KUDUS – Memelihara ikan predator awalnya hanya menjadi hobi bagi Muhammad Raka Satria, 23, warga Desa Besito, Kecamatan Gebog.
Namun, dari hobi tersebut, Raka kemudian mulai mengembangkan usaha dengan memelihara dan menjual berbagai jenis ikan predator.
Beragam ikan predator dipeliharanya, mulai dari catfish, arwana, pacu atau bawal, oscar, nemo, slayer, peacock, hingga hiu air tawar.
Ketertarikannya terhadap ikan predator sudah berlangsung cukup lama.
Menurut Raka, ikan disebut predator karena makanannya berupa ikan.
Beberapa jenis ikan predator juga memiliki sifat kanibal sehingga perlu diperhatikan saat dipelihara bersama ikan lainnya.
“Kalau ikan yang ukurannya kecil kalah makan, biasanya bisa menjadi lemas,” ujarnya.
Untuk pakan, Raka biasanya menggunakan ikan lele yang sudah dipotong.
Baca Juga: Influenza Meningkat: Kenali Bedanya dengan Selesma
Pemberian pakan dilakukan dua kali dalam sehari. Jumlah pakan yang diberikan juga dibuat lebih banyak dari jumlah ikan yang dipelihara.
Sebagai contoh, ketika memiliki sekitar 50 ekor ikan predator, Raka dapat menyiapkan sekitar 60 ekor lele kecil sebagai pakan.
Hal tersebut dilakukan agar ikan tidak kekurangan makanan.
Ukuran ikan yang dipeliharanya juga bermacam-macam. Mulai dari sekitar 5 sentimeter hingga mencapai 70 sentimeter.
Jika sudah berukuran besar, ikan tersebut biasanya dijual kepada pelanggan.
Namun, memelihara ikan predator juga memiliki sejumlah kendala.
Salah satunya adalah ikan lebih mudah terserang penyakit karena dipelihara di akuarium dan tidak berada di habitat aslinya.
Kondisi air menjadi salah satu hal yang cukup diperhatikan Raka.
Menurutnya, jumlah air dalam akuarium juga perlu disesuaikan dengan jenis ikan yang dipelihara.
Misalnya, pada akuarium berukuran 70 x 40 x 40 sentimeter, air dapat diisi sekitar 10 sentimeter untuk jenis ikan tertentu.
“Kalau tidak pakai heater biasanya lebih mudah sakit. Salah dalam memberikan makanan juga bisa menyebabkan ikan sakit,” katanya.
Untuk menjaga kondisi ikan, Raka menggunakan heater ketika diperlukan.
Ia juga menggunakan garam ikan sebagai salah satu perawatan. Selain itu, kondisi ikan dan air akuarium rutin diperhatikan.
Raka menyebut, ikan yang mulai sakit biasanya menunjukkan perubahan perilaku.
Di antaranya ikan terlihat lemas, hanya menggerakkan ekor, gerakan insang tidak normal, serta muncul bintik-bintik putih pada tubuh.
Kondisi air yang menjadi keruh juga dapat menjadi tanda adanya masalah pada akuarium.
Usaha Raka berawal dari kegiatan beternak ikan cupang secara grosiran pada akhir masa pandemi Covid-19.
Baca Juga: Harga Pangan 2 Oktober 2026: Cabai Rawit Merah Tembus Rp96.300 per Kilogram
Setelah itu, ia mulai menambah jenis ikan yang dipelihara, termasuk canna dan ikan predator.
“Sebenarnya memelihara predator sudah lama karena memang hobi. Ada yang sudah saya pelihara sekitar dua tahun,” ungkapnya.
Beberapa ikan predator yang dipeliharanya bahkan sudah mencapai ukuran sekitar 45 sentimeter, di antaranya RTF, fitbash, dan arwana.
Raka juga memelihara jenis ikan yang memiliki karakter agresif dan dapat menggigit ikan lain, seperti datz dan channa.
Selain ikan, Raka juga memiliki ketertarikan terhadap hewan lain. Ia memelihara iguana dan ular piton.
Bagi Raka, memelihara ikan predator tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang.
Hobi tersebut sekaligus menjadi cara untuk mempelajari karakter, makanan, dan perawatan berbagai jenis ikan yang kemudian dikembangkan menjadi usaha.
Editor : Ali Mustofa