KUDUS – Berawal dari keprihatinan terhadap rendahnya nilai jual sampah plastik, Benny Haryanto, 49, warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, mencoba menghadirkan inovasi sederhana. Ia merakit alat pengolah sampah plastik menjadi cairan yang diklaim menyerupai bensin dengan memanfaatkan barang-barang bekas.
Pegawai sekaligus pengelola Bank Sampah Karya Lestari yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Rendeng itu merakit sendiri perangkat pengolahan tersebut. Bahan yang digunakan antara lain kaleng bekas biskuit, kaleng obat nyamuk semprot, toples, botol, serta oli bekas sebagai bahan bakar untuk proses pemanasan.
Ide tersebut muncul karena sampah plastik yang disetorkan warga ke bank sampah masih memiliki nilai ekonomi relatif rendah jika hanya dijual. Benny kemudian mencari cara agar sampah tersebut bisa dimanfaatkan melalui proses pengolahan menjadi cairan minyak.
Baca Juga: Yamaha YE-01, Motocross Listrik Balap Pertama Yamaha, Disiapkan untuk Ajang MXEP
“Saya tertarik melakukan inovasi mengubah plastik ini menjadi bensin. Walaupun sampai saat ini masih dalam tahap percobaan,” kata Benny saat ditemui di Bank Sampah Desa Rendeng, Selasa (13/10).
Benny mengaku mempelajari cara mengolah plastik menjadi bahan bakar melalui media sosial, terutama YouTube dan Facebook. Berbekal informasi tersebut, ia mencoba merancang perangkat sendiri tanpa membeli mesin pirolisis komersial.
Proses perakitan alat memerlukan waktu sekitar dua minggu. Ia menyesuaikan bentuk dan fungsi setiap komponen dengan barang bekas yang tersedia di lingkungan sekitar.
Secara sederhana, alat tersebut bekerja dengan memanaskan plastik hingga menghasilkan uap. Uap kemudian dialirkan melalui pipa menuju bagian pendingin agar berubah menjadi cairan. Hasil pengolahan tahap pertama itu selanjutnya diproses kembali melalui penyulingan sederhana.
Dalam prosesnya, Benny menggunakan sampah plastik yang telah dibersihkan. Plastik dimasukkan ke dalam kaleng bekas biskuit yang berfungsi sebagai wadah pemanas.
Ketika dipanaskan, plastik menghasilkan uap yang dialirkan melalui pipa menuju perangkat pendingin dari kaleng bekas obat nyamuk semprot. Bagian tersebut dimodifikasi agar dapat menampung es untuk membantu menurunkan suhu uap.
“Ini saya lubangi untuk dimasukkan es. Fungsinya untuk mendinginkan uap supaya berubah menjadi cairan,” jelasnya.
Cairan yang terkumpul dari proses pertama masih berupa minyak mentah. Karena karakteristiknya belum diketahui secara pasti, Benny kemudian memanaskan kembali cairan tersebut melalui proses penyulingan lanjutan untuk memperoleh hasil yang menurutnya menyerupai bensin.
Dari percobaan yang dilakukan, satu kaleng bekas biskuit dapat menampung sekitar 0,3 kilogram sampah plastik dan menghasilkan kurang lebih 40 mililiter cairan. Namun, angka tersebut masih berdasarkan percobaan mandiri dan belum didukung pengukuran terstandar maupun pengujian laboratorium.
Benny menyebut hasil pengolahan dapat berbeda bergantung pada jenis plastik yang digunakan. Karena itu, ia masih berupaya mempelajari pengaruh bahan baku terhadap jumlah dan karakteristik cairan yang dihasilkan.
Untuk satu kali produksi, proses pemanasan plastik membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sementara penyulingan lanjutan memerlukan waktu sekitar 30 menit. Dengan demikian, keseluruhan proses berlangsung kurang lebih dua jam.
Meski telah menghasilkan cairan yang diklaim menyerupai bensin, Benny menegaskan bahwa inovasinya masih dalam tahap uji coba. Hasil pengolahan tersebut baru dicoba pada sepeda motor pribadinya dan belum digunakan secara luas oleh masyarakat.
Baca Juga: Perkuat Perlindungan Pekerja Keagamaan, BPJS Ketenagakerjaan Kudus Gandeng PC Pergunu
Uji coba terbaru dilakukan pada Selasa (13/10). Benny mencoba cairan hasil olahannya untuk perjalanan pulang-pergi dari lokasi bank sampah menuju balai desa dengan jarak total sekitar satu kilometer.
“Baru tadi pagi saya coba di motor. Ini masih uji coba,” ujarnya.
Percobaan tersebut menjadi langkah awal untuk mengetahui bagaimana cairan hasil pengolahan dapat digunakan pada kendaraan. Namun, pengujian dalam jarak pendek itu belum cukup untuk memastikan cairan tersebut memenuhi standar bensin, aman bagi mesin, atau layak digunakan sebagai bahan bakar secara berkelanjutan.
Pengujian laboratorium masih diperlukan untuk mengetahui komposisi kimia, mutu, dan keamanan produk. Pengujian lebih lanjut juga dibutuhkan guna menilai pengaruhnya terhadap kinerja dan ketahanan mesin kendaraan.
Selain itu, pemanasan plastik berpotensi menghasilkan gas dan uap berbahaya. Karena itu, pengembangan alat semacam ini perlu memperhatikan keselamatan kerja, pengendalian emisi, serta pencegahan kebakaran.
Benny berharap upayanya dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengeksplorasi pemanfaatan sampah plastik yang terkumpul di Bank Sampah Karya Lestari. Ia menilai berbagai inovasi perlu terus dicoba agar sampah yang selama ini bernilai rendah bisa memiliki manfaat lebih besar.
Meski demikian, menurut dia, penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan teknologi pengolahan. Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah juga perlu ditingkatkan.
Ia berharap warga mulai memisahkan sampah organik dan anorganik agar proses pengumpulan dan penanganan berikutnya menjadi lebih mudah.
Editor : Mahendra Aditya