Bupati Kudus Sebut Jembatan Setrowaru Jantung Ekonomi

Andika Trisna Saputra • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 20:24 WIB
TINJAU: Bupati Kudus Sam’ani Intakoris meninjau progres pembangunan Jembatan Gantung Setrokalangan-Kedungwaru, Jumat (28/8). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
TINJAU: Bupati Kudus Sam’ani Intakoris meninjau progres pembangunan Jembatan Gantung Setrokalangan-Kedungwaru, Jumat (28/8). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KALIWUNGU – Pembangunan Jembatan Gantung Setrokalangan-Kedungwaru terus dikebut.

Infrastruktur yang menghubungkan Kabupaten Kudus dan Demak tersebut diharapkan menjadi jalur alternatif penting bagi mobilitas masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian lintas wilayah.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menilai keberadaan jembatan tersebut telah lama menjadi harapan masyarakat di kedua kabupaten.

Sebab, akses itu tidak hanya memudahkan perjalanan warga, tetapi juga menunjang aktivitas para pekerja, buruh pabrik, hingga petani.

“Ini cita-cita masyarakat Kudus dan Demak, jembatan ini jadi jantung ekonomi pekerja, buruh pabrik, hingga petani. Semoga bisa bermanfaat dan mendukung perekonomian,” ujar Sam’ani saat meninjau pembangunan Jembatan Setrowaru di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Jumat (28/8).

Menurutnya, pembangunan jembatan menjadi langkah strategis untuk memperlancar konektivitas masyarakat yang beraktivitas di wilayah Kudus maupun Demak.

Selama ini, warga yang menggunakan jalur tersebut harus menempuh akses memutar untuk menuju wilayah tujuan.

Sam’ani menyebut aktivitas masyarakat di jalur tersebut cukup tinggi.

Diperkirakan sekitar 6.000 hingga 7.000 pengguna sepeda motor melintasi kawasan tersebut setiap hari.

“Ini sangat strategis karena mobilitas masyarakat cukup tinggi. Banyak pekerja dan petani yang membutuhkan akses ini,” katanya.

Karena itu, Pemkab Kudus berkomitmen ikut mengawal proses pembangunan agar berjalan sesuai target.

Pengawasan akan dilakukan bersama pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kepolisian, serta pihak-pihak terkait.

Sam’ani juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, yang merealisasikan pembangunan jembatan tersebut.

Dia berharap setelah rampung, jembatan dapat segera dimanfaatkan masyarakat sehingga memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi warga di dua kabupaten.

Sementara itu, Direktur Teknis Lapangan BBWS Pemali Juwana Nisar Suci Raharjo menjelaskan, pembangunan Jembatan Setrowaru merupakan bagian dari proyek Sungai Wulan Paket 3.

Anggaran khusus untuk pembangunan jembatan tersebut mencapai sekitar Rp 10 miliar yang bersumber dari Kementerian Pekerjaan Umum (Kemenpu).

Nisar mengatakan pekerjaan telah berlangsung sekitar tiga bulan.

Pada tahap awal, kontraktor mengerjakan bagian abutment atau struktur penyangga jembatan yang menggunakan beton bertulang.

Setelah struktur penyangga rampung, pekerjaan dilanjutkan dengan pemasangan struktur utama berupa lempeng baja dengan konsep jembatan gantung.

“Target kami, pembangunan jembatan ini sudah selesai pada akhir tahun 2026,” kata Nisar.

Jembatan tersebut dirancang khusus untuk kendaraan roda dua.

Dengan lebar sekitar 1,8 meter, konstruksi jembatan tidak memungkinkan kendaraan roda empat melintas.

“Jembatan ini memang diperuntukkan bagi pengendara motor. Karena lebarnya sekitar 1,8 meter, kendaraan roda empat tidak bisa melintas,” jelasnya.

Secara keseluruhan, panjang jembatan mencapai sekitar 180 meter.

Adapun bentang efektif jembatan sekitar 110 meter.

Pembangunan juga dikebut untuk mengantisipasi puncak musim penghujan.

Kawasan tersebut diketahui menjadi salah satu wilayah yang kerap terdampak banjir.

Meski demikian, Nisar memastikan konstruksi telah dirancang dengan mempertimbangkan kondisi banjir dan sedimentasi sungai.

Elevasi jembatan dibuat sekitar enam meter dari muka air banjir.

“Kalau setiap tahun terjadi sedimentasi sekitar 10 sampai 20 sentimeter, berdasarkan perhitungan kami masih terdapat ruang aman sekitar tiga sampai empat meter,” terangnya.

Lebih lanjut, pembangunan Jembatan Setrowaru merupakan salah satu bagian dari proyek normalisasi Sungai Wulan Paket 3.

Nilai keseluruhan proyek tersebut mencapai sekitar Rp 350 miliar dengan target penyelesaian pada akhir 2027.

Bagi masyarakat, jembatan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi infrastruktur penghubung.

Keberadaannya juga diharapkan memangkas waktu tempuh dan memperlancar aktivitas ekonomi warga Kudus-Demak.

Yunis Setianti (32), warga Kedungwaru Lor, Kecamatan Karanganyar, Demak, menyambut baik pembangunan jembatan tersebut.

Menurutnya, jalur itu selama ini menjadi akses penting bagi warga yang bekerja maupun menjalankan aktivitas sehari-hari di kedua kabupaten.

“Kalau melewati jalur ini, perjalanan bisa lebih singkat sekitar 10 menit dibandingkan harus memutar melalui Jembatan Tanggulangin. Kami berharap pembangunannya bisa segera selesai dan digunakan,” ujarnya. (dik)

Editor : Andika Trisna Saputra
pemkab kudus progres jembatan pembangunan bupati kudus