KUDUS – Sebanyak 34 pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di kawasan depan Museum Kretek Kudus mendatangi Pendapa Kudus untuk menyampaikan aspirasi kepada Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Kamis (17/9/2026).
Para pedagang datang untuk meminta kejelasan mengenai kabar penataan kawasan yang dikaitkan dengan kemungkinan relokasi PKL.
Mereka berharap aktivitas perdagangan di lokasi tersebut tetap dapat dipertahankan karena menjadi salah satu sumber penghasilan sehari-hari.
Ketua Paguyuban PKL Museum Kretek, Deddy Supriyadi, mengatakan pertemuan dengan bupati menjadi kesempatan bagi para pedagang untuk menyampaikan langsung kekhawatiran sekaligus aspirasi mereka.
”Ya Bupati Sam’ani menjelaskan PKL ditata agar lebih baik. Dan, meminta agar kebersihannya tetap dijaga. Alhamdulillah responsnya bagus. Kami sebagai PKL tetap bertanggung jawab, karena keinginannya tetap di sana berjualan, cari nafkah ,” ujarnya saat ditemui di Pendapa Kudus, kemarin (17/9) 2026.
Menurut Deddy, Bupati Sam’ani menjelaskan bahwa pemerintah daerah memang memiliki rencana melakukan penataan di kawasan tersebut.
Namun, penataan itu diarahkan agar lingkungan sekitar museum menjadi lebih baik, terutama dari sisi kebersihan dan kenyamanan.
Ia menyebut para pedagang pada prinsipnya siap mengikuti upaya penataan selama keberadaan mereka sebagai pelaku usaha tetap diperhatikan.
Deddy juga menegaskan bahwa selama berjualan di kawasan tersebut, para PKL memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Mereka berharap aktivitas ekonomi tetap bisa berjalan di lokasi yang selama ini menjadi tempat mencari nafkah.
Kekhawatiran para PKL muncul setelah beredar informasi mengenai rencana penataan kawasan Museum Kretek.
Wacana tersebut mencuat seiring adanya rencana pengelolaan museum oleh pihak ketiga atau investor.
Para pedagang mengaku sampai saat ini belum memperoleh pemberitahuan resmi secara tertulis mengenai kemungkinan lokasi baru apabila nantinya relokasi benar-benar dilakukan.
Karena itu, audiensi dengan bupati juga dimanfaatkan para pedagang untuk memperoleh kepastian mengenai arah kebijakan pemerintah daerah terhadap keberadaan mereka.
Plt Kepala Dinas Perdagangan Kudus Mohammad Fitriyanto menegaskan bahwa rencana pemerintah bukanlah penggusuran PKL.
Menurutnya, yang tengah dipersiapkan adalah penataan kawasan agar lingkungan depan Museum Kretek terlihat lebih rapi dan bersih.
Terlebih, kawasan tersebut merupakan salah satu bagian dari destinasi wisata yang diharapkan semakin menarik setelah dilakukan perbaikan atau renovasi.
Fitriyanto mengatakan pihaknya memahami kekhawatiran para pedagang yang selama ini sudah merasa nyaman menjalankan usaha di lokasi tersebut.
Namun, rencana penataan tetap perlu dilakukan untuk menyesuaikan kondisi kawasan ke depan.
Ia menegaskan keberadaan PKL yang selama ini berjualan di kawasan Museum Kretek tetap akan menjadi perhatian dalam penyusunan skema penataan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Abdul Halil menjelaskan bahwa konsep penataan kawasan Museum Kretek saat ini masih berada pada tahap kajian awal.
Menurutnya, pemerintah belum menetapkan secara final seperti apa bentuk penataan yang nantinya diterapkan.
Berbagai masukan akan dipertimbangkan sebelum skema tersebut dirumuskan.
”Kalau memang ada yang kurang pas dan sebagainya nanti akan dievaluasi untuk ditata lagi,” ujarnya.
Pembahasan selanjutnya direncanakan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, dinas yang membidangi perdagangan, Disbudpar, investor, hingga perwakilan PKL.
Seluruh pihak nantinya diharapkan dapat duduk bersama untuk membicarakan bentuk penataan yang tetap memperhatikan kepentingan kawasan wisata sekaligus keberlangsungan usaha para pedagang.
Jika dalam pelaksanaannya terdapat bagian yang dinilai kurang sesuai, evaluasi dan penyesuaian tetap terbuka untuk dilakukan.
Penataan kawasan Museum Kretek diharapkan tidak hanya memperbaiki tampilan lingkungan, tetapi juga tetap memberikan ruang bagi aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Kudus ingin kawasan tersebut tampil lebih bersih, tertib dan nyaman sehingga keberadaan museum sebagai salah satu tujuan wisata dapat semakin didukung.
Di sisi lain, para PKL berharap proses penataan nantinya tetap mempertimbangkan keberadaan mereka yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas berdagang di kawasan tersebut.
Dengan melibatkan pedagang sejak tahap pembahasan, pemerintah diharapkan dapat menemukan skema yang mampu menyeimbangkan kebutuhan penataan kawasan wisata dengan kepentingan ekonomi masyarakat. (san)
Editor : Ali Mustofa