KUDUS — Perjalanan H. Shofwan menuju kursi Kepala Desa Kandangmas berawal dari profesi yang jauh dari dunia pemerintahan.
Selama sekitar 15 tahun, ia bekerja sebagai sopir angkutan barang antarkota sebelum kemudian terlibat dalam kegiatan desa dan dipercaya masyarakat untuk memimpin Desa Kandangmas.
H. Shofwan menjalani profesi sebagai sopir angkutan barang sejak sekitar 1995 hingga 2010.
Selama bekerja, ia tidak hanya mengemudikan kendaraan, tetapi juga terbiasa menangani berbagai persoalan kendaraan, terutama kendaraan yang sudah berusia cukup tua.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya mendalami bidang otomotif dan permesinan pada 2010–2013.
Perjalanan H. Shofwan mulai mengarah ke kegiatan pemerintahan desa pada 2013.
Saat itu, ia terlibat dalam program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS).
Keterlibatan tersebut membuatnya semakin aktif dalam kegiatan di lingkungan desa.
Baca Juga: Profil Komjen Pol Suyudi Ario Seto, Sosok yang Pengganti Listyo Sigit sebagai Kapolri
Aktivitasnya di tengah masyarakat kemudian mendapat perhatian dari sejumlah warga dan rekan-rekan. Ia didorong untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa.
Dalam proses pencalonannya, H. Shofwan mengandalkan dukungan keluarga dan teman-teman sesama sopir, termasuk doa restu dari orang-orang terdekat.
Kepercayaan masyarakat akhirnya mengantarkan H. Shofwan menjadi Kepala Desa Kandangmas.
Ia telah menjalani dua periode kepemimpinan. Pada 2019, ketika masa jabatan sebelumnya berakhir, masyarakat kembali memberikan dukungan kepadanya.
Pada pemilihan tersebut, tidak terdapat calon lain yang maju.
Selama memimpin Kandangmas, H. Shofwan membawa visi untuk mewujudkan desa yang aman, maju, bersih, religius, dan berkelanjutan.
Visi tersebut diwujudkan dengan mendorong kerja sama antara pemerintah desa dan masyarakat dalam mengembangkan potensi yang dimiliki wilayah.
Salah satu potensi yang mendapat perhatian adalah Waduk Logung. Pembangunan waduk dimulai sekitar 2015 dan pada 2019 waduk telah penuh.
Kondisi tersebut kemudian membuka peluang baru bagi masyarakat Kandangmas, terutama melalui perkembangan sektor pariwisata.
Sebelum wisata Logung berkembang, sebagian masyarakat Kandangmas lebih banyak mengandalkan sektor pertanian.
Kehadiran kawasan wisata memberikan pilihan kegiatan ekonomi baru. Masyarakat mulai memanfaatkan peluang tersebut melalui berbagai usaha yang berkaitan dengan pariwisata dan jasa.
Perkembangan paling terlihat terjadi pada wisata perairan. Pada sekitar 2019, kegiatan wisata di Logung masih menggunakan perahu bermesin.
Memasuki 2022, penggunaan speedboat mulai dikembangkan sebagai salah satu wahana untuk wisatawan.
Jumlah speedboat kemudian terus bertambah seiring perkembangan aktivitas wisata.
Saat ini, jumlahnya mencapai sekitar 45 unit. Pertumbuhan tersebut menunjukkan munculnya kegiatan ekonomi baru yang memanfaatkan potensi perairan Waduk Logung.
Menurut H. Shofwan, pengembangan wisata tidak hanya diarahkan untuk mendatangkan wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan desa.
Sebagian hasil dari usaha wisata disisihkan sebagai kas yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan serta pengembangan usaha desa.
Baca Juga: Siapa Sosok Bimo Wijayanto yang Kabarnya Ditunjuk Menjadi Dirjen Pajak? Ini Biografi Singkatnya
Upaya tersebut membuat Waduk Logung memiliki peran lebih luas bagi masyarakat Kandangmas.
Kawasan yang sebelumnya menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur air tersebut kemudian berkembang menjadi ruang wisata sekaligus membuka peluang usaha bagi warga.
Perjalanan H. Shofwan dari sopir angkutan hingga menjadi kepala desa pun berjalan beriringan dengan perubahan yang terjadi di Kandangmas.
Dari pengalaman di jalan hingga mengelola pemerintahan desa, ia kini menghadapi tantangan untuk terus mengembangkan potensi Logung agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Editor : Ali Mustofa