RADAR KUDUS – Penelitian dari Reuters telah menunjukkan bahwa anak muda zaman sekarang lebih memilih membaca berita dari media sosial ketimbang dari portal media resmi.
Hal tersebut ternyata juga menimbulkan perkembangan baru dari media hingga tumbuh sumber baru yang lebih dekat dijangkau dan cepat diakses.
Di Indonesia, kita sering menemukannya dalam akun seperti txtdari(nama kota), akun fess, info terkini dan lainnya.
Media-media yang tumbuh subur di media sosial seperti Instagram, Twitter hingga Tiktok tersebut dilabeli sebagai “homeless media” atau media yang tidak memiliki rumah.
Karena disebut tidak memiliki rumah yang jelas, mereka bisa pergi menghilang dan datang kembali.
Meski tidak diketahui jelas pemilik dan pembuat kontennya, media-media tersebut memiliki banyak audiens dan pembaca. Bahkan seringkali melebihi portal berita resmi.
Tak jarang mereka mendapatkan iklan yang cukup besar dari tingkat engagement dan jumlah followers yang mereka miliki.
Baca Juga: Mengenal Humble Bragging, Istilah Kekinian Merendah untuk Meroket
Berbeda dengan media resmi terverifikasi, homeless media seperti “Info Seputar Kudus”, “TxtdariHI” dan lainnya dinilai lebih mudah dijangkau oleh audiens dan mendapat interaksi secara real time dan intens.
Tumbuh kembangnya media tersebut ternyata pernah diprediksi oleh Francesco Marconi seorang ahli strategi media yang idenya telah dibaca banyak orang di berbagai belahan dunia.
Dalam artikelnya berjudul “The Rise of Homeless Media” menyebut, akun-akun tersebut menjadi bukti dari evolusi distribusi media digital.
Meski begitu, media-media homeless tersebut juga memiliki kelemahannya sendiri. Seperti tingkat kontrol yang rendah.
Baca Juga: Cara Mendinginkan Ruangan Tanpa AC: Hemat dan Ramah Lingkungan
Sehingga, informasi yang beredar dari akun tersebut juga tidak dapat dikontrol kebenarannya.
Homeless media juga tidak semuanya bersertifikat dewan pers dan memiliki jurnalis yang kompeten.
Sebagian masyarakat pun bingung akun-akun tersebut masuk dalam kategori media atau bukan.
Karena itu, banyak yang menyarankan konten dari akun-akun tersebut tidak bisa menjadi rujukan utama.
“Kalau di Instagram tiap daerah ada. Tahun 2016-an berawal dari repost postingan orang. Sekarang jadi media lokal dengan Bahasa konten creator jaman sekarang,” demikian tulis netizen.
Editor : Abdul Rokhim