Angkat Cerita Gebyar Dandangan, SMP 1 Jati Juara I Karnaval Budaya Kudus

Redaksi Radar Kudus • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 17:25 WIB
PERFORMANCE: Murid SMP 1 Jati Kudus saat tampil acara Karnaval Budaya Kabupaten Kudus. Menampilkan cerita Gebyar Dandangan.(SMP 1 JATI UNTUK RADAR KUDUS)
PERFORMANCE: Murid SMP 1 Jati Kudus saat tampil acara Karnaval Budaya Kabupaten Kudus. Menampilkan cerita Gebyar Dandangan.(SMP 1 JATI UNTUK RADAR KUDUS)

KUDUS — Tradisi lokal Kabupaten Kudus kembali diangkat dalam sebuah karya seni tari. SMP 1 Jati Kudus menghadirkan Tari Gebyar Dandangan dalam rangka Karnaval Budaya Kabupaten Kudus 2026, menyambut Hari Jadi ke-477 Kota Kudus.

Guru Seni Budaya SMP 1 Jati Kudus yang dipercaya menciptakan karya tersebut Tania Artpriend Novadella mengatakan, Tari Gebyar Dandangan merupakan karya sekolah yang dibuat dengan mengangkat tradisi lokal Kudus.

Proses penciptaan karya tersebut tidak dilakukan secara instan. Untuk karya awal yang digunakan dalam FLS3N 2026, proses pembuatannya bahkan berlangsung lebih dari satu bulan.

“Kalau untuk pembuatannya memang lama, lebih dari satu bulan. Akan tetapi, ketika akan ditampilkan dalam kegiatan ini, kami ringkas menjadi tiga menit,” ujar Tania, kemarin (15/9) 2026.

Pemangkasan durasi menjadi tantangan tersendiri. Sebab, Tari Gebyar Dandangan pada versi aslinya memiliki durasi sekitar enam menit. Sedangkan penampilan dalam Pesta Rakyat Peringatan Hari Jadi Kota Kudus ke-477 dibatasi maksimal tiga menit.

Menurutnya, meski durasi dipangkas, sejumlah bagian penting dalam cerita tetap dipertahankan. Setidaknya ada tiga poin utama yang ingin disampaikan melalui tarian tersebut, yakni kegembiraan masyarakat Kudus menjelang tradisi Dandangan, doa dan ungkapan syukur sebelum tradisi dimulai. Serta gambaran masyarakat yang kemudian dapat kembali berdagang.

“Memang ada gerakan yang hilang karena harus diringkas. Tetapi poin-poin terpentingnya tetap kami ambil,” jelasnya.

Persiapan penampilan untuk Pesta Rakyat dilakukan sekitar dua minggu. Selain membentuk kepanitiaan, pihak sekolah juga melakukan seleksi penari, terutama dari siswa kelas VII dan VIII. Beberapa siswa kelas IX juga dilibatkan.

Tantangan lainnya muncul karena jumlah personel yang cukup banyak. Jika karya awal menggunakan personel lebih sedikit, dalam penampilan kali ini jumlah penari mencapai sekitar 40 orang.

“Kalau disamakan dengan lima personel dengan gerakan yang susah, sangat tidak memungkinkan untuk persiapan dua minggu. Jadi kami sederhanakan gerakannya, tetapi tidak meninggalkan khas-khas dari tradisi Gebyar Jendangan,” katanya.

Sementara itu Kepala SMP 1 Jati Sumaryatun menambahkan, dalam proses kreatif seluruh konsep tari, termasuk musik, dipercayakan kepada guru Seni Budaya tersebut.

Namun, untuk kebutuhan karnaval dan visualisasi panggung, sekolah melibatkan tim karena membutuhkan properti dan elemen pendukung lainnya.

Untuk memperkuat pemahaman terhadap tradisi yang diangkat, pihak sekolah juga tidak hanya mengandalkan informasi dari sumber tertulis. Mereka melakukan penelusuran sejarah dan bertanya kepada pihak yang memahami tradisi tersebut.

Bahkan, sebelum mengangkat tradisi dalam karya seni, pihaknya sempat sowan kepada juru kunci untuk meminta izin dan berdoa bersama.

“Kami menelusuri dulu sejarahnya seperti apa. Kami juga tanya-tanya. Jadi tidak secara instan langsung jadi dan menghasilkan juara satu. Memang ada prosesnya,” ungkapnya.

Kostum yang digunakan para penari juga disesuaikan dengan konsep karya. Nuansa hijau dipilih untuk menonjolkan kesan gebyar dan pesta rakyat, bukan sekadar menampilkan simbol-simbol keagamaan.

Melalui karya tersebut, SMP 1 Jati berharap tradisi lokal Kudus tidak hanya dikenal melalui kegiatan seremonial, tetapi juga dapat terus hidup melalui kreativitas generasi muda. Karya yang sebelumnya membawa SMP 1 Jati meraih prestasi di FLS3N 2026 itu kini kembali ditampilkan dalam Pesta Rakyat Kabupaten Kudus. Sebagai bentuk upaya mengenalkan dan merawat tradisi daerah melalui seni tari. (san)

Editor : Mahendra Aditya
smp 1 jati tari gebyar dandangan karnaval budaya Kudus