RADAR KUDUS - Kudus tidak hanya terkenal sebagai kota santri dan pusat sejarah Islam di Jawa, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner yang penuh arti.
Salah satunya adalah Lentog Tanjung, kuliner unik dari Kudus yang hingga saat ini masih terjaga dan disukai banyak orang.
Lentog Tanjung berasal dari Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
Kuliner ini dimulai dari inisiatif masyarakat lokal yang menjajakan lontong dengan sayur nangka muda (gori/tewel) dan tahu, sebagai alternatif nasi.
Hidangan sederhana itu kemudian berevolusi menjadi kuliner khas yang mengidentikkan dengan Kudus.
Sejarah Lentog Tanjung berkaitan erat dengan kisah penyebaran Islam oleh Sunan Kudus.
Dikatakan bahwa pada waktu itu, seorang santri Sunan Kudus mendirikan masjid di kawasan Tanjungkarang.
Akan tetapi, pembangunan dan kegiatan ibadah seringkali terhambat oleh suara warga yang menggiling padi di pagi hari.
Menyikapi situasi itu, Sunan Kudus mengimbau masyarakat untuk menghentikan sejenak kegiatan jualan nasi, demi menjaga ketenteraman ibadah dan dakwah.
Dari situ warga Desa Tanjung berinovasi, mengganti nasi dengan lontong, ditambah sayur nangka muda dan tahu.
Inovasi tersebut malah menciptakan hidangan baru yang kemudian dikenal sebagai Lentog Tanjung.
Nama Lentog Tanjung memiliki arti yang sederhana tetapi bermakna mendalam.
"Lentog" adalah sebutan masyarakat untuk lontong besar yang dimasak dengan dibungkus daun pisang, sedangkan "Tanjung" merujuk pada desa tempat asal kuliner ini.
Ciri khas Lentog Tanjung terletak pada lontongnya yang berukuran besar, bahkan disebut seukuran betis orang dewasa.
Lontong Dish ini disajikan dengan sayur gori, lodeh tahu dan tempe, serta sambal khas yang menambahkan cita rasa pedas dan gurih.
Editor : Ali Mustofa