Kuatkan Penalaran dan Memecahkan Permasalahan Lewat Festival Berpikir Komputasional 2026

Ali Mustofa • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 12:32 WIB
LATIH PENALARAN: Siswa mengikuti Festival Berpikir Komputasional 2026 di GOR Djarum Kudus. (DJARUM FOUNDATION UNTUK RADAR KUDUS)
LATIH PENALARAN: Siswa mengikuti Festival Berpikir Komputasional 2026 di GOR Djarum Kudus. (DJARUM FOUNDATION UNTUK RADAR KUDUS)

KUDUS - Penguatan keterampilan berpikir murid kian menjadi perhatian bagi pemangku kepentingan, guru, dan orang tua.

Di Kabupaten Kudus, pembangunan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah bagi murid ini didorong, salah satunya melalui penerapan berpikir komputasional di tingkat PAUD, sejak 2023. 

Djarum Foundation menginisiasi penguatan kompetensi guru, serta penerapan pembelajaran mendalam bagi murid, dengan keterlibatan orang tua.

Hadirnya Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI, yang dipadukan dengan literasi fisik, pun menjadi ruang untuk menstimulasi kapasitas murid sekaligus mendorong mereka untuk bergerak aktif.

Kemendikdasmen pun mendorong agar praktik baik yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini untuk ditularkan ke tempat-tempat lain. 

Berpikir komputasional berdampak positif terhadap pemahaman murid terkait proses penyelesaian masalah secara menyeluruh.

Melalui pembiasaan dalam pembelajaran, murid belajar tentang struktur dan penalaran masalah secara kontekstual dalam aktivitas sehari-hari, yang pada akhirnya turut berdampak pada peningkatan kapasitas literasi dan numerasi mereka. 

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto menyatakan, Festival Berpikir Komputasional 2026 ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Yaitu Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan kapasitas literasi, numerasi, dan STEM. 

”Praktik baik (untuk pelatihan dan pendampingan, serta festival) yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini perlu kita kembangkan dan tingkatkan skalanya ke tempat lain,” katanya.

Hingga kini pelatihan sudah menjangkau 46 PAUD/RA, 22 SD/MI, melibatkan 1.111 guru, 23.356 murid yang terlibat praktik berpikir komputasional menggunakan berbagai sarana seperti kartu pembelajaran, permainan papan, teka-teki, dan aktivitas gerak.

Adapun perkembangan kemampuan murid selama program pelatihan pun diukur melalui tantangan BEBRAS, inisiatif internasional dengan soal-soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang mengasah kemampuan berpikir komputasional dan pemecahan masalah.

Rata-rata skor murid pun meningkat dari 34,52 menjadi 88,34, yang mengindikasikan korelasi positif antara penerapan berpikir komputasional dan kemampuan murid.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus Anggun Nugroho menyatakan, berpikir komputasional bukan sekadar tentang coding atau mengenal komputer, tetapi cara berpikir yang mengajarkan anak untuk memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, melakukan abstraksi, dan menyusun langkah-langkah yang logis untuk menyelesaikan persoalan.

Berkaitan dengan itu, pemerintah daerah terus membina anak-anak sejak dini sebab generasi yang terbiasa berpikir runtut dan logis sejak kecil kelak akan menjadi generasi yang membawa kemajuan.

”Kami juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Djarum Foundation yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan, hingga Festival Berpikir Komputasional ini secara konsisten,” katanya.

Di sejumlah sekolah di Kabupaten Kudus, berpikir komputasional diterapkan secara kreatif, melalui sejumlah aktivitas sederhana yang diinisiasi Guru.

Adapun berbagai aktivitas itu dirancang untuk memenuhi prinsip berpikir komputasional, yang meliputi dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, serta algoritma. 

Di SD 3 Kalirejo misalnya, guru mengajak murid untuk menyusun rute paling efisien untuk berangkat ke sekolah.

Di SD Muhammadiyah Birrul Walidain, berpikir komputasional diintegrasikan ke dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) melalui kegiatan mengurai masalah, menemukan pola, dan mengelompokkan informasi pada topik sistem pernapasan.

Sementara itu, di SD 1 Barongan, guru menganalisis pola keterlambatan siswa untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan mencari solusi bersama. 

Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa menyatakan, pihaknya melihat berpikir komputasional sebagai keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dengan tangguh serta percaya diri.

”Mencermati sejumlah riset yang menyebut korelasi antara berpikir komputasional dengan kapasitas murid, yang tercermin di standar PISA, kami harap dalam 10-15 tahun mendatang, kemampuan murid seluruh sekolah di Kudus dalam asesmen PISA mencapai standar kompetensi setara dengan rata-rata OECD, sekaligus memiliki tingkat kebahagiaan dan kesehatan yang lebih tinggi daripada rata-rata,” ujarnya. (gal)

Editor : Ali Mustofa
literasi fisik berpikir komputasional djarum foundation disdikpora kudus gor djarum kudus