Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Arti 'Tone Deaf' yang Muncul di Sosial Media karena Ulah Eria Gudono dan Kaesang Pangarep, Dianggap Tak Peka terhadap Masyarakat Indonesia?

Zakarias Fariury • Jumat, 23 Agustus 2024 | 16:33 WIB
ilustrasi
ilustrasi

RADAR KUDUS - Kaesang Pangarep dan istrinya, Erina Gudono, kembali menjadi pusat perhatian publik setelah perjalanan mereka ke Amerika Serikat menjadi sorotan netizen.

Pasangan ini disinyalir menggunakan pesawat pribadi untuk pelesiran tersebut, yang kemudian memicu gelombang kritik dari masyarakat di media sosial.

Baca Juga: Erina Gudono Menantu Jokowi Punya Gaya Hidup Mewah, Disebut Mirip dengan Permaisuri Istana Prancis Marie Antoinette?

Kritik tersebut semakin tajam mengingat isu panas yang tengah berkembang di Tanah Air, yaitu revisi Undang-Undang Pilkada oleh DPR RI, yang diduga dapat memberikan keuntungan politik bagi Kaesang, anak Presiden Joko Widodo.

Baca Juga: Viral Empat Video Syur Mirip Azizah Salsha Tersebar di X Twitter, Durasi Terpanjang Video 1 Menit 20 Detik

Di tengah gejolak politik tersebut, Erina Gudono justru mengunggah foto roti seharga Rp400 ribu serta belanjaan untuk bayi, yang semakin menyulut kemarahan masyarakat.

Unggahan tersebut dinilai sensitif oleh netizen, terutama dalam konteks situasi ekonomi yang sedang sulit bagi banyak orang di Indonesia.

Di platform X (sebelumnya Twitter), netizen pun ramai-ramai menggunakan istilah "tone deaf" untuk menggambarkan sikap Kaesang dan Erina yang dianggap tidak peka terhadap kondisi masyarakat.

Baca Juga: Link Video Syur Mirip Azizah Salsha Tak Hanya Viral di Twitter X Tapi Juga Telegram

Apa Itu "Tone Deaf"?

Istilah "tone deaf" yang sering muncul dalam kritik terhadap Kaesang dan Erina sebenarnya memiliki beberapa makna yang relevan dalam konteks sosial.

Secara harfiah, "tone deaf" yang dalam dunia musik merujuk pada jaminan seseorang untuk membedakan nada atau melodi dengan benar.

Namun, dalam penggunaan sehari-hari, terutama di media sosial, istilah ini telah berevolusi untuk menggambarkan sikap atau perilaku yang tidak peka terhadap situasi sosial yang tengah terjadi.

Baca Juga: Erina Gudono Menantu Jokowi Bikin Eksklusif Konten di Instagram, Netizen Wajib Bayar untuk Akses

Dalam kasus Kaesang dan Erina, istilah "tone deaf" Merujuk pada beberapa hal:

  1. Ketidakpekaan terhadap Kondisi

    Netizen menilai bahwa pasangan ini sering melakukan tindakan atau mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan konteks sosial atau ekonomi yang dihadapi masyarakat.

    Unggahan tentang barang-barang mewah di saat banyak orang sedang berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dianggap sebagai contoh nyata dari ketidakpekaan ini.

  2. Kurangnya Pemahaman terhadap Perasaan Orang Lain

    Kritikan juga mengarah pada ketidakmampuan Kaesang dan Erina untuk memahami atau merasakan emosi masyarakat yang tengah berjuang dengan berbagai kesulitan.

    Unggahan mereka di media sosial sering kali dianggap menyinggung perasaan banyak orang, terutama yang berada dalam situasi yang kurang beruntung.

    Baca Juga: Trending, Menantu Jokowi Erina Gudono Beli Minuman Erewhon Seharga Rp 300 Ribuan Per Gelas saat Liburan ke Amerika, Netizen: Merendah untuk Meroket?
  3. Tidak Menyadari Keistimewaan

    Sebagai anak presiden dan pasangan dari tokoh ternama, Kaesang dan Erina memiliki akses ke berbagai kemewahan yang tidak dimiliki oleh banyak orang.

    Ketidaksadaran mereka akan keistimewaan ini membuat mereka sering kali dianggap tidak mampu memahami perspektif orang-orang yang berbeda kelas sosial.

  4. Kurangnya Empati

    Banyak netizen yang melihat Kaesang dan Erina sebagai pasangan yang tampak tidak peduli dengan penderitaan orang lain.

    Unggahan mereka yang menunjukkan gaya hidup mewah di tengah kondisi ekonomi yang sulit bagi banyak orang dianggap sebagai bentuk kekurangan empati.

Reaksi Publik dan Dampak Sosial

Kritik terhadap Kaesang dan Erina menunjukkan betapa sensitifnya masyarakat terhadap isu-isu ketidakadilan sosial, terutama ketika hal itu melibatkan tokoh masyarakat.

Istilah “tuli nada” digunakan untuk menggambarkan sikap mereka yang mencerminkan kekecewaan dan kekecewaan masyarakat terhadap perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku.

Baca Juga: Kaesang Pangarep dan Erina Gudono Jalan-Jalan di California, Belanja Stroller hingga Pakai Jet Pribadi

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa figur masyarakat memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga citra dan perilaku mereka, terutama di hadapan masyarakat yang tengah mengalami berbagai kesulitan.

Di era digital, setiap tindakan dan pernyataan yang tidak peka dapat dengan cepat menjadi viral dan menuai kritik luas, seperti yang dialami oleh Kaesang dan Erina.

Baca Juga: Panas! Video Syur Mirip Azizah Salsha Viral di Media Sosial: Dari VCS hingga Bersama Dua Pria

Hingga saat ini, baik Kaesang Pangarep maupun Erina Gudono belum memberikan tanggapan resmi terhadap kritik yang dilontarkan oleh netizen.

Namun, kontroversi ini menjadi pelajaran penting bagi tokoh masyarakat lainnya tentang pentingnya menjaga sensitivitas dan empati, terutama dalam menghadapi situasi yang kompleks dan penuh tantangan seperti sekarang. (ury)

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#Erina Gudono #makna #indonesia #Kaesang - Erina #kaesang pangarep #Jokowi Kaesang #jokowi #viral