Menurutnya, ketika cahaya tidak lagi hadir, tubuh akan mengaktifkan sistem alami untuk memperbaiki dan memulihkan diri.
“Dalam kondisi tanpa cahaya, tubuh bekerja lebih tenang. Sel-sel yang bertanggung jawab terhadap perbaikan jaringan akan aktif dengan maksimal,” jelas dr. Tirta.
Salah satu sel yang memiliki peran penting dalam proses ini adalah melanosit.
Meski dikenal sebagai penghasil melanin, sel ini disebut turut berkontribusi dalam proses regenerasi saat seseorang tertidur lelap.
Ia menambahkan, gangguan cahaya saat tidur dapat menghambat kerja alami tubuh.
Paparan sinar, baik dari lampu kamar, gadget, hingga televisi, justru bisa memperlambat proses pemulihan, bahkan mengganggu produksi hormon melatonin yang dibutuhkan untuk mengatur siklus tidur.
“Kita sering tidak sadar, kebiasaan tidur dengan cahaya menyala bisa membuat tidur jadi tidak berkualitas,” ungkapnya.
Tak hanya berdampak pada fisik, suasana gelap saat malam hari juga memberikan ketenangan bagi otak.
Tanpa gangguan cahaya, otak akan berhenti menerima stimulus visual dan mulai fokus mengelola sistem tubuh lainnya. Efeknya, kualitas tidur menjadi lebih dalam dan stabil.
Sebagai solusi, dr. Tirta menyarankan beberapa langkah mudah seperti mematikan lampu utama, menggunakan tirai yang rapat agar cahaya luar tidak masuk, serta menjauhkan perangkat elektronik minimal satu jam sebelum tidur.
Dengan melakukan perubahan kecil ini, kata dia, tubuh bisa mendapatkan manfaat besar.
Tak hanya mempercepat pemulihan sel, tetapi juga menjaga keseimbangan hormon dan memperbaiki kesehatan mental dalam jangka panjang. (Labib Azka)