Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sate Kerbau Kudus, Warisan Rasa dari Jejak Sunan Kudus

Zainal Abidin RK • Kamis, 23 Oktober 2025 | 00:09 WIB
Sate Kerbau.
Sate Kerbau.

KUDUS — Aroma daging yang terbakar di atas bara arang menyeruak di sekitar kawasan Menara Kudus. Di tengah hiruk-pikuk wisatawan dan peziarah, deretan pedagang sate kerbau terus menyalakan bara api tradisi kuliner yang telah bertahan ratusan tahun di tanah Wali.

Sate kerbau merupakan salah satu kuliner khas Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang hingga kini tetap menjadi ikon daerah tersebut.

Keunikan sajian ini bukan hanya pada bahan dasarnya yang berbeda dari sate pada umumnya, tetapi juga pada nilai sejarah dan filosofi yang menyertainya.

Sejarah mencatat, tradisi mengonsumsi daging kerbau bermula pada masa Sunan Kudus, salah satu dari Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa.

Beliau melarang pengikutnya menyembelih sapi sebagai bentuk toleransi terhadap umat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci.

Sebagai gantinya, masyarakat dianjurkan untuk mengonsumsi daging kerbau, dan dari situlah muncul berbagai olahan khas, termasuk sate kerbau.

Meskipun daging kerbau dikenal lebih keras dibanding sapi, pengolahan khas Kudus membuatnya lembut dan gurih.

Daging direndam terlebih dahulu dalam bumbu rempah seperti ketumbar, bawang putih, jahe, dan gula merah selama beberapa jam agar bumbu meresap.

Setelah itu, daging dibakar di atas arang kelapa hingga mengeluarkan aroma khas yang menggoda.

“Rahasia kelembutannya ada di proses perendaman dan jenis daging kerbau yang digunakan. Biasanya kami pakai daging dari kerbau muda,” ujar Slamet (56), penjual sate kerbau di kawasan Alun-Alun Kudus, saat ditemui Selasa (22/10).

Sate kerbau disajikan dengan bumbu kacang atau kecap manis, lengkap dengan taburan bawang goreng dan lontong hangat.

Rasanya manis, gurih, dan sedikit beraroma khas daging kerbau yang justru menjadi daya tarik tersendiri.

Bagi masyarakat Kudus, sate kerbau bukan sekadar makanan, melainkan simbol kearifan lokal dan toleransi antarumat beragama.

Tradisi ini menjadi pengingat bagaimana nilai-nilai perdamaian dan saling menghormati telah mengakar dalam kehidupan masyarakat sejak berabad-abad lalu.

“Setiap tusuk sate kerbau adalah cerita tentang sejarah dan kebersamaan,” ujar Hj. Nur Aini, pengelola rumah makan sate kerbau legendaris di Jalan Sunan Kudus. “Kami tidak hanya menjual makanan, tapi juga menjaga warisan budaya.”

Di tengah derasnya arus modernisasi dan munculnya berbagai kuliner cepat saji, sate kerbau tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Kudus.

Banyak wisatawan yang sengaja datang untuk mencicipi cita rasa otentik yang diwariskan turun-temurun ini.

Dengan harga mulai dari Rp25.000 per porsi, sate kerbau Kudus terus menjadi sajian wajib bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam tentang budaya dan sejarah kota yang dijuluki “Kota Santri” tersebut.

 

Editor : Zainal Abidin RK
#kuliner kudus #sunan kudus #Kudus #kerbau