KUDUS - Kekeringan dan keterbatasan air bersih masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus.
Hingga saat ini, warga di empat desa yang tersebar di tiga kecamatan masih membutuhkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah Kabupaten Kudus bersama sejumlah pihak terus melakukan pendistribusian air bersih ke lokasi yang terdampak.
Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, terdapat empat desa yang masih masuk dalam wilayah terdampak, yakni Desa Glagahwaru, Desa Colo, Desa Kedungdowo, dan Desa Setrokalangan.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus Eko Hari Djatmiko melalui Kasi Kedaruratan Ahmad Munaji mengatakan, pengiriman air bersih masih terus dilakukan untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Distribusi terbesar sejauh ini dilakukan ke Desa Glagahwaru. Dari catatan BPBD, bantuan air bersih yang telah dikirim ke desa tersebut mencapai 753.500 liter.
Sementara itu, Desa Setrokalangan telah menerima distribusi sebanyak 122.500 liter, Desa Colo mendapatkan 18.000 liter, dan Desa Kedungdowo sebanyak 20.000 liter.
Jika seluruh wilayah digabungkan, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai 914.000 liter.
“Paling banyak kami kirimkan di Desa Glagahwaru. Total air bersih yang didistribusikan ke semua wilayah 914.000 liter air bersih,” kata Ahmad.
Kondisi kekeringan tersebut berdampak langsung terhadap ribuan warga.
Desa Glagahwaru menjadi wilayah dengan jumlah penduduk terdampak paling banyak, yakni mencapai 606 kepala keluarga (KK) atau 1.695 jiwa.
Di Desa Colo, terdapat 20 KK atau 152 jiwa yang mengalami dampak kekeringan. Kemudian di Desa Setrokalangan, tercatat 94 KK atau 246 jiwa terdampak.
Sedangkan Desa Kedungdowo mencatat 91 KK atau 295 jiwa yang membutuhkan bantuan air bersih.
Jika seluruhnya dihitung, kekeringan di empat desa tersebut telah berdampak terhadap 811 KK atau 2.316 jiwa yang tersebar di tiga kecamatan.
Selain mendistribusikan air menggunakan armada pengiriman, BPBD Kudus juga menyiapkan tandon sebagai tempat penampungan air bersih di sejumlah titik.
Pemerintah desa setempat turut menyediakan fasilitas serupa untuk memudahkan warga mendapatkan air.
Di Desa Glagahwaru, tersedia 10 unit tandon dengan kapasitas yang beragam, mulai dari 250 liter hingga 5.000 liter.
Sementara di Desa Colo terdapat satu tandon berkapasitas 5.000 liter. Desa Setrokalangan memiliki empat tandon dengan kapasitas antara 2.000 hingga 5.000 liter.
Adapun di Desa Kedungdowo telah disediakan satu tandon dengan kapasitas 5.000 liter.
Keberadaan tandon tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan krisis air bersih, terutama untuk menampung pasokan yang dikirimkan dan kemudian dimanfaatkan warga secara bertahap.
Dengan masih terdampaknya ribuan warga, pendistribusian air bersih menjadi langkah penting untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat selama kondisi kekeringan berlangsung.
Pemerintah daerah bersama BPBD dan pemerintah desa terus berupaya memastikan pasokan air dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga yang kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Data BPBD Kudus menunjukkan, persoalan kekeringan di wilayah tersebut tidak hanya menyangkut keterbatasan sumber air, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar 2.316 jiwa yang tersebar di empat desa.
Karena itu, penyaluran air bersih dan penyediaan tandon menjadi salah satu upaya yang terus dilakukan selama kondisi kekeringan masih terjadi. (gal)
Editor : Ali Mustofa