talk yang negatif dan sering kali terasa sangat menyakitkan.

Psikolog Kezia menjelaskan bahwa seseorang bisa jauh lebih keras terhadap dirinya sendiri karena tidak ada batasan dari luar yang menghentikannya.

“Tak ada yang akan menyela dan berkata kalau hal itu tidak benar,” ujarnya.

Sebaliknya, saat menyampaikan kritik ke orang lain, kita cenderung menahan diri karena ada risiko atau konsekuensi sosial.

“Kalau kita terlalu kasar pada orang lain, bisa timbul konflik, merusak hubungan, atau bahkan membuat komunikasi terputus,” lanjut Kezia.

Faktor sifat kompetitif

Sementara itu, Felicia Kawilarang, pendiri Ryse and Shyne, mengakui bahwa ia sangat keras saat menilai dirinya sendiri karena sifat kompetitif yang dimilikinya.

“Saya sering berpikir, ‘Saya seharusnya bisa lebih baik.’ Lalu saya mulai membandingkan diri dengan orang lain, merasa heran kenapa mereka bisa, sementara saya belum,” jelasnya.

Saat menjalani terapi untuk mengatasi negative self-talk, Felicia pun menyadari bahwa sifat kompetitif dan ambisius yang dimilikinya menjadi penyebab utama kritik yang tajam terhadap dirinya.

“Setelah menjalani sesi terapi, saya menyadari bahwa sifat kompetitif dan ambisius saya membuat saya sering terlalu keras terhadap diri sendiri. Karena itu, penting untuk belajar menghentikan pola berpikir negatif tersebut,” ucapnya.

Meski begitu, bukan berarti kita tidak boleh mengevaluasi diri. Yang penting adalah mengubah cara menyampaikannya menjadi lebih membangun dan menyemangati.

Contohnya, ketika merasa hari ini kurang produktif, katakan pada diri sendiri bahwa tak apa-apa, karena besok masih ada kesempatan untuk melakukan yang lebih baik.

Misalnya adalah ketika sedang merasa bahwa apa yang dilakukan hari ini kurang cukup, itu tidak apa-apa karena kita bisa mencoba melakukannya dengan lebih baik lagi di esok hari.


Editor : Ali Mustofa
#self talk #psikolog #ambisius #kompetitif #menyalahkan diri sendiri