BERKUNJUNG ke Kabupaten Jepara tak akan lengkap jika belum menjajal lontong gebyur Tepi Kali Wiso. Kuliner sederhana yang telah lama diburu. Sebab telah menjadi denyut rasa khas Kota Ukir.
Salah satu warung yang kerap disebut, dari mulut ke mulut adalah Warung Pecel Pandean. Legendaris, cita rasa dua generasi.
Warung makan ini bukan sekadar tempat mengisi perut. Melainkan warung langganan para pegawai pemerintahan, warga sekitar, penikmat kuliner, hingga wisatawan yang sengaja singgah. Mampir.
Citarasa yang disajikan khas dan konsisten, membuat Warung Pecel Pandean menjadi jujugan, bahkan bagi mereka yang sudah puluhan tahun setia menjadi pelanggan.
Berlokasi di Jl. Brigjen Katamso No.28, Panggang IV, Kelurahan Panggang, Kecamatan Jepara, warung ini berada tak jauh dari Alun-alun Jepara I.
Suasananya sederhana, bersahaja, namun hangat. Khas makanan rumahan. Dari pagi hingga sore, aroma bumbu pecel dan kuah panas melekat.
Warung Pecel Pandean dirintis sejak era 1980-an oleh almarhumah Zubaidah. “1984 Ibu saya sudah mulai jualan. Konsisten sampai sekarang, saya generasi kedua,” tutur Ningsih (47), pemilik warung saat ini.
Setelah sang ibu meninggal dunia, Ningsih melanjutkan usaha bersama adiknya. Tak banyak yang diubah. Resep, cara memasak, hingga pilihan bahan tetap dipertahankan. Prinsipnya satu, rasa tidak boleh berubah.
Menu andalan yang paling diburu tentu saja lontong gebyur. Sajian ini disuguhkan dengan kuah panas, lontong yang empuk, dan siraman bumbu kacang yang sarat rasa.
Begitu piring tersaji, aroma brambang goreng langsung meresap, berpadu dengan wangi kacang sangrai dan rempah. Membuat lidah kemecer.
Sekali suap, rasa dari kuahnya langsung terasa, mak pyar. Setelah menyantap, gobyos.
Keistimewaan lontong gebyur di Warung Pecel Pandean terletak pada bumbu kacangnya. Dengan pelengkap udang dan kecambah, yang memberi rasa gurih sekaligus segar.
Teksturnya pun berlapis, lembut, renyah, dan khas. Meresap di dalam mulut. Berbeda dengan menu sop, yang biasa disajikan lebih sederhana, tanpa kecambah, hanya soun dan kol.
Soal tingkat kepedasan, pembeli bebas menentukan selera. “Masalah pedas bisa menyesuaikan,” kekeh Ningsih sambil tersenyum.
Tak hanya lontong gebyur, Warung Pecel Pandean juga menawarkan menu lain. Seperti horog-horog pecel, lontong pecel, hingga aneka bubur tersedia untuk mereka yang ingin pilihan berbeda. Ada pula serabi dan kolak yang cocok dinikmati baik hujan maupun cuaca panas.
Untuk minuman, warung ini punya sajian khas yang jarang ditemui, es pakel. Minuman berbahan mangga dengan rasa asam-asam ini terasa menyegarkan, menjadi penyeimbang sempurna setelah menyantap lontong ataupun pecel berbumbu kuat.
Yang membuat Warung Pecel Pandean tetap bertahan hingga kini adalah komitmen pada keaslian bahan. Di tengah maraknya penggunaan bumbu instan, Ningsih memilih jalan yang lebih sulit
“Kami tidak menggunakan bumbu instan. Semuanya asli. Rempah asli, brambang goreng asli, bawang dan segala macamnya asli,” terangnya.
Bahkan untuk bubur, mereka tidak menggunakan pemanis buatan. Gula murni menjadi pilihan utama. Untuk pecel, mereka hanya menggunakan kacang istimewa. Gula merah bermerek asli Cilacap juga dipilih demi menjaga kualitas rasa. “Tidak ada pemain buatan,” ujarnya menegaskan.
Di tengah naiknya harga bahan baku, Warung Pecel Pandean tetap berusaha menjaga harga agar terjangkau semua kalangan.
Satu piring lontong gebyur atau pecel dibanderol Rp 12 ribu. Aneka bubur dan kolak Rp 7 ribu. Gorengan pun ramah di kantong, mendoan dan bakwan Rp 1.000, tahu Rp 2.000, pisang goreng Rp 3.000.
Warung sendiri buka dari Senin hingga Sabtu pukul 09.00–16.00 WIB. Jika tanggal merah jatuh pada hari Sabtu, warung libur. Namun bila tanggal merah berada di tengah pekan, seperti Rabu atau Kamis, mereka tetap melayani pelanggan. Khusus Minggu, libur.
Di tengah persaingan kuliner yang kian ketat, Ningsih bersama sang adik hanya punya satu harapan. Teguh. “Walaupun sekarang banyak yang jualan, kami ingin tetap konsisten di rasa," ucapnya.
Justru dari situlah ingatan akan Warung Pecel Pandean. Bukan pada kemewahan tempat, melainkan pada kejujuran rasa, resep turun-temurun, dan kesetiaan menjaga tradisi.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Jepara, menyantap lontong gebyur di tepi Kali Wiso bukan sekadar makan, melainkan mencicipi resep legendaris yang masih hangat terjaga hingga hari ini.(fik)
Editor : Ali Mustofa