KUDUS - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau panjang yang berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah.
Salah satu persiapan yang dilakukan adalah menyiagakan puluhan kendaraan tangki air dan armada pemadam kebakaran untuk menghadapi ancaman kekurangan air bersih sekaligus potensi kebakaran lahan.
Sebanyak sekitar 37 unit kendaraan tangki air dan pemadam kebakaran disiapkan untuk mendukung penanganan apabila kondisi kekeringan semakin meluas.
Armada tersebut nantinya dapat digunakan untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat sekaligus merespons apabila terjadi kebakaran lahan selama musim kemarau.
Langkah tersebut dilakukan Pemkab Kudus menyusul kondisi kemarau berkepanjangan yang dampaknya mulai dirasakan masyarakat.
Fenomena yang disebut sebagai El Nino Godzilla turut menjadi perhatian pemerintah daerah dalam meningkatkan kesiapsiagaan.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan terus diperkuat seiring berlangsungnya musim kemarau yang cukup panjang.
Menurutnya, penanganan persoalan air tidak hanya mengandalkan armada milik pemerintah daerah.
Sejumlah pihak turut dilibatkan agar distribusi air bersih kepada masyarakat dapat dilakukan secara cepat apabila dibutuhkan.
“Selain yang diwaspadai sebelumnya, saat ini kita fokus pada awas kekeringan. Besok (Jumat hari ini) kami merencanakan pelaksanaan salat Istisqa bersama warga,” kata Sam’ani.
Ia menjelaskan, sekitar 37 unit kendaraan tangki air dan pemadam kebakaran telah disiagakan.
Armada tersebut merupakan gabungan dari berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan kondisi darurat di Kabupaten Kudus.
Mulai dari TNI, Polri, BPBD, PDAM hingga pihak swasta turut mengambil bagian dalam kesiapan menghadapi kemungkinan krisis air dan kebakaran lahan.
Di tengah ancaman kekeringan, Sam’ani memastikan kondisi ketersediaan air bersih di Kabupaten Kudus saat ini masih relatif aman dan mencukupi.
Apabila nantinya terdapat wilayah yang mengalami kekurangan air, distribusi akan dilakukan dengan dukungan sejumlah depo pengisian air.
Pemerintah daerah juga akan mengandalkan kontribusi perusahaan yang berada di wilayah Kabupaten Kudus untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dengan pola tersebut, pemerintah berharap pasokan air bersih dapat tetap menjangkau warga yang terdampak meskipun musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Selain memperkuat kesiapan armada dan memastikan ketersediaan pasokan air, Pemkab Kudus juga telah memastikan anggaran untuk penanganan tanggap darurat bencana berada dalam kondisi aman.
Anggaran tersebut disiapkan sebagai langkah antisipasi apabila dampak kekeringan semakin meluas dan membutuhkan penanganan lebih besar.
Dengan dukungan anggaran, pemerintah dapat lebih cepat memenuhi kebutuhan masyarakat ketika kondisi darurat terjadi.
Kesiapan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah agar persoalan kekeringan tidak berkembang menjadi krisis yang lebih berat di tengah masyarakat.
Upaya menghadapi musim kemarau di Kudus tidak hanya dilakukan melalui langkah teknis.
Pemerintah daerah bersama masyarakat juga mengambil pendekatan keagamaan dengan melaksanakan salat Istisqa, yakni salat untuk memohon kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.
Salat Istisqa dilaksanakan pada Kamis (4/9) di Pendopo Kudus. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan.
Sam’ani berharap doa yang dipanjatkan bersama dapat menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi tersebut.
Ia juga berharap hujan yang turun nantinya membawa manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
“Kita memanjatkan doa kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan yang membawa rahmat dan berkah, bukan hujan yang mendatangkan bencana,” harapnya.
Dengan menyiagakan puluhan armada, memperkuat koordinasi lintas lembaga, memastikan pasokan air serta menyiapkan anggaran tanggap darurat, Pemkab Kudus berupaya menghadapi ancaman kekeringan sejak dini.
Pemerintah berharap berbagai langkah tersebut dapat membantu masyarakat melewati musim kemarau sekaligus mengurangi risiko yang mungkin muncul, termasuk kekurangan air bersih dan kebakaran lahan.
Di sisi lain, kesiapan tersebut juga menjadi pengingat bahwa kondisi kemarau panjang membutuhkan kerja bersama.
Pemerintah, aparat, dunia usaha dan masyarakat perlu saling mendukung agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi hingga musim hujan kembali datang. (gal)
Editor : Ali Mustofa