Novel Goenawan Mohamad Diadaptasi Jadi Teater Lintas Media “Surti+Tiga Sawunggaling”

Muhammad Ulin Nuha • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 16:30 WIB
PENTAS: Teater Tilik Sarira Surakarta menampilkan pertunjukan lintas media “Surti+Tiga Sawunggaling” di Studio Teater Djarum Kudus, Sabtu (4/10).
PENTAS: Teater Tilik Sarira Surakarta menampilkan pertunjukan lintas media “Surti+Tiga Sawunggaling” di Studio Teater Djarum Kudus, Sabtu (4/10).

KUDUS – Teater Tilik Sarira Surakarta menggelar pertunjukan teater lintas media adaptasi novel Goenawan Mohamad berjudul “Surti+Tiga Sawunggaling”.

Pertunjukan ini memadukan permainan aktor, seni rupa panggung, musik, animasi, dan teknologi projection mapping sebagai upaya menghadirkan pengalaman teatrikal yang mempertemukan realitas panggung dengan dunia visual.

Pertunjukan ini merupakan pengembangan lanjutan dari garapan yang sebelumnya dipentaskan di Kota Palu dalam agenda Festival Teater Indonesia (FTI).

Pada pengembangannya kali ini, “Surti+Tiga Sawunggaling” dipentaskan di tiga kota. Meliputi Surakarta, Pekalongan, dan Kudus yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation.

Di Surakarta, pertunjukan digelar di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah pada 27 September. Selanjutnya, di Pekalongan di Gedung Olahraga dan Seni Universitas Pekalongan pada 2 Oktober, dan di Studio Teater Djarum Kudus pada 4 Oktober.

Baca Juga: Teater Lentera Angkat Kerusakan Laut Lewat Lakon Jarbuarong

Pertunjukan ini menghadirkan dua aktor utama, tiga aktor pendukung, serta tiga sosok burung sawunggaling yang diwujudkan melalui animasi.

Kehadiran sawunggaling menjadi salah satu elemen visual, sekaligus dramatik yang berkelindan dengan ingatan, mitos, trauma, dan pengalaman batin tokoh Surti.

Kisah itu juga berangkat dari riset Tilik Sarira pada kultur Batik Pekalongan dan cerita penciptaan motif Sawunggaling oleh Go Tik Swan, yang menjadi pijakan artistik dalam pengolahan dunia visual pertunjukan.

“Surti+Tiga Sawunggaling” berkisah tentang masa revolusi. Jen -yang diperankan Haekal- seorang pemimpin gerilya, terjebak dalam dunia gelap peperangan.

Di tengah situasi yang semakin kacau, ia lebih sibuk dengan kemenyan, siasat, dan kepercayaan terhadap kekuatan klenik daripada menjalankan perjuangan gerilyanya melawan Belanda.

Situasi ini membuat kelompoknya semakin rapuh dan akhirnya terjebak dalam hasutan serta sejumlah siasat licik yang dimainkan oleh serdadu Belanda.

Dan Surti -yang diperankan Palupi- istri Jen, harus menanggung luka dan kehilangan berlapis.

Setelah Niken, satu-satunya anak perempuan mereka, mati hanyut dibawa ombak, ia terus menghadapi kehilangan dengan caranya sendiri.

Dunia realitas dan mimpi terus terhubung pada Surti sejak awal dan akhir pertunjukan. Ia membatik, menjalani keseharian dalam penantian panjang, dan suara dentuman kekacauan dari luar.

Dalam situasi itu, Surti justru memperlihatkan keteguhan dan kesiapan mental yang berbeda dari Jen, komandan gerilya yang secara fisik berada di tengah peperangan.

Dengan pendekatan pertunjukan realis, adaptasi ini diolah oleh Sophiyah, sang sutradara melalui berbagai lapisan pendekatan sinematik.

Penonton merasakan fungsi panggung sebagai ruang yang dapat berubah melalui cahaya, proyeksi visual, musik, dan animasi.

Sejumlah dialog dan adegan berinteraksi dengan unsur arsitektur musik yang digarap Rahmat Hidayat yang sekaligus juga vokalis Tropical Bloom.

“Pertunjukan ini berkolaborasi dengan Dzaariq sebagai animator yang mengolah tiga sosok burung sawunggaling dalam bentuk animasi.

Juga menempatkan sebagai aktor dalam pertunjukan. Kehadiran ketiga burung itu turut menopang jalannya cerita serta membangun dunia dramatik yang bergerak di antara realitas dan alam mimpi Surti,” kata Sophiyah.

Baca Juga: Rojo Tikus” Guncang Demak, Teater Lingkar dan Sujiwo Tejo Tampilkan Pakeliran Satir Multidimensi

Sebagai sutradara, dia menawarkan pengemasan visual artistik yang mengambil kedekatan dengan atmosfer Indonesia pada dekade 1950-an.

Pendekatan artistik itu dikembangkan bersama Eko Pethel, yang memiliki ketekunan dalam dunia batik.

Pengetahuan dan pengalamannya terhadap batik menjadi salah satu fondasi visual pertunjukan. Sekaligus menghadirkan keterhubungan antara pengalaman sejarah dan pengalaman personal para tokoh, melalui bahasa estetika dari kebudayaan Indonesia.

Meski pertunjukan ini menawarkan beragam lapisan eksplorasi visual dan sinematik, unsur-unsur pertunjukan realis tetap dipertahankan sebagai fondasi utama.

Aktivitas membatik misalnya, menjadi bagian dari keseharian Surti, sekaligus elemen dramatik yang membawa penonton kembali pada tubuh, pekerjaan, dan kehidupan domestik.

“Aktivitas itu juga menjadi bagian penting dalam memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dan sejarah dapat hadir, melalui tindakan-tindakan sederhana di dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Lapisan visual pertunjukan juga dibangun melalui tata cahaya yang bekerja bersama dengan Rohmad Yuwono dan Fajar Okto.

Mereka membentuk atmosfer panggung dan permainan intensitas, arah, dan karakter cahaya, menjadi bagian dari dramaturgi visual yang memperkuat perubahan suasana dan pengalaman psikologis tokoh.

Sehingga penonton dapat merasakan, sekaligus masuk dalam dunia “Surti+Tiga Sawunggaling”. (lin)

Editor : Mahendra Aditya
Teater Tilik Sarira Surti Tiga Sawunggaling Goenawan Mohamad teater Kudus pertunjukan teater Kudus