KUDUS – Sebanyak 670 penari tampil serentak dalam pagelaran kolosal Tari Lajur Caping Kalo di Pendapa Kabupaten Kudus pada Sabtu (26/9).
Yang menargetkan pencatatan Rekor Museum RekorDunia Indonesia (MURI) untuk kategori pagelaran Tari Lajur Caping Kalo terbanyak.
Inisiatif terhadap pagelaran ini didasari atas upaya memperkenalkan kembali Caping Kalo sebagai salah satu warisan budaya khas Kudus.
Caping Kalo merupakan penutup kepala perempuan yang menjadi bagian dari busana adat Kudus.
Seiring berkurangnya jumlah perajin yang masih menekuni keterampilan menganyam bambu, keberadaan Caping Kalo semakin jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan lebih banyak hadir dalam kegiatan budaya maupun seremonial.
Berangkat dari kondisi tersebut, YKBN bersama Nojorono Kudus sejak tahun 2022 mulai menggali dan mendokumentasikan kembali sejarah serta nilai budaya Caping Kalo.
Dari proses observasi dan penelaahan nilai historis Caping Kalo yang panjang, lahir pemahaman bahwa menjaga Caping Kalo tidak cukup dilakukan dengan merekam ceritanya, tetapi juga menghadirkannya kembali di tengah masyarakat.
Salah satu ikhtiar yang kemudian berkembang adalah Tari Lajur Caping Kalo.
Terinspirasi dari perjalanan bambu yang diolah hingga menjadi sebuah caping, tari ini mengangkat keterampilan menganyam ke dalam bahasa gerak.
Setiap pementasan menjadi cara baru untuk mengenalkan kembali cerita yang selama ini hidup di balik kerajinan khas Kudus tersebut.
Semangat yang sama kemudian berkembang melalui kolaborasi bersama Pemerintah Kabupaten Kudus dalam pagelaran kolosal Tari Lajur Caping Kalo pada peringatan HUT Kota Kudus ke-477.
Sebanyak 670 penari dari berbagai latar belakang berkum pul dalam satu panggung, menghadirkan sebuah perayaan budaya yang ber tumbuh dari warisan lokal dan dijaga bersama oleh masyarakatnya.
Dukungan terhadap inisiatif ini turut terlihat dari kehadiran Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo, bersama Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dan jajaran Pemerintah Kabupaten Kudus dalam pagelaran tersebut.
CSR Department Head PT Nojorono Tobacco International Dimas Handoko mengatakan, pelestarian budaya membutuhkan ruang agar warisan yang lahir di masa lalu tetap dapat dikenali dan dirasakan relevansinya oleh generasi saat ini.
“Warisan budaya selalu memiliki nilai yang patut dijaga. Tantangannya bagi kita adalah bagaimana caranya sehingga warisan tersebut tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat. Bagi kami, Tari Lajur Caping Kalo menjadi salah satu cara untuk merawat nilai yang diwariskan dari masa lalu sekaligus memperkenalkannya kepada generasi hari ini. Ketika keduanya dapat berjalan beriringan, budaya bukan hanya terjaga, tetapi juga terus bertumbuh seiring waktu,” ujarnya.
Menurut Dimas, pagelaran kolosal ini menjadi kesem patan untuk memperluas perhatian masyarakat terhadap Caping Kalo dan cerita yang menyertainya.
“Caping Kalo lahir dari keseharian masya rakat Kudus, namun menyimpan cerita, keterampilan, dan nilai budaya yang jauh lebih besar dari fungsi awalnya. Tari Lajur menjadi salah satu cara untuk menghadirkan kembali cerita tersebut dalam bentuk yang lebih dekat dengan ma syarakat masa kini. Ketika se makin banyak orang mengenalnya, semakin besar pula peluang bagi warisan budaya ini untuk terus berkembang dan menginspirasi generasi berikutnya,” tutup Dimas. (*/lia/lin)
Editor : Ali Mustofa